BERITA TERKINIHEADLINE

Banjir Kendari Telan Dua Korban Meninggal Dunia, 3.517 Jiwa Terdampak, Pemkot Umumkan Status Siaga Bencana

×

Banjir Kendari Telan Dua Korban Meninggal Dunia, 3.517 Jiwa Terdampak, Pemkot Umumkan Status Siaga Bencana

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Pemerintah Kota Kendari resmi menetapkan status tanggap darurat bencana banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah ibu kota Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam beberapa hari terakhir. Banjir yang melanda sedikitnya delapan kecamatan itu menyebabkan 2 warga meninggal dunia, ribuan warga terdampak, hingga ratusan rumah terendam.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, sebanyak 3.517 jiwa terdampak banjir dan 797 unit rumah terendam air. Selain itu, sekitar 100 hektare sawah siap panen ikut terendam dan terancam gagal panen.

Dua korban jiwa dilaporkan saat puncak banjir, Minggu (11/5/2025). Satu korban dewasa meninggal dunia di kawasan Lorong Lasolo. Sementara satu korban lainnya masih berusia balita. Jasadnya ditemukan mengambang di Kelurahan Benu-Benua, tepatnya di depan PPLP Dayung.

Penetapan status tanggap darurat dilakukan dalam rapat koordinasi bersama Forkopimda di ruang rapat Wali Kota Kendari pada Senin (11/5/2026). Keputusan itu diambil menyusul kondisi banjir yang terus meluas dan berdampak besar terhadap masyarakat.

Baca Juga :  Pecah! Artis Raim Laode Hipnotis Ribuan Pengunjung Sultra Maimo Sharia Fest 2026 di Lippo Plaza

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengatakan penanganan banjir membutuhkan langkah cepat dan koordinasi lintas sektor yang lebih kuat. Menurutnya, banjir di Kendari kini bukan lagi persoalan biasa karena dampaknya semakin luas dan terus berulang setiap musim hujan.

“Dengan melihat kondisi wilayah Kota Kendari saat ini, kita menetapkan status tanggap darurat bencana. Ini harus dibarengi langkah nyata dan koordinasi yang lebih kuat,” kata Siska.

Ia mengungkapkan, dirinya bersama jajaran Forkopimda telah meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak banjir, termasuk kawasan bantaran Kali Wanggu yang menjadi salah satu titik paling parah

Menurut Siska, penanganan banjir di Kota Kendari tidak bisa dilakukan secara parsial. Sebab, Kota Kendari menjadi daerah muara dari sejumlah wilayah di sekitarnya sehingga volume air cepat meningkat ketika hujan turun dalam waktu lama.

Baca Juga :  DAAZ Group Galang Aksi Donor Darah di Kendari, Libatkan Mahasiswa & Masyarakat

“Kendari ini muara dari beberapa kabupaten. Hujan sedikit saja sudah banjir, apalagi hujan beberapa hari berturut-turut seperti sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Kendari Cornelius Padang menjelaskan pihaknya sebenarnya telah menetapkan status siaga bencana sejak 6 Mei 2026 setelah menerima informasi cuaca ekstrem dari BMKG. Namun, tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir membuat kondisi di lapangan berkembang cepat sehingga status dinaikkan menjadi tanggap darurat.

“Dalam empat hari terakhir curah hujan sangat tinggi. Ada sekitar 15 titik banjir dengan beberapa lokasi terdampak cukup parah,” jelas Cornelius.

BPBD bersama sejumlah instansi terkait kini terus melakukan penanganan darurat, mulai dari evakuasi warga, distribusi bantuan logistik, hingga pembersihan material sisa banjir. Meski begitu, beberapa wilayah masih membutuhkan perhatian serius karena debit air masih tinggi.

Baca Juga :  100 Kendaraan Disiapkan, Kendari Matangkan Transportasi Delegasi UCLG ASPAC 2026

Di sisi lain, Wakil Wali Kota Kendari Sudirman menilai upaya normalisasi sungai yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif. Ia menyebut sejumlah kawasan yang sebelumnya rutin terdampak banjir kini mulai mengalami pengurangan genangan setelah dilakukan pengerukan sungai menggunakan ekskavator amfibi.

“Daerah yang sudah dilakukan penanganan ternyata dampaknya sangat terasa. Di beberapa titik yang biasanya parah justru kemarin tidak banjir,” katanya.banji

Sudirman meminta koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun Balai Wilayah Sungai tidak berhenti di meja rapat saja. Menurutnya, seluruh hasil koordinasi harus segera diwujudkan dalam langkah nyata di lapangan.

Ia turut mengingatkan pentingnya penanganan pascabanjir, terutama membantu warga membersihkan rumah yang dipenuhi lumpur dan material banjir.

“Masyarakat tidak mau tahu ini kewenangan balai, provinsi atau pusat. Yang mereka lihat adalah pemerintah hadir atau tidak saat banjir terjadi,” tegasnya.

 

Laporan: Ika Astuti

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x