?>
BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Diekspor ke China, Pesantren Binaan BI Sultra Kini Jadi Pemasok Singkong Industri Tepung Tapioka

×

Diekspor ke China, Pesantren Binaan BI Sultra Kini Jadi Pemasok Singkong Industri Tepung Tapioka

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Pondok Pesantren Al-Bukhari Wesalo, Kabupaten Kolaka Timur, yang merupakan pesantren binaan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra), kini masuk dalam rantai pasok industri tepung tapioka yang produknya telah menembus pasar ekspor China.

Pesantren tersebut menjadi mitra PT Agri Cassava Makmur (ACM), industri pengolahan tepung tapioka yang beroperasi di Desa Landono, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Melalui kerja sama ini, sekitar 200 hektare lahan disiapkan untuk budidaya singkong yang hasilnya diarahkan memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

Peluang pengembangan komoditas singkong itu semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar ekspor. Pada 10 September 2026, PT Agri Cassava Makmur tercatat telah melakukan ekspor perdana sebanyak 900 ton tepung tapioka dari Kendari ke Kota Dalian, China.

Manajer Operasional PT Agri Cassava Makmur, Nurasifa mengatakan ekspor perdana tersebut baru menjadi awal karena permintaan dari buyer China mencapai sekitar 3.000 ton tepung tapioka setiap bulan.

“10 September kemarin kita sudah melakukan ekspor perdana tepung tapioka dari Kendari ke Dalian, Cina. Itu sudah 900 ton tepung tapioka. Permintaan dari buyer Cina itu sekitar 3.000 ton satu bulan,” kata Nurasifa.

Besarnya permintaan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan produksi, pabrik membutuhkan sekitar 200 hingga 300 ton singkong setiap hari, sementara pasokan bahan baku yang tersedia saat ini belum sepenuhnya mencukupi.

Kondisi itu mendorong ACM memperluas kemitraan dengan petani, kelompok masyarakat hingga pesantren. Salah satunya melalui kerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Bukhari Wesalo yang dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pengembangan dan suplai bahan baku singkong.

Baca Juga :  Terbelit Masalah Ekonomi, Libethy Tak Menyangka Sandang Gelar Wisudawan Terbaik UHO

Penandatanganan MoU berlangsung dalam rangkaian Forum Ekonomi Sulawesi Tenggara (Forkestra) 2026 yang digelar BI Sultra, Senin (5/10/2026). Prosesi tersebut disaksikan Wakil Gubernur Sultra Ir Hugua dan Kepala Perwakilan BI Sultra Edwin Permadi.

Kerja sama tersebut difasilitasi BI Sultra sebagai bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan industri dengan potensi ekonomi pesantren yang tergabung dalam Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (HEBITREN).

Ponpes Al-Bukhari Wesalo sendiri merupakan masuk dalam ekosistem Hebitren BI Sultra. Pesantren tersebut menyiapkan sekitar 200 hektare lahan yang dikembangkan untuk budidaya singkong. Hasil panennya kemudian diarahkan memenuhi kebutuhan bahan baku PT Agri Cassava Makmur.

Nurasifa mengatakan lahan tersebut diharapkan dapat terus diperluas sehingga kontribusi pesantren terhadap kebutuhan singkong industri juga semakin besar.

“Mereka menyiapkan lahan di 200 hektar, mudah-mudahan sampai seterusnya sampai seluas-luasnya,” ujarnya.

Bagi ACM, keterlibatan pesantren menjadi langkah penting untuk memperkuat sektor hulu setelah perusahaan memperoleh akses ke pasar internasional. Apalagi, perusahaan sebenarnya telah memproduksi tepung tapioka sejak September 2024, tetapi pada tahap awal produksinya masih menyasar pasar domestik.

“Ini sebenarnya sudah produksi dari September 2024, tapi masih domestik. Sekarang kita sudah dapat buyer dari China, makanya tahun ini baru mulai ekspor,” jelas Nurasifa.

Seiring terbukanya pasar baru tersebut, kebutuhan bahan baku ikut meningkat. Namun, pasokan singkong yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan produksi pabrik secara optimal.

Baca Juga :  Karhutla Mengintai! Hampir Seluruh Sultra Masuk Zona Sangat Mudah Terbakar, 117 Titik Api Terdeteksi

“Belum bisa terpenuhi. Kita kan kurang bahan baku, jadinya kita coba sosialisasi juga sama petani-petani yang lain,” katanya.

Karena itu, perusahaan terus membuka peluang kemitraan dengan petani dan kelompok masyarakat yang ingin mengembangkan budidaya singkong. Dengan pola tersebut, petani memiliki pasar yang lebih jelas, sementara industri mendapatkan sumber bahan baku yang lebih berkelanjutan.

Untuk saat ini, ACM membeli singkong dengan harga sekitar Rp1.250 per kilogram. Harga tersebut tidak bersifat kaku karena perusahaan menyatakan siap mengikuti perkembangan harga pasar.

“Harganya Rp1.250 per kilo untuk sekarang, tapi kita bisa mengikuti harga pasar. Misalnya harga pasarnya tinggi, kita mengikuti harga pasar,” ujar Nurasifa.

Kemitraan antara pesantren dan industri ini tidak sekadar menjawab kebutuhan bahan baku. Lebih jauh, kerja sama tersebut mempertemukan potensi lahan dan tenaga produksi di sektor hulu dengan kapasitas pengolahan industri di hilir.

Singkong yang dihasilkan petani dan pesantren tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Bahan tersebut diolah menjadi tepung tapioka, kemudian dipasarkan hingga ke luar negeri. Dengan begitu, komoditas lokal memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Pola tersebut sejalan dengan implementasi ekonomi hijau yang terus didorong pemerintah, dengan sektor pertanian dan pangan menjadi salah satu fondasi penting pembangunan. Pengembangan komoditas lokal tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga diperkuat melalui pengolahan dan perluasan akses pasar.

Baca Juga :  LPS 'Peduli' Sambut HUT ke-21: Sambagi Lima Daerah di Sulsel, Layani Cek Kesehatan Gratis & Donor Darah

Dari sisi ekonomi, aktivitas tersebut menciptakan efek berantai yang melibatkan petani, tenaga kerja, pengangkutan, pengolahan hingga berbagai usaha pendukung lainnya. Semakin besar produksi dan pasar yang terbentuk, semakin luas pula perputaran ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

Nurasifa menilai posisi ACM saat ini sudah cukup kuat di sektor hilir karena perusahaan telah memiliki buyer ekspor. Tantangan yang masih perlu diperkuat adalah sektor hulu, terutama ketersediaan singkong untuk mengejar permintaan pasar.

“Hilirnya sudah kuat, kita sudah dapat buyer ekspor. Hulunya kan kurang. Jadi harapannya mudah-mudahan dari MoU ini Sultra maju dari ekspornya,” tuturnya.

Ia berharap kerja sama dengan Ponpes Al-Bukhari Wesalo dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang dan mendorong semakin banyak lahan serta petani masuk dalam pengembangan komoditas singkong.

Menurutnya, peningkatan kapasitas ekspor industri tepung tapioka seharusnya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menjadi bagian penting dalam proses produksi.

“Semoga hari ini kita tidak hanya tanda tangan kertas. Hari ini kita tanda tangan harapan. Harapannya semoga ACM bisa ekspor lebih banyak dari singkongnya pesantren-pesantren,” kata Nurasifah.

Lewat kolaborasi dan kemitraan strategis antara pesantren, petani dan industri, ekspor tepung tapioka diharapkan tidak hanya menjadi capaian perusahaan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal di Sultra.

“Untuk petani juga semuanya, petani-petani bisa makmur. Kami juga berterimaksih ke BI yang sudah memfasilitasi kerjasama ini” pungkasnya. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>