LAJUR.CO, KENDARI – Bagi para pengendara mesti berhati-hati dan meningkatkan kepatuhan selama berlalu lintas. Sebab, Polda Sultra dijadwalkan menggelar Operasi Patuh Anoa 2026 mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026.
Sebanyak 10 jenis pelanggaran menjadi prioritas penindakan. Operasi menyasar pengendara yang melanggar aturan sekaligus mendorong peningkatan disiplin berlalu lintas untuk menekan risiko kecelakaan di jalan raya.
Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sultra kini mematangkan kesiapan personel menjelang pelaksanaan operasi. Direktur Lalu Lintas Polda Sultra Argowiyono menegaskan, penegakan aturan harus berjalan tegas dan konsisten, tetapi tetap mengedepankan pendekatan humanis.
Sepuluh pelanggaran yang masuk radar polisi meliputi penggunaan telepon seluler saat berkendara, pengendara di bawah umur, berboncengan lebih dari satu orang, tidak menggunakan sabuk keselamatan atau helm berstandar SNI, serta berkendara di bawah pengaruh alkohol.
Polisi turut menyasar pengendara yang melawan arus, melebihi batas kecepatan, melakukan balap liar, menggunakan knalpot yang tidak sesuai spesifikasi teknis, serta memakai tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) yang tidak sesuai ketentuan.
Argowiyono menyampaikan arahan tersebut saat memimpin Apel Fungsi di Kantor Patroli Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Sultra, Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 06.00 WITA. Kegiatan itu diikuti Wakil Direktur Lalu Lintas Arif Irawan, para pejabat utama, perwira, bintara, ASN, serta pegawai harian lepas di lingkungan Ditlantas Polda Sultra.
Menurut Argowiyono, Operasi Patuh Anoa tidak sekadar berorientasi pada penindakan. Operasi tersebut juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas, menekan angka kecelakaan, serta mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas).
“Laksanakan tugas dengan tegas, tetapi tetap santun dan humanis. Ingat, kita tidak sedang berhadapan dengan musuh, melainkan dengan masyarakat yang membutuhkan bimbingan. Jadikan operasi ini sebagai sarana membangun kedekatan, bukan menjauhkan diri dari masyarakat,” tegas Argowiyono.
Menjelang operasi, ia turut mengevaluasi pelaksanaan pengaturan lalu lintas pada pagi hari. Personel diminta memahami karakteristik lokasi penugasan, mengenali potensi kerawanan, serta mengambil langkah tepat untuk menjaga kelancaran arus kendaraan dan melindungi pengguna jalan.
Kesiapan petugas juga menjadi perhatian. Anggota diminta menggunakan perlengkapan sesuai kebutuhan, seperti peluit dan rompi saat mengatur lalu lintas serta senter ketika bertugas pada malam hari. Pelanggaran yang ditemukan secara langsung, termasuk pengendara tanpa helm, harus ditindak sesuai ketentuan dengan tetap mengutamakan pendekatan humanis.
Untuk meningkatkan kedisiplinan, apel pagi dijadwalkan mulai pukul 05.45 WITA. Seluruh personel diharapkan sudah menempati titik penugasan masing-masing pada pukul 06.00 WITA, termasuk di sekolah-sekolah yang melaksanakan kegiatan POLIDIK.
Argowiyono juga meminta jajarannya memantau situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) secara proporsional. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi potensi gangguan tanpa menghambat aktivitas warga maupun keselamatan pengguna jalan.
Selain persiapan Operasi Patuh Anoa, Dirlantas menekankan pentingnya pelayanan publik yang aman, profesional, dan transparan. Pelayanan surat izin mengemudi (SIM) serta penegakan hukum harus dilaksanakan sesuai prosedur, tanpa mempersulit masyarakat ataupun melakukan penyimpangan.
Ia meminta seluruh personel menerapkan semangat program prioritas Kapolri, yakni “Polisi Bersama Masyarakat”, dengan prinsip hadir, berbuat, dan bermanfaat. Masukan warga yang disampaikan melalui kegiatan Jumat Keliling dan Subuh Keliling juga harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret.
Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian antara lain aktivitas kelompok pemuda pada malam hingga dini hari yang disertai penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis. Pengaturan arus lalu lintas di sekitar SMA Negeri 2 Kendari pada pagi hari turut menjadi sorotan.
Menurut Argowiyono, kualitas pelayanan kepolisian harus terlihat dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari rasa aman, kemudahan menyampaikan laporan, kecepatan pertolongan, kepastian hukum, hingga perlindungan terhadap korban.
Ia mengingatkan seluruh personel untuk menjaga kedisiplinan, kerapian, dan kelengkapan atribut dinas. Para perwira diminta meningkatkan pengawasan serta membangun komunikasi terbuka dengan anggota demi menjaga profesionalisme dalam menjalankan tugas.
Menutup arahannya, Argowiyono menegaskan bahwa semangat “Polisi Bersama Masyarakat” harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan. Sejalan dengan tagline Kapolda Sultra, “Jaga Bumi Anoa”, personel Ditlantas diharapkan terus menjaga keselamatan masyarakat dan merawat kepercayaan publik terhadap Polri.
“Kehadiran kita di jalan raya harus dirasakan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai perlindungan dan pelayanan. Mari kita buktikan bahwa polisi hadir, peduli, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutup Argowiyono. Adm


