LAJUR.CO, KENDARI – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kesehatan, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo (UHO) menghadirkan inovasi yang memadukan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan bahan alam dari Indonesia.
Inovasi bernama Sistem Indikasi Analisis Kesehatan Urinaria dan Reproduksi (SI-AKUR) itu tak hanya mengantarkan mereka meraih Juara I MEDSMOTION 2026, tetapi menawarkan solusi skrining dini penyakit urinaria dan reproduksi yang lebih praktis dan mudah diakses masyarakat.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Cressendo Reifaldi, Aldu Three Bintang Aksa, dan Nabil Syayyid Alfatih, mahasiswa angkatan 2024 Fakultas Kedokteran UHO. Mereka menjadi yang terbaik pada ajang Lomba Video Edukasi MEDSMOTION 2026 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada 17–19 Juli 2026, setelah sebelumnya lolos ke jajaran 10 finalis terbaik tingkat nasional.
Salah satu anggota tim, Cressendo Reifaldi, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras, komitmen, serta kolaborasi seluruh anggota tim bersama dosen pembimbing selama proses persiapan.
“Keberhasilan ini bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Cressendo, Jumat (31/7/2026).
Menurut Cressendo, SI-AKUR dikembangkan karena masih banyak masyarakat yang terlambat mengetahui adanya gangguan kesehatan urinaria dan reproduksi. Kondisi itu dipengaruhi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, sekaligus rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
SI-AKUR menggabungkan dua komponen utama, yakni strip test biomarker berbasis bahan alam Indonesia dan aplikasi digital berbasis AI. Strip biomarker dibuat dari ekstraksi bunga telang, kunyit, dan pinang yang berfungsi mendeteksi tiga parameter penting, yaitu pH, inflamasi, dan nitrit sebagai indikator awal gangguan kesehatan.
Cara penggunaannya pun cukup sederhana. Pengguna hanya perlu mencelupkan tiga strip biomarker ke dalam sampel urine. Selanjutnya, aplikasi akan membaca perubahan warna pada strip menggunakan teknologi AI.
Hasil analisis tersebut kemudian dipadukan dengan data gejala yang diisi pengguna melalui kuesioner digital. Dari proses itu, aplikasi dapat memberikan hasil skrining awal, edukasi kesehatan, rekomendasi tindak lanjut, hingga membantu pengguna menemukan fasilitas kesehatan terdekat.
Cressendo mengungkapkan, proses persiapan menuju kompetisi berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah menyederhanakan konsep penelitian yang cukup kompleks menjadi video edukasi yang mudah dipahami masyarakat tanpa menghilangkan nilai ilmiahnya, di tengah padatnya aktivitas perkuliahan sebagai mahasiswa kedokteran.
Ia mengapresiasi dukungan penuh dari Fakultas Kedokteran UHO yang memberikan pembinaan, motivasi, serta berbagai fasilitas selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.
“Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi kami untuk tampil percaya diri di tingkat nasional,” katanya.
Meski telah meraih prestasi nasional, pengembangan SI-AKUR belum berhenti. Menurut Cressendo, inovasi tersebut masih harus melalui berbagai tahapan penelitian lanjutan sebelum dapat diproduksi secara luas dan diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ke depan, tim berharap dapat meningkatkan akurasi sistem AI, menyempurnakan aplikasi, serta membangun kolaborasi dengan dosen, peneliti, tenaga kesehatan, maupun mitra industri agar SI-AKUR dapat berkembang menjadi inovasi yang benar-benar memberikan manfaat nyata dalam mendukung deteksi dini penyakit urinaria dan reproduksi di Indonesia.
Laporan: Ika Astuti



