LAJUR.CO, KENDARI – Kenaikan harga produk plastik dalam sepekan terakhir di Kota Kendari mulai dirasakan masyarakat dan pelaku usaha. Lonjakan harga plastik memicu seruan pemerintah daerah agar warga mulai beralih ke gaya hidup ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Salah satunya disampaikan Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran. Ia mengajak masyarakat memanfaatkan bahan alami berbasis kearifan lokal sebagai alternatif pengganti plastik. Menurutnya, daerah seperti Kota Kendari punya memiliki banyak pilihan bahan non-plastik yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kembali ke penggunaan bahan natural. Kita pakai cerek berbasis kaca guna ulang, kita gunakan anyaman, nentu untuk pengalas, besek. Pemanfaatan bahan baku natural yang digunakan bisa kurangi sampah plastik, gunakan cerek berbahan kaca,” ujar Siska diwawancarai di sela pertemuan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sultra, Rabu (15/4/2026).

Ia mendorong penggunaan wadah minum berbahan kaca dalam kegiatan pertemuan, termasuk di lingkungan pemerintahan. Selain lebih ramah lingkungan, langkah sederhana menekan penggunaan botol plastik sekali pakai bisa menekan polusi sampah plastik.
Di sisi lain, kenaikan harga plastik mulai memberatkan masyarakat. Sejumlah warga mengaku harus menyesuaikan pengeluaran akibat naiknya harga kemasan. Kondisi tersebut mendoring masyarakat mulai beralih menggunakan produk wadah guna ulang agar lebih hemat.
“Biasanya beli es teh 5000 tiba-tiba naik 7000. Otomatis saya harus pulang ambil lagi. Biasanya beli nasi dibungkus box sekaraang di kertas. Katanya mahal. Kalau kita emak-emak kan perhitungan sekali. Kalau begitu kita bawa tumbler saja,” ujar Nasda, warga Anaiwoi.
Sementara itu, pelaku usaha turut terdampak oleh lonjakan harga. Pantauan lajur.co, dalam sepekan terakhir, hampir seluruh jenis produk plastik mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Karyawan toko perlengkapan plastik di Kendari, Hasna, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi sejak minggu lalu. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebabnya, namun mendengar adanya faktor global yang memengaruhi.
“Memang sudah naik sejak minggu lalu. Katanya karena situasi perang, tapi kami juga tidak tahu pasti. Yang jelas harga dari distributor sudah naik,” ujar Hasna, Sabtu (4/4/2026).
Rincian kenaikan harga bervariasi. Kantong plastik ukuran kecil yang sebelumnya sekitar Rp9 ribu kini menjadi Rp14 ribu per pak. Tutup minuman naik dari Rp10 ribu menjadi Rp14 ribu.
Wadah makanan berbahan styrofoam mengalami kenaikan dari Rp33 ribu menjadi Rp36 ribu. Sementara wadah berbahan mika melonjak dari Rp27 ribu menjadi Rp34 ribu per pak.
Selain harga, ketersediaan barang juga mulai terbatas. Beberapa produk seperti styrofoam dilaporkan kosong di pasaran.
“Banyak barang kosong, seperti styrofoam sudah habis semua,” kata Hasna.
Lonjakan harga tersebut berdampak pada aktivitas jual beli. Sejumlah pelanggan disebut terkejut dengan harga baru, bahkan ada yang memilih menghentikan sementara usaha karena biaya operasional meningkat.
“Pembeli banyak yang kaget, ada juga yang berhenti dulu jualan karena harga terlalu mahal,” ungkapnya.
Hasna menambahkan, kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi sejak toko tersebut beroperasi pada 2017 dan berpotensi kembali meningkat.
“Selama ini belum pernah setinggi ini. Katanya masih bisa naik lagi ke depannya,” tutupnya.
Meski belum terjadi pergeseran signifikan dalam pola konsumsi, kondisi ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mendorong kesadaran masyarakat agar mulai beralih ke penggunaan wadah guna ulang dan bahan alami demi menekan sampah plastik di lingkungan. Adm




