LAJUR.CO, KENDARI – Petani di Sulawesi Tenggara (Sultra) semakin terbebani akibat terus merangkaknya harga pupuk non-subsidi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga yang terjadi hampir setiap pekan membuat biaya produksi pertanian melonjak dan menekan daya beli petani.
Pemilik Toko Tani Maju, Aksin Akitasan, mengatakan lonjakan harga pupuk mulai terasa sejak munculnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok global. Kondisi tersebut diperparah dengan terganggunya distribusi internasional melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran penting dunia.
“Semua ini berkaitan dengan minyak. Jadi bukan lagi sekadar naik beberapa ribu rupiah, tetapi sudah berubah harganya secara signifikan hampir setiap minggu,” kata Aksin saat ditemui, Senin (1/6).
Menurutnya, harga berbagai jenis pupuk non-subsidi kini mengalami kenaikan sekitar 20 hingga 30 persen. Bahkan, bahan plastik yang digunakan sebagai kemasan pupuk, seperti karung dan kantong plastik, mengalami kenaikan harga hingga 100 persen.
Dampak kenaikan tersebut tidak hanya dirasakan pada sektor pupuk, tetapi juga hampir seluruh produk pertanian yang menggunakan bahan kemasan berbasis plastik. Selain itu, pasokan barang impor mulai terganggu sehingga memengaruhi ketersediaan produk di pasaran.
Beberapa jenis pupuk yang paling banyak dicari petani, seperti Urea, KCL, SP-36, dan berbagai jenis NPK, tercatat mengalami kenaikan harga cukup tajam.
Harga pupuk Urea non-subsidi yang sebelumnya berada di kisaran Rp400 ribu per karung kini melonjak menjadi sekitar Rp650 ribu per karung. Sementara itu, pupuk NPK 16-16-16 yang sebelumnya dijual sekitar Rp800 ribuan kini menyentuh kisaran Rp900 ribu per karung.
Aksin mengaku kesulitan menetapkan harga jual karena perubahan harga dari distributor terjadi hampir setiap pekan.
“Kami harus terus memperbarui harga. Tidak ada harga yang benar-benar tetap, sehingga cukup membingungkan bagi pedagang maupun pembeli,” ujarnya.
Selain dipengaruhi faktor global, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disebut menjadi salah satu pemicu kenaikan harga pupuk. Meningkatnya biaya transportasi membuat produsen dan distributor melakukan penyesuaian harga secara berkala.
Tak hanya harga yang terus merangkak naik, ketersediaan barang di pasaran juga mulai menipis. Sejumlah produk yang telah dipesan bahkan belum dapat dikirim karena keterbatasan bahan baku dan kemasan.
Kelangkaan kontainer turut memperlambat distribusi barang dari Surabaya ke Sulawesi Tenggara. Akibatnya, waktu pengiriman menjadi lebih lama dibandingkan biasanya.
“Bahkan sekarang barang mulai langka. Kadang kami sudah diminta menyetor dana lebih dulu agar pengiriman bisa dipercepat. Namun tetap saja prosesnya lambat, bahkan ada yang baru tiba setelah berbulan-bulan,” ungkapnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Aksin memilih membatasi jumlah stok yang tersedia di tokonya. Selain pasokan yang terbatas, ia juga melihat daya beli masyarakat menurun akibat lesunya perputaran ekonomi.
“Minat membeli sebenarnya masih ada, tetapi banyak yang tidak memiliki uang cukup ketika mengetahui harga terbaru. Kondisi ekonomi sedang lesu dan perputaran uang terasa lambat,” katanya.
Kenaikan harga pupuk yang terus berlanjut dikhawatirkan dapat berdampak pada produktivitas pertanian di Sultra. Jika kondisi ini terus terjadi, petani berpotensi menghadapi beban biaya produksi yang semakin berat menjelang musim tanam berikutnya.
Laporan: Ika Astuti




