LAJUR.CO, KENDARI – Prof. Eka Suaib kembali dipercaya memimpin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO). Ia terpilih sebagai Dekan FISIP UHO untuk periode kedua dalam pemilihan yang digelar pada Kamis (25/6/2026).
Kepercayaan tersebut memperpanjang pengabdiannya sebagai pimpinan fakultas sekaligus menambah catatan kariernya yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade di Kampus Hijau.
Prof. Eka bukan sosok baru di lingkungan FISIP UHO. Sejak diangkat sebagai dosen pada 1992, ia telah mengabdikan diri di fakultas tersebut dan menempati berbagai posisi strategis.
Prof Eka tercatat pernah menjabat Ketua Konsentrasi Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Politik, Koordinator Program Studi Ilmu Politik, Wakil Dekan II, Wakil Dekan I, hingga menjadi anggota Satgas Humas UHO pada masa kepemimpinan almarhum Rektor Soleh Solahuddin.
Kepercayaan memimpin FISIP juga bukan kali pertama diterimanya. Pada Juni 2023, Prof. Eka ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Dekan FISIP UHO menggantikan almarhum Dr. La Tarifu yang wafat.
Sebulan kemudian, tepatnya Juli 2023, ia dilantik sebagai Dekan FISIP UHO definitif. Terpilih kembali pada pemilihan tahun ini membuatnya melanjutkan kepemimpinan untuk periode kedua.
Di bidang akademik, Prof. Eka menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Halu Oleo. Selanjutnya, ia meraih gelar magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan doktor di Universitas Airlangga (Unair).
Perjalanan akademiknya kemudian mengantarkannya menyandang jabatan Guru Besar Ilmu Politik.
Selain dikenal sebagai akademisi, Prof. Eka juga aktif di berbagai organisasi. Ia pernah menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kendari dan aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Saat ini, ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Pakar Korps Alumni HMI (KAHMI) Sulawesi Tenggara, Ketua Cabang Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Kendari, serta menjadi salah satu pendiri Asosiasi Program Studi Ilmu Politik se-Indonesia.
Usai pemilihan, Prof. Eka mengatakan proses yang baru dilaksanakan merupakan tahapan lanjutan dalam pemilihan dekan. Sebelumnya, panitia telah menyelesaikan proses penjaringan dan penyaringan calon.
“Saya kira tadi itu adalah kelanjutan dari proses pemilihan dekan. Sudah ada tahap penjaringan, penyaringan, dan tadi itu adalah tahap pemilihan. Sebetulnya masih ada satu tahap lagi, yaitu tahap pengangkatan,” ujarnya kepada awak media.
Meski kembali dipercaya memimpin FISIP UHO, Prof. Eka mengaku tidak pernah menjadikan jabatan dekan sebagai target karier. Menurutnya, amanah tersebut merupakan bentuk kepercayaan dari rekan-rekannya sekaligus kehendak Tuhan.
“Saya tidak pernah terpikir, ini mengalir saja. Saya adalah orang yang mendedikasikan diri pada ilmu. Bahwa saya terpilih menjadi dekan karena intervensi dari Allah,” tuturnya.
Pada awal masa kepemimpinannya, Prof. Eka akan memfokuskan program kerja pada penyelarasan visi FISIP dengan visi Universitas Halu Oleo.
Ia ingin aktivitas tridarma perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah atau memenuhi aspek administratif. Menurutnya, setiap penelitian dan pengabdian harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta memperoleh rekognisi di tingkat internasional.
“Maka saya harus bekerja secara kolegial. Saya akan menempatkan teman-teman dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni untuk bekerja bersama sehingga dapat mendorong FISIP menjadi lebih kompetitif pada masa yang akan datang,” katanya.
Menurut Prof. Eka, tantangan terbesar perguruan tinggi saat ini adalah era disrupsi akibat perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI).
Karena itu, ia berkomitmen mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki FISIP agar mampu menghasilkan riset dan pengabdian yang berkualitas serta berdampak langsung bagi masyarakat.
“Mau tidak mau, saya harus mengonsolidasikan seluruh kekuatan dan potensi yang ada di FISIP untuk menghasilkan penelitian dan pengabdian yang tidak hanya terpublikasi di jurnal bereputasi, tetapi juga memiliki dampak bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia berpesan kepada mahasiswa agar terus meningkatkan kemampuan dan tidak terlena berada di zona nyaman. Menurutnya, perkembangan AI harus dimanfaatkan sebagai alat untuk mendukung kemampuan manusia, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.
“Mahasiswa jangan terus berada di zona nyaman. Artificial intelligence tidak bisa dipungkiri, tetapi kita yang harus memanusiakan AI, bukan sebaliknya,” pungkasnya.
Laporan: Ika Astuti




