BERITA TERKINIEKOBISNASIONAL

Dibayangi Pelemahan Rupiah dan “Capital Outflow”, Ekonomi RI Diprediksi Stagnan

×

Dibayangi Pelemahan Rupiah dan “Capital Outflow”, Ekonomi RI Diprediksi Stagnan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Foto: Ist

LAJUR.CO, JAKARTA – Ekonomi Indonesia dibayang-bayangi oleh tren pelemahan rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu yang bersamaan.

Banyak pihak menyebutkan, kondisi ini ada kaitannya dengan kondisi perekonomian global yang masih menghadapi tantangan dan ketidakpastian.

Namun, ekonom sekaligus ahli keuangan dan pasar modal Budi Frensidy justru tak sependapat. Menurut dia, keadaan ekonomi secara global justru sedang dalam kondisi yang sangat baik.

Bahkan, berdasarkan catatannya, beberapa indeks bursa global sedang menembus rekor tertinggi.

“Kita (Indonesia) berat di indikator makro, yaitu pelemahan rupiah, tripel defisit, dan capital outflow yang sangat deras,” kata dia, Rabu (19/6/2024).

Baca Juga :  Kasus Penghinaan Suku Muna yang Viral di Tiktok Berakhir Damai di Polda Sultra

Daya beli masyarakat melemah
Ia menjelaskan, kondisi tersebut masih ditambah dengan daya beli masyarakat yang semakin melemah dan pengangguran di sektor formal yang terus meningkat.

Seiring dengan itu, Budi juga memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi akan stagnan di level 5 persen.

“Bahkan lebih rendah,” imbuh dia.

Lebih lanjut, ia bilang, selama kebijakan fiskal tidak pro pasar tetapi justru kontraktif, terutama dengan peningkatan tarif pajak, kondisi seperti ini bisa bertahan berbulan-bulan.

Baca Juga :  Hasil Operasi Tim SAR Gabungan di Pantai Lambai Kolut, Korban Dievakuasi Dalam Kondisi Tak Bernyawa

Adapun kondisi positif dapat terbentuk ketika ada modal asing yang masuk ke Indonesia (capital inflow).

“Current account bisa positif, demikian juga financial account, sehingga rupiah menguat,” terang dia.

Koreksi IHSG
Lebih lanjut, ia menjabarkan, koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi oleh aliran dana asing yang keluar, pelemahan rupiah, serta transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia yang defisit.

“Berlakunya mekanisme papan pemantauan khusus dengan mekanisme full call auction (FCA) juga berandil besar menambah sentimen negatif di bursa,” ungkap Budi.

Baca Juga :  Dukung Kebijakan Jokowi, Andap Budhi Sebut Sultra Siap Implementasi GovTech Indonesia INA Digital

Berdasarkan catatannya, situasi suku bunga yang higher for longer ditambah dengan faktor lain telah membuat IHSG masuk jajaran kinerja pasar saham terburuk kelima.

Adapun deretan kinerja pasar saham terburuk dihuni oleh pasar saham Qatar yang turun 12,53 persen, Meksiko turun 9,72 persen, Brasil turun 9,06 persen, dan Thailand dengan penurunan 5,61 persen.

Di Asia Tenggara, pasar saham Malaysia menjadi jawara dengan kenaikan 10,3 persen sepanjang tahun. Adm

Sumber : Kompas.com



0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x