BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Melawan Stigma Profesi Jurnalis, Aqua Dwipayana Motivasi Wartawan Jadi ‘Londo Ireng’ yang Baik

×

Melawan Stigma Profesi Jurnalis, Aqua Dwipayana Motivasi Wartawan Jadi ‘Londo Ireng’ yang Baik

Sebarkan artikel ini
Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana memberi motivasi ke jurnalis Sulawesi Tenggara saat program Capacity Building Media Bank Indonesia (BI) bertajuk “Merangkai Narasi Pembangunan Desa Wisata yang Inspiratif dan Berdampak melalui Storytelling, Kolaborasi dan Komunikasi” di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).
Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana memberi motivasi ke jurnalis Sulawesi Tenggara saat program Capacity Building Media Bank Indonesia (BI) bertajuk “Merangkai Narasi Pembangunan Desa Wisata yang Inspiratif dan Berdampak melalui Storytelling, Kolaborasi dan Komunikasi” di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).

LAJUR.CO, KENDARI — Menjadi jurnalis bukan sekadar soal siapa yang paling cepat mendapatkan berita. Di balik rutinitas mengejar narasumber, menulis, dan mengejar tenggat, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjaga kebenaran, integritas, dan kepercayaan publik.

Pesan itu disampaikan motivator nasional sekaligus pakar komunikasi Aqua Dwipayana saat menutup rangkaian roadshow Capacity Building Media Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra) bertajuk “Merangkai Narasi Pembangunan Desa Wisata yang Inspiratif dan Berdampak melalui Storytelling, Kolaborasi dan Komunikasi” di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026). Sekitar 30 jurnalis asal Sultra mengikuti kegiatan tersebut, mengeksplorasi Desa Wisata Pentingsari sambil memperkuat skill mengemas isu wisata menjadi cerita yang menarik dan berdampak.

Bagi Aqua, forum tersebut bukan sekadar tempat berbagi pengetahuan. Ia mengajak para jurnalis sejenak keluar dari rutinitas. Melihat kembali profesi yang mereka jalani, sekaligus mempertanyakan berita seperti apa jejak yang ingin ditinggalkan kepada pembaca?

Pertanyaan itu terasa dekat bagi Aqua. Pria kelahiran 23 Januari 1970 tersebut pernah menjadi wartawan. Dunia pers menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebelum kemudian dikenal sebagai motivator, pembicara, penulis, dan pakar komunikasi yang mengisi berbagai forum di dalam dan luar negeri.

Pengalaman itulah yang membuat Aqua memahami dinamika profesi wartawan. Ada tekanan, tuntutan kecepatan, kepentingan, hingga stigma yang sesekali melekat pada profesi tersebut.

Salah satunya istilah ‘londo ireng’ yang pernah digunakan Presiden Prabowo Subianto untuk menyebut wartawan.

Baca Juga :  SMAN 2 Kendari Sambut 432 Siswa Baru: Kenalkan Budaya Sekolah & Edukasi Anti Bullying

“Profesi wartawan itu sangat mulia, jangan dicederai. Walaupun teman-teman ini dikategorikan oleh Pak Prabowo sebagai ‘londo ireng’. Nah, justru bagaimana menjadi ‘londo ireng’ yang baik, serta bagaimana kita selalu bersyukur,” ujar Aqua.

Bagi Aqua, stigma tidak perlu dilawan dengan kemarahan. Cara paling kuat menjawabnya adalah melalui sikap dan karya. Wartawan bisa menunjukkan profesinya tetap mulia ketika dijalankan dengan kemampuan, integritas, dan tanggung jawab.

Perjalanan Aqua sendiri menjadi contoh bagaimana seseorang tidak harus berhenti pada satu profesi. Pria berdarah tulen Minangkabau itu kini dikenal luas sebagai pembicara profesional. Ia mengaku telah mengunjungi 34 provinsi di Indonesia dan 35 negara serta berbicara di hadapan lebih dari tiga juta orang.

Ia banyak menelurkan buku. Termasuk sejumlah karya yang menjadi best seller. Salah satunya Dari Desa Sampai ke Residen Putih. Isinya turut mengangkat pengalaman dan komunikasi yang pernah dilakukannya melalui BlackBerry Messenger (BBM). Buku tersebut dibagikan saat promosi doktor di Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 15 April 2016.

Dari perjalanan panjang itu, Aqua membawa satu pesan kepada para jurnalis, jangan cepat puas.

“Jangan pernah puas dengan pencapaian yang ada sekarang. Setiap ada kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, baik formal maupun informal, lakukanlah,” katanya.

Menurutnya, pendidikan dan kemampuan harus terus diperbarui. S2 bukan akhir jika masih ada kesempatan melanjutkan ke S3. Begitu pula pengalaman kerja bukan alasan untuk berhenti belajar.

Baca Juga :  Ketua RT Tagih Janji Rp100 Juta, Siska Sebut Realisasi Tahun Depan

“Tidak ada yang tidak mungkin,” tegasnya.

Namun, kemampuan saja belum cukup. Bagi Aqua, kompetensi harus berjalan bersama karakter. Ia kemudian menitipkan prinsip 3K: kredibilitas, komitmen, dan konsistensi.

Kredibilitas membuat orang percaya. Komitmen menunjukkan kesungguhan. Konsistensi membuktikan bahwa kepercayaan itu layak dipertahankan.

Bagi wartawan, ketiganya menjadi modal penting untuk membangun karier jangka panjang. Profesi jurnalistik, kata Aqua, jangan sampai terjebak pada hubungan yang hanya bersifat transaksional. Yang lebih penting adalah membangun kepercayaan.

“Konsisten saja, jangan ragu-ragu. Kalau Allah butuh, akan Allah cari dengan jalan lain,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak jurnalis melihat pekerjaan dari sisi yang lebih sederhana. Penghasilan penting, tetapi jangan menyamakan gaji dengan rezeki. Dalam bekerja, ia mengingatkan prinsip 4AS, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas.

Pesan itu menjadi semakin personal ketika Aqua berbicara soal keluarga.

Dunia jurnalistik mengenal tenggat. Berita mendadak. Telepon yang bisa berdering kapan saja. Pekerjaan seolah tidak pernah benar-benar selesai. Karena itu, menurut Aqua, ada waktu dimana jurnalis harus berhenti sejenak dari rutinitas kantor. Mengalihkan fokus bersama keluarga.

“Yang lebih berharga dari itu yaitu waktu bersama keluarga. Ketika bersama keluarga, optimalkan hal itu,” pesannya.

Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang jabatan, penghasilan, atau seberapa jauh karier seseorang berkembang. Kesuksesan yang lebih utuh adalah ketika seseorang mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan mengantarkan anak-anak menuju kehidupan yang baik.

Baca Juga :  ASR-Siska Nobar Final Piala Dunia di Balai Kota: Suporter Argentina Loyo, Jagoan Gubernur & Wali Kota Kalah

Pesan tentang integritas dan kemampuan jurnalis relevan dengan program Capacity Building Media digagas BI Sultra. Penguatan kapasitas tidak berhenti pada keterampilan menulis berita, tetapi juga bagaimana media menghadirkan informasi yang benar-benar berguna bagi masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Sultra Edwin Permadi, kehadiran motivator Aqua Dwipayana bertujuan merefresh kompetensi wartawan. Kata dia, media bukan sekadar saluran publikasi, tetapi mitra strategis membangun kepercayaan publik.

Pandangan itu menjadi penting ketika informasi bergerak begitu cepat. Sebuah judul dapat membentuk persepsi sebelum pembaca menyelesaikan seluruh isi berita. Karena itu, jurnalis perlu melihat lebih jauh dari sekadar sebuah kegiatan.

Termasuk saat mengangkat isu desa wisata. Erwan Widyarto, wartawan senior Yogyakarta yang tampil sepanggung dengan Aqua Dwipayana mengingatkan jurnalis, lihat membaca sisi unik dari setiap destinasi ketika mengulas pariwisata.

Menurutnya, sudut pemberitaan dapat digali dari unique selling point (USP) sebuah desa wisata. Hal itulah yang membuat sebuah berita tidak berhenti menjadi laporan kegiatan, tetapi memiliki cerita yang membedakannya dari pemberitaan lain.

Pada akhirnya, pesan Aqua kepada para jurnalis Sultra sederhana. Jangan berhenti belajar dan bersyukur. Jangan kehilangan integritas. Jangan bekerja hanya untuk mengejar sesuatu yang terlihat hari ini.

Karena pada akhirnya, yang membuat seorang jurnalis dikenang bukan hanya berapa banyak berita yang pernah ditulis. Tetapi seberapa besar kepercayaan yang berhasil ia jaga sepanjang perjalanan. Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *