LAJUR.CO, KENDARI – Tumpukan sampah yang mencemari pesisir Pantai Batu Gong, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi sasaran aksi bersih pantai yang digelar PT PLN Nusantara Power Services bersama lebih dari 100 relawan, Rabu (14/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, volume sampah yang terkumpul diperkirakan mencapai lebih dari 500 kilogram.
Aksi lingkungan dalam rangka memperingati World Cleanup Day 2026 melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari komunitas, perangkat desa, Karang Taruna, pelajar hingga warga setempat. Para peserta menyisir garis pantai untuk mengumpulkan sekaligus memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Langkah tersebut bukan sekadar membersihkan kawasan wisata dari limbah yang terbawa ombak maupun ditinggalkan pengunjung. Upaya ini juga menjadi bagian dari edukasi publik mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut dari ancaman pencemaran plastik.
Asisten Manajer Operasi PLTU Nii Tanasa, Septian, menegaskan persoalan sampah pesisir tidak bisa dianggap sepele. Jika dibiarkan berlarut-larut, pencemaran berpotensi merusak terumbu karang, membahayakan biota laut, serta mengancam keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir.
“Jika kita biarkan, plastik itu akan merusak terumbu karang, membunuh biota laut dan pada akhirnya merugikan kita sendiri,” ujar Septian kepada awak media seusai kegiatan pengumpulan sampah.
Menurutnya, Pantai Batu Gong memiliki arti penting bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi kawasan yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata, wilayah pesisir tersebut juga berkaitan erat dengan mata pencaharian warga, khususnya nelayan.
Karena itu, menjaga kebersihan pantai membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya mengandalkan kegiatan gotong royong yang berlangsung sesekali. Perubahan perilaku masyarakat dan wisatawan dalam mengelola sampah menjadi kunci agar pencemaran tidak terus berulang.
“Tema kami tahun ini adalah Bersih pantai kita, selamatkan laut kita, Pantai Batu Gong bebas sampah plastik,” ungkapnya.
Saat bersih-bersih, para relawan memisahkan sampah plastik, material organik, serta limbah berbahaya, seperti pecahan kaca dan baterai. Pemilahan sejak awal dilakukan untuk memudahkan proses pengolahan sekaligus memaksimalkan pemanfaatan material yang masih memiliki nilai daur ulang.
Ketua Pengelola Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Puuwatu, Setiawan, memperkirakan bobot sampah hasil kegiatan tersebut telah melampaui 500 kilogram. Namun, jumlah pastinya masih menunggu proses penimbangan.
“Untuk estimasi pertama ini saya lihat sudah ada sekitar 500 kilogram lebih, tetapi untuk pastinya besok kami timbang di workshop,” kata Setiawan.
Ia menjelaskan, sampah hasil pembersihan tidak langsung dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) Puuwatu. Material yang terkumpul terlebih dahulu melalui proses pemilahan untuk memisahkan bagian yang masih dapat didaur ulang dari residu yang harus dibuang ke TPA.
Pengelolaan berkelanjutan tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus mendorong masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan.
Septian berharap semangat menjaga lingkungan tidak berhenti setelah kegiatan bersih pantai berakhir. Ia mengajak masyarakat maupun wisatawan untuk membangun kebiasaan sederhana, yakni tidak meninggalkan sampah di kawasan pesisir dan membawa kembali sampah masing-masing setelah berkunjung.
“Bawa pulang sampahmu, karena kalau pantainya bersih, lautnya sehat, rezekinya juga ikut lancar,” tuturnya. Sis





