LAJUR.CO, KENDARI – Wajah cantik penari asal Kota Kendari, Alya Zauliya Zahra, menghiasi panggung Closing Ceremony FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Senin (5/10/2026).
Alya menjadi satu-satunya penari asal Sulawesi Tenggara (Sultra) dari 31 penari yang dipercaya tampil pada pertunjukan penutup ajang sepak bola tersebut.
Penari muda ini merupakan jebolan SMPN 9 Kendari dan SMAN 4 Kendari. Kini, Alya tengah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Kesempatan tampil di panggung FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi pengalaman istimewa bagi Alya. Ia mengaku bangga, senang sekaligus terharu bisa membawa nama Sultra ke panggung bergengsi tersebut.
“Perasaan saya sangat bangga pastinya, senang dan terharu karena bisa tampil di Closing Ceremony FIFA ASEAN Cup 2026,” kata Alya kepada awak Lajur.co, Kamis (8/10/2026).
Alya mendapat kesempatan tersebut melalui kolaborasi panitia FIFA ASEAN Cup 2026 bersama EkosDanceCompany.
Bersama 30 penari lain, Alya membawakan pertunjukan kolaboratif yang mengangkat tiga kekayaan budaya Nusantara, yakni Jawa, Bali, dan Kalimantan.
Pertunjukan dibuka lewat Bedayan Loro Blonyo, representasi budaya Jawa yang menggambarkan pasangan, keseimbangan, keharmonisan, serta kesuburan.
Nuansa Bali kemudian hadir melalui Gebogan atau Pajegan, berupa susunan buah-buahan, jajanan tradisional, janur, dan bunga yang dirangkai menjulang menyerupai gunung. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi.
Budaya Kalimantan melengkapi pertunjukan lewat Tari Enggang dan Tari Mandau. Gerakannya terinspirasi dari tradisi masyarakat setempat, termasuk burung enggang sebagai simbol alam, kebebasan, serta hubungan manusia dengan lingkungan.
Persiapan pertunjukan berlangsung cukup singkat, hanya sekitar satu pekan. Alya bersama para penari lain harus menjaga kondisi fisik sekaligus mematangkan mental agar mampu tampil maksimal.
“Untuk persiapan dalam proses latihan kemarin tentunya harus menyiapkan mental dan fisik yang kuat karena kami pastinya memiliki harapan besar untuk menampilkan yang terbaik,” ujarnya.
Bagi Alya, tantangan terberat justru datang dari dirinya sendiri. Ia sempat meragukan kemampuan untuk tampil maksimal di panggung sebesar GBK.
Keraguan itu perlahan sirna setelah menjalani latihan secara disiplin dan terstruktur.
“Karena proses yang begitu disiplin, terstruktur tetapi tetap enjoy, akhirnya saya sendiri bisa meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa menampilkan yang terbaik,” ungkap Alya.
Pengalaman tampil di FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi salah satu momen paling berkesan bagi Alya. Bukan sekadar penampilan di atas panggung, tetapi juga seluruh proses bersama para penari dan tim EkosDanceCompany.
“Sosok yang paling berperan dalam kesempatan ini tentunya Prof. Dr. Dr. Eko Supriyanto, M.F.A. dan istrinya yaitu Astri Kusuma Wardani, M.Sn., serta seluruh tim EkosDanceCompany yang selalu memberikan kesempatan,” tuturnya.
Selepas tampil di panggung FIFA ASEAN Cup 2026, Alya belum menetapkan target khusus. Ia memilih terus berlatih sekaligus mengasah kemampuan sebagai penari.
“Saya akan selalu berlatih agar bisa menjadi penari yang memiliki ketubuhan yang fleksibel dan menjadi penari yang memiliki attitude yang baik,” ungkap Alya.
Kecintaan Alya terhadap seni tari telah tumbuh sejak usia tujuh tahun, tepatnya saat duduk di kelas III SD. Sekitar 13 tahun kemudian, ia masih konsisten menekuni dunia tari.
Bagi Alya, menjadi penari tidak sebatas menguasai gerakan. Sikap atau attitude turut menentukan kemampuan seseorang beradaptasi dan diterima di berbagai lingkungan.
Pengalaman tampil di panggung FIFA ASEAN Cup 2026 semakin mendorongnya untuk terus belajar, berlatih, serta mengembangkan diri sebagai penari.
Alya juga berharap para pelaku seni Sultra semakin berani menggali kekayaan budaya daerah. Menurutnya, masih banyak potensi budaya Bumi Anoa yang bisa dikembangkan melalui kreativitas generasi muda.
“Saya sangat berharap teman-teman pelaku seni agar kita bisa lebih membuka mata selebar-lebarnya untuk melihat bahwa banyak sekali kebudayaan yang ada di daerah kita yaitu Sultra yang perlu kita kembangkan lagi,” ujar Alya. Sis



