BERITA TERKINIDAERAHEKOBISHEADLINELIFE STYLE

Memoles Butur Sebagai Destinasi Agrowisata Setelah Kota Malang

×

Memoles Butur Sebagai Destinasi Agrowisata Setelah Kota Malang

Sebarkan artikel ini

SULTRABERITA, BUTUR – Kabupaten Buton Utara (Butur) sangat berpotensi dikembangkan sebagai spot agrotourism atau agrowisata setelah Kota Malang. Keberhasilan Pemda Butur sebagai satu-satunya kabupaten di Sultra yang secara konsisten menggarap sektor pertanian organik hingga sukses menembus pasar internasional dapat menjadi daya tarik wisata.

Hal ini disampaikan Praktisi Pariwisata, Indar Aminuddin saat melihat langsung aneka produk pertanian organik dihasilkan Kabupaten Butur.

Marak kepala daerah berburu PAD secara instan lewat eksploitasi tambang, tidak demikian dengan Butur. Ia mengaku salut dengan komitmen pemerintah setempat yang konsisten merawat pertanian sebagai andalan menghidupkan ekonomi daerah setempat.

Bupati Buton Utara, Abu Hasan mempromosikan beras Wakawondu brand padi organik khas Butur. Foto : Istimewa

Sejatinya pemerintah, kata dia, bisa memperoleh PAD lebih jika pertanian dan pariwisata digerakkan secara padu. Cluster pertanian organik di Butur dipakai menggaet minat wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung di DOB pecahan Kabupaten Muna tersebut.

“Baiknya ke depan pemerintah fokus ke Agrotourism. Daerah tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar, cukup memanfaatkan sumber daya yang ada di desa wisata itu. Di beberapa daerah ini sukses mengentaskan kemiskinan di daerah terpencil. Wisata dan pertanian mestinya saling menunjang,” ujar Indarwati.

Yang dilakukan Pemkab Butur adalah bagaimana mengemas promosi paket wisata pertanian dengan menu kearifan lokal sebagaimana konsep utama agrowisata.

Jika di Malang hanya monoton menyajikan wisata pertanian. Kabupaten Butur menawarkan agrowisata yang bersifat edukatif dengan menu khas ‘organik’. Wisatawan sekaligus dapat menikmati ragam destinasi alam nan eksotis di daerah eks wilayah Kerajaan Buton itu dalam satu paket ‘tour wisata’.

Baca Juga :  Melihat Ragam Produk Olahan Porang di Pameran Misi Dagang & Investasi Jatim-Sultra

Wanita yang bekerja sebagai National Coordinator for Responsible Marine Tourism, WWF-Indonesia itu menilai sektor pariwisata seyogyanya digerakkan seirama. Menyokong pembangunan sektor pertanian yang digaungkan Bupati Buton Utara, Abu Hasan lewat pengembangan agrowisata di desa-desa wisata.

Agrowisata berbasis partisipasi masyarakat diyakini akan memberi dampak siginifikan bagi peningkatan income ekonomi penduduk lokal. Ini terjadi jika digarap secara secara konsisten dan terstruktur dengan konsep dan metode pendekatan yang tepat pada masyarakat.

Solusi Budget Minim

Eengkapala, danau wisata yang terletak di Ibukota Butur. Kawasan wisata ini tak terawat dengan baik. Beberapa sudut terlihat tumpukan sampah plastik. Foto : Siti Marlina

Kepala Dinas Pariwisata Butur, Harlin Hari mengatakan pihaknya sulit bergerak. Pembangunan sektor pariwisata Butur terutama di desa wisata sedikit mandek. Ini lantaran kuota APBD yang sangat kecil.

Setahun, kata dia, anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk menggarap sektor pariwisata tak sampai diangka Rp 30 juta. Hal itu kemudian menjadi dalih banyak spot wisata di Butur yang terlantar.

Harlin menyatakan, sejauh ini belum ada formula yang tepat mengakali lagu lama ‘budget minim’ pengembangan pariwisata di instansinya. PAD di sektor pariwisata pun nihil membiayai maintanance spot – spot wisata.

“Kita di dinas pariwisata terbatas di anggaran. Banyak yang tidak terawat karena memang tidak ada anggarannya. Kita juga belum memungut tiket pengunjung yang datang. Jadi ya begitu kondisi banyak kotor dan terlantar,” ujar Harlin.

Tahun lalu, angka kunjungan wisatawan di Butur mencapai 33.729 orang. Wisatawan mancanegara hanya berkisar 114 orang. Sementara pelancong domestik mendominasi dengan kalkulasi 33.615 orang pada tahun 2019.

Baca Juga :  Batik Ecoprint Butur Unjuk Gigi di Pameran HUT Sultra Ke-58
Permandian Pasarambola’ea. Destinasi wisata danua air payau di Butur. Foto : Siti Marlina.

Di beberapa daerah di Indonesia, ujar Indarwati, pengembangan pariwisata sistem ‘gotong royong’ masyarakat menjadi solusi atas kendala minimnya budget pemerintah mengembangkan industri pariwisata.

Menurut pandangan Indarwati, pemerintah dan masyarakat dapat memanen pendapatan yang jauh lebih besar hanya dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah ada di desa-desa wisata.

Di Desa Lantangi misalkan. Daerah pinggiran Butur tersebut memiliki spot wisata unik yang masih terjaga yakni Danau Moloku. Sepanjang jalan menuju perkampungan itu, pendatang disuguhi hamparan kawasan perkebunan mete. Semangka lokal dengan ukuran mini tumbuh subur di atas tanah bebatuan.

Daerah terpencil pesisir Butur dengan tingkat kemiskinan tinggi ini bisa dipoles sebagai spot agrowisata. Tentu saja dengan sedikit intervensi dari pemerintah.

“Selain mengunjungi danau alami, pengunjung bisa diajak berwisata di perkebunan mete. Bersama dengan penduduk lokal memanen buah mete termasuk ikut dalam aktivitas pengolahan pascapanen. Untuk wisatawan domestik menganggap ini biasa karena hampir setiap saat dilihat. Tapi oleh wisatawan asing yang tidak pernah melihat tanaman mete, ini menjadi unik dan menarik. Tidak perlu menyiapkan hotel mewah. Cukup home stay yang memadai agar uang berputar kembali ke masyarakat. Yang utama jika ingin menarik wisatawan asing adalah kebersihan. Kebersihan desa patut dijaga, kearifan lokal dan kondisi alami desa mesti dipertahankan. Sampah memang menjadi hal yang sensitif bagi turis asing,” papar Indarwati.

Baca Juga :  Dukcapil Siapkan KTP Digital, Apa Bedanya dengan E-KTP?

Cluster Pertanian Organik

Salah satu pabrik pengolahan kepala di Butur. Foto : Siti Marlina

Sektor pertanian di Kabupaten Butur dikembangan dengan sistem cluster. Saat ini ada empat kawasan pertanian yang berpotensi digarap dan dipromosi sebagai spot agrowisata khas Butur.

Diantaranya adalah Kecamatan Wakorumba Utara dan Kambowa sebagai cluster produksi mete. Di musim panen, mete lokal mempu mencapai angka produksi 10 ton. Sejauh ini produk mete Butur baru dipasarkan secara gelondongan.

Padi Organik Wakawondu Butur. Foto : Istimewa

Cluster padi organik terdapat di Kecamatan Bonegunu dan Kulisusu Barat. Tahun 2019, luas areal budidaya padi organik berkisar 900 Ha. Tahun 2020, meningkat menjadi 1000 Ha.

Promosi produk padi organik khas Butur diketahui sudah menembus ekspor mancanegara. Diantaranya adalah Negara Jerman. Brand padi organik Butur paling laris manis adalah jenis beras merah berlabel ‘Wakawondu’.

Terkini, Butur diganjar penghargaan bergensi dari Bank Indonesia atas konsistensi menghidupkan ekonomi masyarakat lewat budidaya pertanian organik.

Toko oleh-oleh Khas Butur di Kota Kendari di Jalan Saosao. Di sini tersedia aneka brand pertanian organik khas Butur. Foto : Siti Marlina.

Berikut Kecamatan Kulisusu yang merupakan sentra produksi rumput laut. Penjualan komoditas rumput laut Butur masih dalam skala perdagangan umum.

Terakhir Kecamatan Kulisusu Utara sebagai daerah sentra perkebunan kelapa. Selain padi organik, kawasan pesisir Butur memang dikenal sebagai produsen buah bernama latin Cocos Nucifera.

Pabrik pengolahan kelapa di Butur. Foto : Siti Marlina.

Komoditas kelapa disana telah diolah menjadi varian VCO, asap cair, kopra putih dan minyak goreng. Pabrik pengolahan dibangun di lokasi perkebunan kelapa rerata menghasilkan minyak VCO 100 liter perhari dan minyak goreng 200 liter perhari. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x