LAJUR.CO, KENDARI – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat adanya pergeseran pola penyebaran kasus HIV/AIDS yang cukup signifikan pada tahun 2026. Jika sebelumnya didominasi oleh kelompok pekerja seks. Kini tren tersebut bergeser ke penyuka sesama jenis alias homoseksual yang disini dikenal dengan sebutan khas “boty”
Kepala Dinas Kesehatan Sultra, dr. Andi Edy Surahmat, mengatakan perubahan penyebaran kasus HIV/AIDS dari kelompok Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) ke perilaku penyimpangan seksual mengacu pada data hasil skrining yang dilakukan sepanjang tahun 2025 hingga tahun 2026.
Ia mengungkapkan, dari sekitar 900 orang yang terdata dalam skrining HIV/AIDS, sekitar 30 hingga 40 persen kasus berkaitan dengan hubungan sesama jenis.
“Kita cari 600 orang screening. Tahun 2026 bahkan dapat 900 orang, dari 900 kasus 30-40 persen dari hubungan homoseksual,” kata Andi, Rabu (29/4/2026).
Selain ada peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS, Dinkes menemukan fakta mencengangkan jika pola penyebaran penyakit berbahaya itu banyak berasal dari aktivitas homoseksual.
“Biasanya didominasi PSK, bergeser ke pelaku homoseksual,” ujar Andi. Pergeseran pola tersebut membuat Dinkes Sultra prihatin sebab tindak homoseksual berkaitan dengan perubahan perilaku penyimpangan yang tidak dibenarkan di tengah masyarakat.
“Kalau PSK kan karena motif ekonomi,” sambungnya.
Ia mengakui, dalam praktiknya, upaya penanganan HIV/AIDS terutama di kalangan homoseksual masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Sebab, rerata pelaku enggan muncul ke publik, bahkan menyembunyikan perilaku penyimpangan seksual yang dimiliki.
“Kadang kita main kucing-kucingan, kadang ada yang muncul kadang ada yang sembunyi,” pungkasnya.
Secara wilayah, kasus HIV/AIDS tertinggi berada di Kota Kendari, disusul Kota Baubau. Dua kota tersebut punya intensitas penyebaran tinggi sebab statusnya sebagai daerah transit dengan mobilitas penduduk cukup tinggi.
Tingginya arus keluar masuk orang, termasuk dari sektor pertambangan, menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan penyebaran kasus penyakit berbahaya tersebut.
“Kita ada bantuan dari Global Fund, Sultra jadi tempat perlintasan orang yang datang. Kita upayakan cari jalan untuk screening, sekarang banyak dari tambang,” jelasnya.
Ia menyebut, pihaknya tengah mendorong kerja sama dengan Balai Karantina Kesehatan untuk memperketat pengawasan terhadap pendatang dari luar daerah.
“Kita coba masuk kerja sama dengan KKP sekarang nama Balai Karantina Kesehatan, sehingga orang datang dari luar, kalau ditemukan yang begitu ya jangan masuk ke Sultra,” ujarnya.
Selain upaya skrining, Dinas Kesehatan menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan.
“Kita cegah lewat edukasi masalah agama. Kalau malu untuk hadir cukup zoom saja, sampaikan kalau penyimpangan seksual tidak bagus, undang tokoh agama dan yang kompeten baik dari Islam dan agama lain kasih pengertian,” tuturnya.
Pemerintah daerah pun terus berupaya menekan angka penyebaran HIV/AIDS melalui deteksi dini, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, mengingat dampaknya terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat. Adm





