LAJUR.CO, KENDARI – Anak-anak, bayi, balita, dan lanjut usia (lansia) menjadi kelompok yang paling perlu diwaspadai saat kabut asap menyelimuti Kota Kendari. Paparan polusi udara berisiko mengganggu kesehatan, terutama pada kelompok usia yang lebih rentan mengalami masalah pernapasan.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo (FK UHO), Dr. I Putu Sudayasa, mengingatkan masyarakat agar memberikan perlindungan ekstra kepada kelompok rentan tersebut.
Hal itu disampaikan Putu kepada awak LAJUR.CO, Selasa (13/10/2026). Menurutnya, setiap orang berisiko terdampak polusi asap karena udara yang dihirup telah tercemar partikel polutan. Namun, anak-anak, bayi, dan balita membutuhkan perhatian khusus karena saluran pernapasannya masih berkembang dan relatif sensitif terhadap pencemaran udara.
Lansia pun berisiko mengalami gangguan kesehatan, terlebih jika memiliki riwayat penyakit sebelumnya.
“Sehingga ada perhatian penting pada dua kelompok ini, kelompok anak-anak, bayi, balita dengan kelompok usia lanjut, apalagi yang memiliki gangguan atau riwayat-riwayat penyakit lainnya,” katanya.
Putu menjelaskan, sebaran asap hingga ke berbagai wilayah menjadi indikasi adanya pencemaran udara. Salah satu sumber polusi tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi saat musim kemarau.
Kondisi langit yang tampak tertutup awan pun perlu dicermati karena kabut yang terlihat bisa berasal dari asap yang menyebar di atmosfer.
“Kalau kita melihat fenomena sekarang, karena musim kemarau memang banyak terjadi, tanpa sengaja ada proses pembakaran hutan. Sehingga polusi asapnya sangat masif sampai menyebar ke mana-mana,” jelasnya.
Menurut Dekan FK UHO itu, saluran pernapasan menjadi bagian tubuh yang paling sensitif terhadap paparan polusi asap. Partikel pencemar yang masuk bersama udara saat bernapas dapat memicu iritasi dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“Asap ini tentunya yang sangat sensitif bagi tubuh kita adalah saluran pernapasan,” ungkap Putu.
Ia menerangkan, dampak paparan polutan dapat bermula dari saluran pernapasan atas, mulai dari hidung hingga tenggorokan. Gejala awal yang dirasakan bisa berupa bersin, hidung tersumbat, atau keluhan menyerupai flu.
Masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul, terutama jika keluhan berlangsung terus-menerus atau semakin berat. Gangguan yang melibatkan saluran pernapasan bawah, termasuk bagian yang menuju paru-paru, dapat menimbulkan masalah lebih serius, seperti sesak napas.
“Kalau di atas mungkin pada awalnya kita merasakan hanya flu atau gejala-gejala kondisi lainnya. Kalau infeksi saluran bawah bisa timbul sesak napas atau gangguan dalam kita bernapas,” tuturnya.
Untuk menekan risiko paparan, Putu mengimbau warga menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan, khususnya saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
“Kalau polusinya masif, kita harus menggunakan penutup mulut atau masker,” ujarnya.
Selain perlindungan dari paparan langsung, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh melalui pola konsumsi yang sehat. Pemenuhan kebutuhan cairan, konsumsi sayur dan buah, serta asupan makanan bergizi menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh selama pencemaran udara berlangsung.
Putu turut menyarankan masyarakat tetap menjaga kebugaran melalui aktivitas fisik atau olahraga sesuai kemampuan. Istirahat yang cukup juga diperlukan agar tubuh tetap prima.
“Lalu meningkatkan imunitas tubuh dengan aktivitas fisik, olahraga atau sesuai dengan kemampuan tubuh dan istirahat yang cukup. Karena daya tahan tubuh akan didukung dengan dua pola tadi, pola konsumsi dan pola aktivitas,” ucapnya.
Terkait penanganan kesehatan, Putu meminta masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan setelah terpapar asap, terutama jika gejala tidak kunjung membaik.
Warga yang mengalami demam selama lebih dari dua hingga tiga hari disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh pemeriksaan lebih lanjut. Puskesmas dapat menjadi pilihan pertama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai gejala yang dialami.
“Kami sangat menyarankan ke puskesmas dulu yang terdekat, layanan primer. Keadaan ini masih bisa diatasi lewat pelayanan primer di puskesmas. Banyak dokter-dokter terlatih,” ujarnya.
Putu berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kabut asap masih menyelimuti Kendari. Langkah pencegahan, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta pemeriksaan medis ketika muncul gangguan pernapasan menjadi bagian penting untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat polusi udara. Sis