LAJUR.CO, KENDARI – Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, memutuskan menghentikan program beasiswa kerja sama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF).
Sebelumnya, lewat program kemitraan itu, setiap tahun Pemprov Sultra memiliki kuota khusus untuk mengirim putra-putri terbaik melanjutkan pendidikan ke Sampoerna University. Universitas ini diketahuui punya jejaring dengan University of Arizona dan dikenal sebagai kampus berstandar internasional. Namun, mulai 2026, Pemprov Sultra menyetop kerjasama sehingga kuota tersebut ditiadakan.
ASR memilih menghentikan pendanaan program tersebut dan menggantinya dengan skema baru menggunakan dana pribadi. Ia menggelontorkan Rp1,8 miliar untuk dialokasikan ke 150 mahasiswa asal Sultra.
Keputusan tersebut diambil setelah menemukan jika mayoritas penerima beasiswa sebelumnya tidak memiliki komitmen kembali ke daerah usai menyelesaikan pendidikan.
“Beasiswa Sampoerna, saya sebelumnya sudah komunikasi dengan yang bersangkutan. Termasuk saat saya komunikasi dengan mahasiswa, satu pun tidak ada yang mau kembali ke Sultra. Karena tidak ada yang mau kembali, dari enam orang saya panggil dan saya undang, tidak ada yang kembali,” cetus ASR menceritakan ihwal pemutusan program beasiswa Sampoerna kepada media, Kamis (30/4/2026).
Tidak ada komitmen untuk kembali membangun daerah. Mohon maaf, kecuali ada komitmen kembali untuk membangun Sultra,” sambungnya.
Sebagai pengganti, Pemprov membuka program beasiswa baru yang didanai langsung Gubernur Sultra. ASR memilih tak menggunakan APBD agar proses penyaluran beasiswa bisa berjalan cepat.
Total anggaran dirogoh dari kocek pribadi ASR mencapai Rp1,8 miliar. Jumlah itu dibagi untuk 150 penerima beasiswa, mencakup jenjang S1, S2, hingga S3. Khusus S2 dialokasikan sebanyak 30 orang, sedangkan S3 sebanyak 20 orang.
Menurut ASR, penggunaan dana pribadi dipilih agar proses penyaluran bantuan tidak terhambat prosedur anggaran pemerintah yang memerlukan waktu panjang.
“Kalau beasiswa harus pakai perda, prosesnya akan lama. Karena tidak masuk dalam anggaran, maka saya bersama keluarga mengikhlaskan memberi bantuan kepada yang sudah terdaftar. Kalau mulai dari awal, waktunya terlalu panjang,” katanya.
Program baru tersebut difokuskan pada kampus-kampus di wilayah Sultra. Proses seleksi melanjutkan rekrutmen sebelumnya sehingga penyaluran bisa segera dilakukan.
“Yang sudah diverifikasi kita utamakan, terutama yang berada di Sultra. Yang sudah terdaftar lama, dalam waktu dekat bulan Mei ini, 150 penerima beasiswa sedang dihubungi satu per satu. Setelah diserahkan, kita minta supaya tepat sasaran dan benar-benar membawa manfaat untuk peningkatan kualitas SDM dan pembangunan di Sultra,” tutupnya. Adm





