LAJUR.CO, KENDARI – Balai Taman Nasional (BTN) Wakatobi menegaskan tidak pernah memberikan kewenangan kepada Wakatobi Dive Resort untuk melarang operator selam lain beraktivitas di zona yang sama di kawasan Taman Nasional Wakatobi.
Penegasan itu disampaikan menyusul viralnya video di media sosial yang memperlihatkan kapal pembawa wisatawan asal Prancis dicegat saat hendak melakukan aktivitas penyelaman di perairan Tomia, Kabupaten Wakatobi.
Sebelumnya, warga lokal Tomia yang membawa wisatawan asal Prancis untuk menyelam dicegat pihak Wakatobi Dive Resort, salah satu operator wisata selam yang beroperasi di Pulau Onemobaa, bagian dari gugusan Pulau Tomia. Namun hingga kini belum diketahui secara pasti alasan pihak resort meminta mereka meninggalkan lokasi tersebut.
Detik-detik peristiwa tersebut diunggah wisatawan Prancis melalui akun TikTok The_Siam_Odyssey pada 6 Juni 2026 dan menuai beragam tanggapan warganet. Dalam video itu terlihat sebuah kapal mendatangi perahu yang ditumpangi warga lokal bersama wisatawan asing saat berada di sekitar lokasi penyelaman.
Humas BTN Wakatobi, Hendrawan, membenarkan pihak yang melakukan pelarangan dalam peristiwa tersebut adalah Wakatobi Dive Resort (WDR). Ia menegaskan BTN Wakatobi tidak pernah memberikan kewenangan kepada WDR untuk melarang operator selam lain beraktivitas di kawasan yang sama.
“(Yang mengusir, red) pihak WDR. BTN Wakatobi tidak pernah memberikan kewenangan/membenarkan jika WDR boleh melarang operator selam lain beraktivitas di zona yang sama,” tegas Hendrawan, Kamis (11/6/2026).
Lokasi yang menjadi sorotan dalam video tersebut, jelas Hendrawan merupakan bagian dari Zona Pemanfaatan Taman Nasional Wakatobi. Setiap pengunjung wajib melapor kepada petugas BTN Wakatobi melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah terdekat.
“Sesuai ketentuan, setiap pengunjung/wisatawan yang masuk ke dalam kawasan wajib melapor kepada petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wakatobi wilayah terdekat,” ujarnya.
Hendrawan menambahkan, pengelolaan kawasan BTN Wakatobi dilakukan berdasarkan sistem zonasi. Kata dia, kewenangan melakukan tindakan preemtif, preventif, maupun represif terhadap pelanggaran di dalam kawasan berada pada petugas taman nasional.
“Balai Taman Nasional Wakatobi dikelola dengan sistem zonasi. Petugas Taman Nasional berwenang memberi tindakan preemtif, preventif dan represif,” kata Hendrawan.
Sementara itu, wisatawan asal Prancis yang berada di atas kapal saat kejadian mengatakan insiden itu berlangsung saat rombongannya hendak memasuki titik penyelaman bernama Roma di sekitar Pelabuhan Waaha, Pulau Tomia.
Kepada lajur.co, Selasa (9/6), turis Prancis dengan nama “Bule Gacor” menceritakan kronologi peristiwa tersebut dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh redaksi.
Menurut dia, kejadian bermula saat sebuah kapal keamanan mendatangi rombongan sebelum penyelaman dimulai. “Kapal itu mendekati kami dengan cukup agresif. Saya tidak cukup menguasai bahasa Indonesia untuk memahami setiap kata, tetapi saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa mereka berulang kali memberi isyarat kepada staf Indonesia serta divemaster kami untuk pergi,” ujarnya.
Bule Gacor mengaku divemaster / operator selam yang membawanya merupakan warga lokal Tomia yang selama ini berkomunikasi baik dengan petugas taman nasional terkait aktivitas penyelaman di kawasan tersebut.
Saat melanjutkan perjalanan, sebuah kapal pengelola resort eksklusif milik Lorens Mader menghampiri rombongan turis Prancis. Perdebatan pun tetap terjadi meski divemaster lokal menjelaskan bahwa dirinya merupakan warga Tomia yang sedang membawa tamu untuk melakukan penyelaman di lokasi tersebut.
Kata Bule Gacor bahwa “kapal itu memang sudah beroperasi di area tersebut, tampaknya sedang mengawasi proses naik ke permukaan salah satu kelompok penyelam mereka, karena mereka sudah memasang surface marker buoy dan hampir menyelesaikan penyelaman”.
Ia pun menilai area penyelaman tersebut cukup luas untuk digunakan lebih dari satu kelompok penyelam dalam waktu yang sama.
“Kami berada jauh dari posisi mereka, namun mereka tetap mendatangi kami dan kembali terjadi perdebatan. Divemaster kami tidak mengalah karena mereka sudah berulang kali mengalami hal serupa,” tuturnya.
Namun terlepas dari insiden tersebut, Bule Gacor mengaku tetap memiliki kesan positif selama menjelajahi Sulawesi Tenggara (Sultra). Ia menyebut masyarakat di daerah ini sangat ramah dan menyambut wisatawan asing dengan baik.
“Saya menyukai wilayah ini. Masyarakat lokal sangat ramah dan menyambut saya dengan hangat. Ini adalah daerah favorit saya di seluruh Indonesia,” katanya.
Bule Gacor mengaku telah mengunjungi sejumlah wilayah di Sultra seperti Buton Selatan, Buton Tengah, Muna, Siompu, dan Kaledupa. Red




