LAJUR.CO, KENDARI – Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC), Dr. Bernadia Irawati Tjandradewi, menegaskan teori pembangunan yang dipelajari di kampus tidak boleh berhenti sebagai konsep. Gagasan akademik harus diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan kota yang lebih berkelanjutan dan tangguh.
“In university we talk about theories. But what important is how these theories become the practices. (Di universitas kita berbicara tentang teori, tetapi yang penting adalah bagaimana teori tersebut menjadi praktik),” ujar Bernadia.
Ia menegaskan generasi muda memiliki peran besar dalam menentukan masa depan kota. Wajah Kota Kendari dalam beberapa tahun ke depan akan sangat ditentukan partisipasi aktif masyarakat, terutama generasi muda.
“How Kendari will look in 10 years, 20 years, 30 years, 50 years, it’s in your hand.”
(Bagaimana wajah Kendari dalam 10, 20, 30, hingga 50 tahun ke depan ada di tangan Anda.)
Pernyataan tersebut disampaikan saat hadir di International Seminar and Knowledge Forum UCLG ASPAC bertajuk “Navigating Urban Uncertainty and Strengthening Resilience for Cities in Asia Pacific” di Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO), Rabu (6/5/2026).
Forum seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian forum bergengsi United Cities and Local Governments Asia Pacific 2026 yang akan berlangsung pada 7–9 Mei 2026, di mana Kota Kendari didapuk sebagai tuan rumah. International Seminar and Knowledge Forum UCLG ASPAC dibuka Wakil Rektor IV UHO Prof. Takdir Saili, diikuti sekitar 100–150 peserta. Terdiri dari kalangan akademisi, pemerintah, praktisi, hingga mahasiswa.
Sejumlah tokoh termasuk panelis dari negara Singapura dan Korea Selatan mitra strategis UCLG ASPAC hadir memberi insight penting.Di antaranya Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Dr. Hugua, perwakilan Daegu Metropolitan City Korea Selatan Andra Kwon, dosen Universitas Halu Oleo Susanti Djalante, serta Strategic Adviser ASEAN Governors and Mayors Forum (AGMF) Singapura Lee Yoong Yoong serta Dean Cities and Local Governments Institute (CLGI) Prof. Bambang Susantono.
Di tengah forum, Bernadia ikut menyoroti tantangan nyata yang dihadapi kota-kota di Asia Pasifik akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem. Ada banyak sinyal yang bisa dilihat dan dirasakan langsung seperti meningkatnya risiko bencana, terutama banjir yang terjadi lebih sering dibanding generasi sebelumnya.
Berbagai dinamika seperti perubahan cuaca ekstrem dan banjir menunjukkan kualitas hidup masyarakat sangat bergantung pada kemampuan kota mengelola risiko lingkungan secara adaptif.
Bernadia menekankan konsep active resilience, yakni ketangguhan yang tidak bersifat pasif, melainkan upaya aktif untuk mengurangi risiko bencana agar masyarakat dapat hidup di lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan. Ketahanan kota, lanjutnya, bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi kemampuan mengurangi risiko serta bertransformasi menuju sistem perkotaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Urban transformation is not a spectator sport. It demands your participation. You cannot criticize your local governments if you are not involved in that process. (Transformasi perkotaan bukan tontonan. Ini menuntut partisipasi Anda. Anda tidak bisa mengkritik pemerintah daerah jika tidak terlibat dalam proses tersebut),” ujar Bernadia.
Lebih jauh, saat sesi diskusi, Wagub Dr. Hugua memaparkan konsep ketahanan inklusif, merangkul semua kalangan serta pariwisata berkelanjutan yang telah ia praktikkan langsung saat menjabat Bupati Wakatobi. Rekan duet Gubernur Andi Sumangerukka itu menilai forum UCLG ASPAC dapat menjadi koneksi pembuka jalan bagi Sultra, terutama Kota Kendari menuju global namun tetap mempertahankan local wisdom.
“Saya sampaikan terimakasih ke UHO atas nama Pemprov Sultra yang sudah hosting acara UCLG ASPAC, UHO makin mengglobal di level cities and givernmen, Bupati dan gubernur adalah user dari perguruan tinggi, lebih terkoneksi.”
Sementara itu, Strategic Adviser ASEAN Governors and Mayors Forum (AGMF) Lee Yoong Yoong dan Andra Kwon mendorong Kota Kendari membangun kemitraan strategis dengan kota yang memiliki visi serupa. Kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan jejaring internasional mempercepat pembangunan kota yang lebih tangguh dan unggul.
“I think it’s more about like-minded partners to work together to pair, either to pair or to be sister cities. (Saya pikir ini lebih tentang mitra yang berpikiran serupa untuk bekerja sama, baik berpasangan atau menjadi sister city),” ujar Yoong.
Dari perspektif global, Dean Cities and Local Governments Institute (CLGI) Prof. Bambang Susantono mengingatkan pemerintah agar membangun kota tidak hanya berpatok pada konsep kota layak huni, tetapi juga menjadi kota yang benar-benar dicintai. Ia menegaskan pentingnya optimisme bagi kota berkembang seperti Kendari dalam bergerak menuju kota terintegrasi, maju, berkelanjutan, dan tangguh.
“Kendari harus optimis jangan minder dengan kota yang sudah maju. Setiap kota punya jalur untuk berkembang. Ini adalah awal bagi Kendari go global dengan tetap pertahankan local wisdom culture dan tradisi karena itu kekuatan,” ucap Prof Bambang.
Sebagai informasi, forum internasional UCLG ASPAC yang dipusatkan di Kota Kendari membahas berbagai tantangan kawasan Asia Pasifik, mulai dari perubahan iklim, urbanisasi cepat, ketimpangan sosial, hingga disrupsi teknologi. Diskusi menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi, adaptif, dan berbasis pengetahuan untuk memperkuat ketahanan kota (urban resilience) di masa depan. Adm





