LAJUR.CO, MUNA BARAT – Di balik lebatnya hutan di Kabupaten Muna Barat, tersimpan tradisi turun-temurun yang masih terus dijaga masyarakat hingga kini. Warga Suku Muna mengolah umbi kolope atau gadung (Dioscorea hispida), tanaman liar yang secara alami mengandung racun sianida mematikan, menjadi kuliner tradisional yang aman dikonsumsi sekaligus bernilai ekonomi.
Tradisi mengolah kolope tidak hanya mempertahankan warisan kuliner lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Dari umbi hutan yang semula mengandung racun, warga Muna berhasil menghadirkan pangan tradisional yang aman dikonsumsi, bernilai gizi, sekaligus mampu menghasilkan cuan setiap musim panen.
Melalui teknik pengolahan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, umbi hutan tersebut diubah menjadi panganan bercita rasa gurih dan menjadi sumber penghasilan musiman bagi warga. Setiap musim panen, kolope selalu diburu untuk dijual di pasar tradisional maupun dikonsumsi bersama keluarga.
Salah seorang pengolah kolope, Sufrianti, mengatakan musim panen umbi tersebut biasanya dimulai pada Juni. Pada periode itu, banyak warga masuk ke hutan untuk mencari kolope yang tumbuh liar sebelum kemudian diolah dan dipasarkan.
“Setiap tahun biasanya bulan enam sudah mulai panen. Kalau bawa 20 buah, biasanya habis semua. Bisa dapat sekitar Rp300 ribu,” kata Sufrianti kepada Lajur.co, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, kolope yang telah diolah dijual sekitar Rp15 ribu per buah. Dalam sekali berjualan, ia membawa sekitar 20 buah dan hampir seluruhnya habis dibeli masyarakat.
Di balik rasanya yang gurih, proses mengolah kolope tidak bisa dilakukan sembarangan. Umbi tersebut mengandung senyawa sianida (HCN) yang dapat membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan yang benar.
Karena itu, masyarakat Muna memiliki teknik pengolahan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun untuk menghilangkan kandungan racun pada umbi tersebut.
Prosesnya diawali dengan mengupas dan mengiris tipis umbi atau yang dikenal dengan istilah dodompae. Irisan kolope kemudian diperam di dalam lubang tertutup selama sekitar 10 hari.
Selama proses pemeraman, bagian atas tumpukan umbi diinjak setiap pagi agar cairan yang mengandung racun keluar secara bertahap.
Setelah itu, kolope memasuki tahapan doungkame, yakni direndam di air mengalir selama satu hari satu malam. Proses ini dilakukan agar sisa racun benar-benar larut sebelum umbi dikukus hingga matang.
“Setelah dikupas dan diiris, kolope diperam dulu 10 hari. Lalu direndam di air mengalir minimal satu hari satu malam supaya racunnya keluar,” jelasnya.
Setelah matang, kolope memiliki warna putih kekuningan dengan tekstur lembut dan aroma khas. Masyarakat biasanya menyantapnya bersama kelapa parut yang dicampur sedikit garam sehingga menghasilkan cita rasa gurih.
Selain menjadi makanan tradisional, kolope juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Dalam setiap 100 gram, umbi ini mengandung karbohidrat, protein, serat, kalium, fosfor, kalsium, zat besi, vitamin, hingga antioksidan alami yang bermanfaat bagi tubuh.
Bagi masyarakat Muna Barat, hutan bukan sekadar kawasan alami, tetapi juga menjadi sumber pangan yang telah dimanfaatkan sejak lama. Salah satunya adalah umbi kolope yang hanya tumbuh pada musim tertentu sehingga selalu dinantikan setiap tahun. Red




