LAJUR.CO, KENDARI – Bagi sebagian orang, liburan akhir pekan menjadi momen yang tepat untuk mengeksplor keindahan alam di daerah sekitar. Hal ini pula yang dilakukan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Edwin Permadi, saat berada di Kabupaten Muna, Jumat (1/5/2026).
Edwin Permadi memanfaatkan waktu disela-sela kunjungan kerjanya untuk mengeksplor gua Liang Kabori. Gua dengan ratusan lukisan dinding tua cadas berusia sekitar 4.000 tahun itu merupakan salah satu situs prasejarah unggulan di Pulau Muna.
Lukisan tersebut menggambarkan aktivitas manusia masa lampau, mulai dari berburu hingga bercocok tanam. Edwin pun mengaku terpukau dengan suasana dalam gua yang menyimpan jejak kehidupan purba kala itu.
Edwin mengatakan, pengalamannya ini seharusnya juga dirasakan oleh masyarakat Sultra yang lain. Ia mengajak warga untuk lebih mengenal dan mengunjungi destinasi wisata lokal.
“Kabarnya, banyak orang asing datang ke sini. Nah, kalau kita yang di Sultra kenapa tidak? Ini kebudayaan kita yang harus dilestarikan,” ujar Edwin saat mengeksplor suasana di dalam gua Liang Kabori.
Ia juga takjub melihat langsung keindahan dan nilai sejarah yang selama ini hanya ia saksikan melalui media.
“Biasanya cuma lihat di TV atau koran. Tapi saat datang langsung, rasanya luar biasa,” pungkasnya.
Sejumlah destinasi lain yang tak jauh dari Liang Kabori di antaranya Puncak Wakila, Danau Napabale, juga turut dikunjungi Edwin selama di Muna.
Selain menjelajahi situs sejarah, Edwin juga mengaku kangen dengan kain tenun khas Masalili yang menjadi salah satu identitas budaya Muna. Bukan tanpa alasan, tenun Masalili diketahui telah menjadi salah satu usaha binaan BI Sultra.
Produk tenun Masalili sendiri kerap tampil di berbagai ajang, mulai dari tingkat regional hingga nasional. Salah satunya melalui partisipasi dalam Maimo Sharia Festival yang menjadi bagian dari rangkaian Harmoni Sultra pada peringatan HUT ke-62 Sultra di Kendari.
Ke depan, karya tenun Masalili juga direncanakan akan kembali diikutsertakan dalam kompetisi di Mataram. Jika berhasil, produk tersebut akan dibawa ke Jakarta guna dipersiapkan untuk menembus pasar internasional.
“Kalau berhasil di Mataram, kita bawa ke Jakarta, lalu ke internasional. Ini salah satu sumbangsih kami untuk mendorong budaya yang luar biasa eksotis ini,” jelasnya.
Tak hanya bertemu dengan perajin tenun, ia juga sekaligus menikmati pengalaman sebagai wisatawan di daerah sendiri.
Kekayaan wisata di Muna, kata Edwin, tidak hanya terletak pada situs sejarah seperti Liang Kabori, tetapi juga didukung oleh budaya lokal yang kuat. Ia pun mendorong adanya berbagai event atau kegiatan pendukung agar destinasi tersebut semakin ramai dikunjungi wisatawan. Red





