BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Nursery PT Vale Pomalaa Berkapasitas 1 Juta Bibit: Jadi Tulang Punggung Reklamasi, Rumah Flora Endemik Sulawesi

×

Nursery PT Vale Pomalaa Berkapasitas 1 Juta Bibit: Jadi Tulang Punggung Reklamasi, Rumah Flora Endemik Sulawesi

Sebarkan artikel ini
Pegawai di Nursery PT Vale Indonesia IGP Pomalaa tengah melakukan penanaman bibit.

LAJUR.CO, KOLAKA –Di balik aktivitas pertambangan PT Vale Indonesia Tbk di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, berdiri sebuah pusat pembibitan (nursery) yang menjadi tulang punggung program reklamasi perusahaan. Fasilitas nursery yang berada Desa Lalonggolosua, Kecamatan Tanggetada itu tidak hanya memproduksi ratusan ribu bibit setiap tahun, tetapi juga menjadi ‘rumah’ bagi berbagai tanaman endemik Sulawesi yang disiapkan untuk mengembalikan kawasan bekas tambang menjadi hijau kembali.

Seiring meningkatnya aktivitas operasional di Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, PT Vale terus memperkuat komitmennya terhadap praktik green mining atau pertambangan berkelanjutan. Salah satu bentuk nyatanya ialah pengembangan nursery yang kini telah memproduksi sekitar 500 ribu bibit setiap tahun, dengan kapasitas maksimal mencapai 1 juta bibit per tahun untuk mendukung kegiatan reklamasi secara berkelanjutan.

Nursery PT Vale Pomalaa dibangun sebagai bagian dari persiapan pengembangan proyek nikel di Pomalaa. Sejak mulai beroperasi, fasilitas ini terus dikembangkan, baik dari sisi kapasitas produksi maupun keberagaman jenis tanaman yang dibudidayakan. Kehadiran nursery tersebut menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam memastikan setiap area yang telah selesai ditambang dapat dipulihkan kembali melalui reklamasi sesuai kaidah pertambangan yang baik.

Supervisor Nursery PT Vale Indonesia, Alfaras Nurramadan, mengatakan seluruh bibit yang diproduksi dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan penghijauan di area reklamasi. Menurutnya, proses pembibitan dimulai dari pengumpulan benih hingga penyelamatan tanaman lokal yang berasal dari kawasan yang akan ditambang.

Baca Juga :  PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi, Siapkan 50 Pelajar Luwu Timur Jadi Penggerak Lingkungan

“Karena kita memiliki pembibitan mulai dari benih, pengambilan bibit-bibit indukan dari area reklamasi. PT Vale merupakan salah satu perusahaan tambang yang bergerak di green mining. Meskipun membuka lahan, perusahaan tetap berupaya melindungi ekosistem awalnya,” ujar Alfaras, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan, sebelum aktivitas penambangan dilakukan, tim nursery terlebih dahulu melakukan penyelamatan tanaman lokal atau bibit cabutan dari area yang akan dieksploitasi. Tanaman tersebut kemudian dipindahkan ke nursery untuk dirawat hingga tumbuh optimal sebelum akhirnya dikembalikan ke kawasan reklamasi.

“Makanya kita mengambil beberapa bibit cabutan yang berasal dari area penambangan untuk kita tumbuhkan, kita semai, kita sulam. Ketika sudah tumbuh, tanaman-tanaman itu akan dibawa kembali ke area reklamasi untuk melakukan penghijauan. Jadi PT Vale melakukan aktivitas pertambangan tanpa mengabaikan ekosistem, lalu mengembalikannya hijau kembali melalui reklamasi,” jelasnya.

Alfaras mengungkapkan, nursery PT Vale Pomalaa memiliki kapasitas yang sangat besar. Dalam satu tahun, fasilitas tersebut mampu menampung hingga 1 juta bibit, sementara produksi yang saat ini disiapkan mencapai sekitar 500 ribu bibit setiap tahun mengikuti kebutuhan reklamasi.

Baca Juga :  Pelatihan Operator Alat Berat PT Vale, Siapkan 35 Tenaga Kerja Lokal Tersertifikasi di Luwu Timur

“Untuk kapasitas di nursery ini kita bisa menampung sekitar 1 juta bibit per tahunnya,” katanya.

Bibit yang diproduksi terdiri dari berbagai kelompok tanaman, mulai dari tanaman cepat tumbuh (fast growing), tanaman endemik, tanaman buah, hingga tanaman hias yang memiliki nilai konservasi.

Beberapa tanaman endemik yang dirawat di nursery di antaranya kayu kuku dan kayu Kolaka, dua spesies lokal yang menjadi bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati Sulawesi. Selain itu terdapat pula anggrek Sorowako sebagai tanaman hias endemik yang turut dikembangkan.

Untuk kategori fast growing, PT Vale membudidayakan tanaman pionir seperti sengon buto, cemara angin, dan kayu bitti. Jenis tanaman ini dipilih karena memiliki pertumbuhan lebih cepat dan daya adaptasi yang tinggi sehingga efektif digunakan sebagai vegetasi awal pada kawasan reklamasi.

“Fast growing merupakan tanaman pionir yang memiliki masa tumbuh lebih cepat dibanding tanaman lainnya dan memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih baik di area reklamasi,” ujar Alfaras.

Proses menghasilkan satu bibit siap tanam membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Tahapan dimulai dari penyemaian benih menggunakan polytray berukuran kecil selama satu hingga dua pekan.

Baca Juga :  OJK Sultra Dorong Nelayan dan UMKM KNMP Konawe Melek Keuangan

Setelah itu, bibit dipindahkan ke wadah yang lebih besar untuk mendukung pertumbuhan akar dan batang. Selanjutnya tanaman menjalani masa pemeliharaan sekitar satu hingga dua bulan hingga memiliki kondisi yang cukup kuat untuk ditanam di lapangan.

“Kurang lebih masa dari semai sampai tanaman siap ditanam di area reklamasi sekitar tiga bulan,” jelas Alfaras.

Melalui sistem pembibitan tersebut, PT Vale memastikan setiap bibit yang ditanam memiliki tingkat keberhasilan tumbuh yang tinggi sehingga proses pemulihan ekosistem bekas tambang dapat berlangsung lebih efektif.

Pengembangan nursery menjadi salah satu fondasi utama komitmen PT Vale dalam menerapkan prinsip pertambangan berkelanjutan. Bagi perusahaan, reklamasi bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan melestarikan keanekaragaman hayati.

Melalui penyelamatan tanaman endemik sebelum penambangan, pembibitan berbagai spesies lokal, hingga penanaman kembali di kawasan bekas tambang, PT Vale berupaya menghadirkan lanskap yang kembali hijau dan produktif.

Dengan kapasitas mencapai satu juta bibit per tahun, nursery di Pomalaa diharapkan menjadi motor utama pemulihan ekosistem sekaligus memastikan kawasan yang telah dieksploitasi dapat kembali menyerupai bentang hutan alami melalui program reklamasi yang berkelanjutan. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x