LAJUR.CO, KENDARI – Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat periode hari tanpa hujan terlama kedua di Pulau Sulawesi. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 10 Oktober 2026, provinsi yang digawangi duet Gubernur Andi Sumangerukka dan Wakil Gubernur Hugua ini telah melewati 119 hari tanpa guyuran hujan sepanjang 2026.
Capaian tersebut menempatkan Sultra di urutan kedua provinsi di Pulau Sulawesi dengan periode hari tanpa hujan (HTH) terlama, setelah Sulawesi Selatan (Sulsel) yang mencapai 132 hari.
Data pemutakhiran BMKG menunjukkan fenomena hari tanpa hujan berkepanjangan masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia.
Dari 25 provinsi di Indonesia yang masuk kategori HTH ekstrem panjang versi BMKG, Sulsel menjadi provinsi dengan periode tanpa hujan terlama di kawasan Sulawesi, disusul Sultra. Sementara itu, Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat masing-masing mencatat 118 hari tanpa hujan.
Adapun Sulawesi Tengah berada di urutan berikutnya dengan periode 81 hari tanpa hujan. Perbedaan durasi tersebut memperlihatkan kondisi hari tanpa hujan yang bervariasi antardaerah di Pulau Sulawesi.
Secara nasional, DI Yogyakarta mencatat periode tanpa hujan terpanjang, yakni 161 hari. Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan 160 hari dan Jawa Timur selama 159 hari. Selanjutnya, Nusa Tenggara Timur mengalami 148 hari tanpa hujan, disusul Nusa Tenggara Barat dengan 145 hari dan Bali selama 143 hari.
BMKG mencatat sebagian besar zona musim di Indonesia masih mengalami musim kemarau. Meski demikian, sejumlah wilayah mulai memasuki musim hujan, meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, dan Kalimantan Timur.
Periode hari tanpa hujan yang panjang perlu menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan meteorologis. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada sumber air terbuka, sumur, maupun tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan diimbau menghemat penggunaan air dan mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air bersih. Pemantauan informasi cuaca dan iklim yang dirilis BMKG juga penting untuk mengetahui perkembangan kondisi di masing-masing daerah.
Sementara itu, warga di wilayah yang mulai memasuki musim hujan diharapkan menjaga kebersihan saluran drainase agar aliran air tetap lancar. Kesiapsiagaan diperlukan untuk menghadapi perubahan kondisi cuaca, baik risiko kekeringan akibat minimnya hujan maupun potensi genangan ketika hujan kembali turun. Adm





