SULTRABERITA.ID, KENDARI – Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini, dr Dewi Febrytriyanto menggagas program edukasi kesehatan gigi dan mulut bagi siswa-siswi di Kota Kendari.
Roadshow perdana rombongan istri -istri pegawai lembaga adhyaksa itu mengunjungi sebuah sekolah darurat di Kecamatan Baruga Kota Kendari yakni Yayasan Nurul Maghfirah, Senin 6 Januari.
BACA JUGA :

- Lab DLH Sultra Resmi Teregistrasi Kementerian, Siap Layani Perusahaan Tambang & Pacu PAD
- Ikuti Arahan Presiden, Gubernur ASR Instruksikan Cabut Baliho & Kabel Pengganggu Estetika
- HUT ke-54 Basarnas: Kantor SAR Kendari Aksi Donor Darah, Kumpulkan 98 Kantong
- 10 Kabupaten Terima Rehab Rumah Nelayan di Sultra, Digarap Mulai Maret 2026
- Breaking: IHSG Ambruk 3,44%, Saham Emas & Emiten Prajogo Longsor
Dihadapan puluhan siswa dari keluarga tak mampu itu, Dewi Febrytriyanto mencontohkan langsung bagaimana membersihkan tangan dan gigi secara benar.

Wanita berhijab itu begitu luwes mengajarkan praktik kebersihan gigi dan pola menjaga kesehatan pada anak-anak. Maklum saja, keseharian Dewi Febrytriyanto lekat dengan dunia kesehatan lantaran rutinitas sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.
“Waktu kita kunjungan ke sekolah-sekolah itu kita mengajarkan bagaimana menerapkan 6 langkah cuci tangan dan cara menyikat gigi yang baik dan benar pada siswa-siswi di sana,” ujar Dewi.
Antusias para siswa mengikuti edukasi kesehatan singkat begitu besar. Mereka dengan serius menyaksikan dan mempratikkan tata cara memelihara kebersihan tangan dan gigi yang diajarkan oleh Ketua IAD Sultra.
Dalam kunjungan tersebut, wanita yang yang berprofesi sebagai dokter di rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta itu turut membagikan odol dan sikat gigi pada seluruh siswa. Termasuk petunjuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
Kegiatan ini, kata Dewi Febrytriyanto rencananya akan menjadi agenda rutin Ikatan Adhyaksa Dharmakarini yang dipimpinnya sebagai bentuk kepedulian organisasi terhadap generasi muda. Termasuk terhadap dunia kesehatan yang menjadi rutinitas kerjanya sehari-hari.
Saat mengunjungi Yayasan Nurul Maghfirah yang terletak di Kecamatan Baruga, Dewi sempat mengungkap keprihatinan akan kondisi sekolah tersebut.
“Setelah melihat langsung, kondisi sekolahnya cukup memprihatinkan. Ruang belajarnya masih berlantai tanah. Bangunan sekolah dari kayu yang beberapa bagiannya kondisinya tidak layak. Semoga bisa ada perhatian kedepan,” pungkas Dewi. Adm



