LAJUR.CO, KENDARI – Pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Kabupaten Muna Barat yang digelar di Lapangan Sepak Bola Wamelai, Kecamatan Lawa, Kamis (23/7/2026).
Beragam produk unggulan dari 11 kecamatan dipamerkan, mulai dari kerajinan tangan hingga olahan pangan lokal yang mencerminkan potensi ekonomi kreatif masyarakat.
Sejumlah produk khas daerah yang ditampilkan dalam pameran tersebut, di antaranya anyaman nentu, olahan umbi-umbian, aneka makanan ringan, hingga kerajinan berbahan dasar batok kelapa dan hasil olahan ikan lokal.
Keberagaman produk UMKM itu menarik perhatian para tamu undangan, termasuk Anggota DPD RI, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, yang hadir sebagai tamu VIP pada peringatan HUT ke-12 Muna Barat. Salah satu produk yang paling menyita perhatiannya ialah kerajinan berbahan batok kelapa asal Desa Tangkumaho, Kecamatan Napano Kusambi.
Usai mengunjungi stan tersebut, Rabia melanjutkan peninjauan ke sejumlah stan kecamatan lainnya. Ia juga membeli beberapa produk UMKM, di antaranya anyaman nentu serta berbagai olahan pangan lokal sebagai bentuk apresiasi terhadap karya masyarakat.
Menurut Rabia, produk-produk UMKM di Muna Barat memiliki potensi besar untuk berkembang dan menembus pasar yang lebih luas. Namun, ia menilai peningkatan kapasitas pelaku usaha, khususnya dalam aspek pelatihan, pengemasan, dan standarisasi produk, masih menjadi kebutuhan utama.
“Produk UMKM di Muna Barat sangat beragam. Ada kerajinan, kacang-kacangan, hasil olahan umbi-umbian, dan lainnya. Ke depan memang perlu ada pelatihan agar hasil produksi UMKM ini dikemas sesuai standar sehingga bisa masuk ke pasar yang lebih luas, bahkan pasar internasional,” ujar Rabia.
Perhatian Rabia terhadap kerajinan batok kelapa mendapat sambutan positif dari Camat Napano Kusambi, La Ode Muslimin. Menurutnya, apresiasi tersebut menjadi motivasi bagi para pengrajin untuk terus mengembangkan produk berbasis potensi lokal.
Menurut Muslimin, wilayah Napano Kusambi memiliki potensi kelapa yang cukup melimpah. Di tangan para pengrajin, batok kelapa yang sebelumnya tidak banyak dimanfaatkan kini diolah menjadi produk kerajinan bernilai jual.
“Beliau (Rabia, red) sangat tertarik dengan kerajinan batok kelapa dan menanyakan bagaimana proses produksinya. Kami akan komunikasikan dengan para pengrajin. Mudah-mudahan tempurung kelapa yang selama ini tidak terpakai bisa dimanfaatkan dalam jumlah yang lebih besar,” jelasnya.
Selain kerajinan, produk olahan pangan lokal juga menjadi daya tarik dalam pameran. Salah satunya Sambal Bete-Bete asal Desa Latawe yang turut ditampilkan di stan Kecamatan Napano Kusambi.
Sekretaris Desa Latawe, Ronal, mengatakan sambal tersebut dibuat dari ikan bete-bete, komoditas lokal yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi rendah. Melalui inovasi pengolahan, ikan lokal tersebut kini diolah menjadi sambal kemasan yang memberi nilai tambah bagi kelompok usaha masyarakat.
“Sambal bete-bete ini diproduksi oleh kelompok rumah tangga yang sebelumnya bergantung pada penebangan kayu bakar. Ikan bete-bete di Desa Latawe itu tidak ada nilainya, bahkan kalau sudah banyak itu dibuang-buang,” kata Ronal.
Pameran UMKM menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-12 Kabupaten Muna Barat. Selain menjadi ruang promosi produk unggulan daerah, kegiatan ini juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jejaring dan memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Red



