LAJUR.CO, KENDARI – Harga emas batangan kembali menunjukkan tren penurunan pada awal semester II 2026. Setelah sempat menembus rekor lebih dari Rp3 juta per gram pada awal tahun, kini harga emas di Pegadaian turun ke kisaran Rp2,6 juta hingga Rp2,7 juta per gram, membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi.
Pada Senin (29/6/2026), harga emas Antam kembali terkoreksi sebesar Rp15.000 per gram. Berdasarkan daftar harga terbaru di Pegadaian, emas Antam dibanderol Rp2.751.000 per gram, sedangkan emas Galeri 24 dijual Rp2.627.000 per gram.
Dengan demikian, harga emas Galeri 24 lebih murah Rp124.000 per gram dibandingkan emas Antam.
Jika dibandingkan dengan harga tertinggi yang sempat tercatat pada akhir Januari 2026, harga emas saat ini mengalami penurunan cukup signifikan. Kala itu, emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menyentuh Rp3.168.000 per gram.
Artinya, harga emas kini telah terkoreksi sekitar Rp417.000 hingga Rp541.000 per gram, tergantung jenis dan tempat pembelian. Sebelumnya, pada awal 2026, harga emas masih berada di kisaran Rp2.488.000 per gram sebelum melonjak tajam akibat meningkatnya ketidakpastian pasar global.
Salah seorang petugas Pegadaian, Seci, mengatakan tren penurunan harga emas justru menjadi momentum yang baik bagi masyarakat yang ingin memulai investasi logam mulia.
“Kalau lagi turun begini bagus untuk investasi,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Senin (29/6/2026).
Selain penurunan harga, Pegadaian juga memberikan promo khusus berupa potongan uang muka (DP) sebesar Rp30.000 per gram bagi masyarakat yang membeli emas pada hari ini.
“Ada promo potongan DP Rp30 ribu per gram, berlaku hari ini,” katanya.
Turunnya harga emas dinilai memberikan kesempatan bagi calon investor untuk membeli logam mulia dengan harga yang lebih rendah dibandingkan saat mencapai puncak harga beberapa bulan lalu. Meski begitu, pergerakan harga emas tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, nilai tukar mata uang, hingga dinamika pasar keuangan internasional.
Laporan: Ika Astuti




