LAJUR.CO, KENDARI – Kabar keengganan Andi Sumangerukka tampil kembali pada periode kedua Pilgub Sulawesi Tenggara (Sultra) ramai menyeruak ke publik. Informasi tersebut berhembus usai ASR menggelar pertemuan dengan sejumlah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Sultra belum lama ini.
Dikonfirmasi terkait sikap politik menghadapi Pilgub Sultra mendatang, mantan Pangdam Hasanuddin itu hanya menjawab dengan senyum simpul. ASR menilai terlalu dini menggoreng isu Pilgub Sultra. Masa pengabdian memimpin Bumi Anoa bersama Wakil Gubernur Hugua saja masih seumur jagung. Baru menginjak usia satu tahun.
“Oh, masih lama, Pak, sudah. Sekarang baru 2026, ya. Jadi, sebenarnya masih ada 4 tahun. Nah, berikanlah kesempatan kepada saya dulu untuk bekerja,” ucap ASR yang kala itu didampingi sang istri, Arinta Nila Apsari, usai menyerahkan beasiswa Sultra Cerdas di Rujab Gubernur Sultra, Jumat (22/5/2026).
ASR kemudian memberi kode jika keputusan tampil atau tidak pada periode kedua akan dirembukkan lebih dulu bersama keluarga. Terutama sang istri yang diakui ikut merasakan beban dan risiko sebagai pendamping seorang kepala daerah.
“Terus, ‘Bagaimana ke depan?’ Ya, saya bilang: belum tentu. Kan saya bilang… iya kan? Belum tentu ada rekamannya. Saya bilang, ‘Iya, saya ke depan belum tentu saya mau maju.’ Ya, saya juga lihat istri saya, istri saya setuju enggak? Keluarga saya setuju enggak? Karena apa? Yang merasakan kan kita ini dengan keluarga, kan gitu, kan? Setuju enggak?” katanya sambil melirik sang isteri yang berdiri tepat di samping ASR.
ASR menjelaskan, pembahasan mengenai kepemimpinan hingga sikap politik pada Pilgub mendatang muncul saat dirinya berdiskusi santai bersama para mahasiswa.
“Nah, kalau bicara masalah isu, saya yakin itu mungkin cerita-cerita setelah saya bicara-bicara lepas-lepas dengan adik-adik,” ujar ASR lagi.
Ada sesi ketika ia banyak curhat ke mahasiswa tentang beban besar di balik empuknya kursi Gubernur Sultra. Setahun menjabat, ASR bilang banyak ujian dan pengorbanan yang tak terlihat di publik tapi mesti dihadapi seorang kepala daerah.
“Nah, saya memberikan gambaran bahwa untuk menjadi pemimpin, ya, harus siap. Siap apa? Siap untuk korban perasaan. Kan pemimpin itu adalah pribadi-pribadi yang dikorbankan. Mungkin dia punya banyak keinginan, tapi karena dia berhadapan dengan keinginan orang banyak, maka dia harus korbankan keinginannya dia, ya kan gitu? Harus rela untuk mengorbankan keinginannya dia. Harus dia bisa mengakomodir keinginan orang banyak,” jelas ASR.
“Nah, itu yang akan terjadi pada setiap pemimpin. Nah, oleh karena itu saya kasih tahu sama adik-adik bahwa Anda harus siap kalau ingin jadi pemimpin. Makanya saya, di dalam ruangan saya, saya tunjukkan. Itu loh, itu kursi itu, kalau kau mau duduk di situ, kau harus siap-siap,” sambungnya.
Diskusi lepas itu, kata ASR, sejatinya tidak mencerminkan keputusan politiknya. Apalagi, panggung Pilgub masih sangat jauh. Masih banyak “PR” pembangunan, termasuk janji politik yang mesti direalisasikan.
“Sekarang ini, ya kita harus bekerja saja dulu 4 tahun. Saya, ya, enggak mau memberikan komentar apakah saya maju apa tidak pada tahun 2029. Karena apa? Ya, masih banyak pekerjaan. Kok sekarang sudah bicara tentang itu, masih banyak pekerjaan. Nah, kalau tanya-tanya apakah iya, gitu kan? Nah, saya tadi: belum tentu saya maju. Iya kan? Nah, kata-katanya itu,’ ulas ASR panjang lebar.
Secara diplomatis, ASR menyatakan masih ingin menyelesaikan satu per satu tanggung jawabnya sebagai Gubernur Sultra. Ia sama sekali enggan menyinggung ranah politik, terutama kompetisi mempertahankan kursi 01 di periode kedua yang menurutnya masih sangat jauh.
“Aduh,, kita, kita ini kan mau bekerja aja dulu, jadi step by step. Artinya, apa yang kita kerjakan, itu itu dulu, ya. Enggak usah dulu bicara dulu 2029, masih jauh gitu,” pungkas ASR. Adm





