SULTRABERITA.ID, KENDARI – Bank Indonesia (BI) mengestimasi inflasi mencapai 0,22 persen (mtm) dan 2,82 persen (yoy) pada April 2020.
Perkiraan ini berdasakan survei pemantauan harga (SPH) yang dilakukan bank sentral hingga minggu ketiga April 2020.
BACA JUGA:
- Upah Belum Layak, Buruh Sultra Desak Pemerintah Buat Perda Perlindungan Pekerja
- Pertamina Patra Niaga Bagikan Ratusan Paket Sembako Jelang May Day 2026 di Sulsel
- PT Vale Bukukan Kinerja Keuangan Solid pada Kuartal I 2026, Meski Ekspor Nikel Matte Turun
- Laba CIMB Niaga Melesat Rp2,3 Triliun Kuartal I 2026, CASA dan Kredit Tumbuh Signfikan
- Pesan ASR ke 37 PPIH Sultra: Fokus Bantu Jemaah, Ibadah Haji Hanya Bonus
Beberapa komoditas yang mendorong peningkatan inflasi adalah bawang merah, emas perhiasan, hingga gula pasir.
Sedangkan sejumlah komoditas terpantau mengalami deflasi, yakni cabai merah, daging ayam, dan telur.
Namun demikian, inflasi diyakini masih rendah dan terkendali.
“Ini menunjukkan inflasi rendah dan terkendali. Kami pantau dari 46 kantor BI di seluruh Indonesia, semua melaporkan inflasi rendah dan terkendali,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi video, Rabu (22/4/2020).
Perry berujar, inflasi terkendali karena sejumlah wilayah telah memasuki masapanen beras sehingga produksi beras di dalam negeri mengalami peningkatan.
Begitu pun dengan komoditas lain meski ada beberapa gangguan masalah distribusi.
Bank sentral pun memperkirakan inflasi akan berlanjut rendah dan terkendali saat puasa Ramadhan 1440 H dari April hingga Mei 2020.
Sebab masa panen berlangsung hingga Mei 2020 dan pemerintah telah menjamin komoditas selama puasa dan Lebaran ada dan cukup.
“Kedua, karena permintaan rendah dengan adanya Covid-19 yang membuat aktivitas manusia akan lebih rendah. Namun bukan berarti tingkat kegiatan ritual agama berkurang,” sebut Perry. Adm
Sumber: kompas.com
Judul: https://money.kompas.com/read/2020/04/22/175200626/bawang-merah-hingga-gula-pasir-jadi-pemicu-inflasi-april-2020





