LAJUR.CO, KENDARI – Publikasi temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pengakuan Guinness World Records terhadap lukisan cadas di Gua Metanduno mulai membawa dampak nyata bagi sektor pariwisata di Kabupaten Muna. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan wisata prasejarah Desa Lia Ngkabhori, Kecamatan Lohia, mencapai ribuan orang.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna, L. M. Masrul, mengatakan jumlah kunjungan selama semester pertama 2026 mencapai 4.415 orang. Ia menyebut hal itu menunjukkan tingginya minat wisatawan untuk melihat langsung situs yang kini dikenal sebagai lokasi seni lukis nonfiguratif tertua di dunia.
“Data dihimpun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), jumlah pengunjung keseluruhan dari Januari sampai Juni sebanyak 4.415 orang,” ujar Masrul saat diwawancarai, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan data tersebut, kunjungan wisatawan tercatat sebanyak 300 orang pada Januari, 700 orang pada Februari, 1.515 orang pada Maret, 800 orang pada April, 700 orang pada Mei, dan 400 orang hingga Juni 2026.
Tak hanya wisatawan domestik, kawasan Lia Ngkabhori dan Metanduno juga ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. Mereka datang dari berbagai negara seperti Prancis, Italia, Filipina, Thailand, Arab Saudi, Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Belanda, Jepang, hingga Australia.
“Yang paling banyak dari negara Prancis,” kata Masrul.
Peningkatan kunjungan tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Lia Ngkabhori. Kepala Desa Lia Ngkabhori, Farlin, mengatakan kawasan wisata itu kini hampir setiap hari menerima kunjungan turis.
Menurut Farlin, lonjakan kunjungan tidak terlepas dari publikasi hasil penelitian BRIN yang dimuat dalam jurnal ilmiah Nature pada Januari 2026.
“Alhamdulillah meningkat pesat. Sejak munculnya rilis lukisan tapak tangan tertua di dunia, boleh dikata setiap hari ada pengunjung saat ini, baik lokal maupun mancanegara,” ujarnya.
Hasil penelitian BRIN tersebut mengungkap keberadaan lukisan cadas berusia sekitar 67.800 tahun di Gua Metanduno yang kemudian diakui sebagai seni cadas tertua di dunia.
Pengakuan itu semakin diperkuat setelah Guinness World Records menetapkan lukisan cadas cap tangan manusia di Gua Metanduno sebagai seni lukis nonfiguratif tertua di dunia. Status itu membuat nama Pulau Muna semakin dikenal di kalangan peneliti, pelajar, hingga wisatawan internasional.
Selain menawarkan keindahan alam kawasan karst, Lia Ngkabhori dan Metanduno kini berkembang sebagai destinasi wisata edukatif yang memperkenalkan jejak kehidupan manusia purba.
Di dalam Gua Metanduno, pengunjung dapat menyaksikan sedikitnya 316 gambar cadas yang tersebar di berbagai sudut gua, mulai dari cap tangan, figur manusia, hewan, hingga berbagai simbol yang diyakini menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat prasejarah.
Aktivitas wisata di kawasan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran mengenai sejarah, arkeologi, dan evolusi peradaban manusia. Karena itu, banyak wisatawan yang tertarik mempelajari warisan budaya dunia di Pulau Muna.
Untuk menikmati wisata edukatif tersebut, pengunjung hanya dikenakan tarif masuk Rp5.000 per orang. Adapun tarif parkir kendaraan roda dua sebesar Rp5.000, roda empat Rp10.000, dan jasa pemandu wisata Rp150.000 apabila dibutuhkan.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat pasca publikasi temuan BRIN dan pengakuan Guinness World Records, masyarakat berharap popularitas situs prasejarah di Lia Ngkabhori dapat mendorong pengembangan pariwisata di Kabupaten Muna. Red




