LAJUR.CO, KONAWE — Kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sebanyak 59 siswa dan guru SMAN 20 Konawe, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe, harus mendapat penanganan medis setelah mengalami mual dan sakit perut, Kamis (24/9/2026), usai menyantap menu MBG.
Jumlah korban tersebut bertambah drastis dari laporan awal kepolisian yang mencatat 27 orang. Data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Konawe menyebut, keseluruhan korban terdiri dari 58 siswa dan seorang guru.
Puluhan korban kini tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan. Sebanyak 33 orang menjalani rawat inap di RSUD Konawe, satu orang dirawat di RS Setia Bunda, dan tiga korban lainnya mendapat perawatan di Puskesmas Tongauna.
Sementara itu, 22 orang, termasuk seorang guru, telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka dinyatakan membaik.
Dugaan awal mengarah pada makanan dari program MBG yang disantap para siswa. Hidangan tersebut diketahui disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tongauna-Asao.
Sebagai buntut kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat menghentikan sementara operasional SPPG Tongauna-Asao. Penutupan dilakukan saat proses penyelidikan dan pemeriksaan sampel makanan masih berlangsung.
Koordinator Wilayah Kabupaten Konawe untuk SPPG dan BGN, Nopri Al Ikmansyah, SH, membenarkan adanya instruksi penghentian operasional tersebut.
“Sudah resmi ditutup dan surat keputusannya sudah terbit dari BGN Pusat,” kata Nopri saat dikonfirmasi.
Penghentian operasional dapur SPPG dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan proses penyelidikan untuk mengetahui sumber pasti keluhan kesehatan yang dialami para korban.
Meski makanan MBG menjadi salah satu dugaan yang diperiksa, Dinkes Konawe belum memastikan bahwa hidangan program tersebut merupakan penyebab keracunan.
Pasalnya, terdapat dugaan lain yang turut ditelusuri, yakni konsumsi bakso frozen olahan yang dibeli sejumlah siswa dari sebuah kios di sekitar sekolah.
Karena itu, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat disimpulkan. Sampel makanan telah diamankan dan kini menjalani pemeriksaan secara ilmiah.
Perwakilan Dinkes Kabupaten Konawe, Alfred, mengatakan pemeriksaan masih dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Konawe.
“Untuk penyebab pastinya masih dilakukan uji laboratorium di Labkesda Konawe,” ujar Alfred.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk memastikan apakah keluhan yang dialami puluhan siswa dan seorang guru berkaitan dengan makanan MBG, makanan lain yang dikonsumsi siswa, atau faktor lainnya.
Polisi Pantau Kondisi Korban
Kasus dugaan keracunan massal tersebut juga mendapat perhatian dari aparat kepolisian. Kapolres Konawe AKBP Edi Raharjono, S.IK., M.Si., turun langsung memantau kondisi para korban di sejumlah fasilitas kesehatan.
Dalam pemantauan itu, Kapolres didampingi Kabag Ops AKP Kadek Sujayana, SH, serta Kasat Intelkam IPTU Hamsar, SH.
Pemantauan dilakukan untuk memastikan para korban memperoleh penanganan medis secara maksimal sekaligus mengikuti perkembangan penyelidikan atas insiden yang terjadi di SMAN 20 Konawe tersebut.
Hingga berita ini dirilis, operasional SPPG Tongauna-Asao masih dihentikan sementara. Di sisi lain, proses penyelidikan kepolisian dan pemeriksaan sampel makanan di Labkesda Konawe masih berjalan.
Kepastian mengenai sumber makanan yang menyebabkan puluhan siswa dan guru mengalami keluhan kesehatan masih menunggu hasil uji laboratorium. Adm



