LAJUR.CO, KENDARI – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, menyambangi Sultra dalam rangkaian roadshow nasional menjelang Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upayanya menyosialisasikan gagasan perubahan.
Di saat yang sama, ia memperkuat silaturahmi dengan warga Nahdliyin serta jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sultra.
Gus Salam tiba di Bandara Halu Oleo Kendari, Selasa (7/7/2026). Kedatangannya disambut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sultra KH Muslimin bersama jajaran pengurus PWNU dan PCNU. Begitu landing, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur itu menerima penyambutan adat melalui pemasangan Kampurui Tolaki. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap kearifan budaya lokal Sultra.
Sultra sendiri menjadi provinsi ke-19 yang dikunjungi Gus Salam dalam safari silaturahmi ke berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian kunjungan itu dilakukan menjelang Muktamar PBNU yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus 2026.
“Di sini memang sengaja kami untuk bersilaturahmi dengan seluruh stakeholder PWNU dan PCNU Sultra. Kami berharap silaturahmi ini membawa banyak manfaat dan keberkahan,” ujar Gus Salam kepada awak media.
Selama berada di Kendari, Gus Salam dijadwalkan mengikuti berbagai agenda bersama keluarga besar Nahdlatul Ulama. Kegiatannya meliputi silaturahmi dan diskusi bersama jajaran PWNU serta PCNU se-Sultra. Pertemuan diisi bedah buku, dialog bersama warga Nahdliyin, hingga memaparkan gagasan dan visi perubahan yang diusungnya menjelang Muktamar PBNU.
Selanjutnya, Gus Salam bergerak mengunjungi sejumlah pondok pesantren Ulumul Quran. Ia ikut dijadwalkan mengikuti kegiatan mengaji bersama. Di akhir roadshow, Gus Salam bakal meramaikan ajang nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 di Pondok Pesantren Ulul Quran.
Saat silaturahmi, Gus Salam mengapresiasi PWNU Sultra yang telah memfasilitasi pertemuannya dengan pengurus NU di daerah. Menurutnya, setiap kunjungan selalu diawali dengan berkoordinasi bersama pengurus wilayah. Langkah tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap tata kelola organisasi Nahdlatul Ulama.
“Alhamdulillah setiap kami datang di wilayah pasti melalui PWNU, karena kami sangat menghormati kewilayahan di daerah. Maka kami ingin masuk dengan cara yang baik, sopan dan terbuka,” ungkapnya.
Melalui safari tersebut, Gus Salam membawa gagasan agar PBNU semakin berakar pada kepemimpinan para kiai. Ia mendorong penguatan peran pesantren sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Menurutnya, PBNU harus menjadi jembatan perubahan bagi Nahdlatul Ulama dalam menghadapi tantangan zaman.
KH Abdussalam Shohib merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Ia juga merupakan cucu pendiri NU dari Jombang. Gus Salam menjadi salah satu figur yang disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar 2026.
Selain Gus Salam, sejumlah tokoh diperkirakan akan meramaikan kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU. Di antaranya petahana Gus Yahya, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, serta KH Zulfa Mustofa.
Muktamar PBNU 2026 dipandang menjadi momentum strategis bagi Nahdlatul Ulama untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi lima tahun ke depan. Sejumlah kandidat diperkirakan akan menawarkan beragam gagasan untuk memperkuat peran ulama, pesantren, dan kontribusi NU dalam menjawab tantangan kebangsaan.
Laporan: Ika Astuti



