LAJUR.CO, KENDARI – Bursa pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026-2030 semakin ramai. Akademisi senior UHO, Dr. Muliddin, resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor dengan menyerahkan berkas pendaftaran pada Selasa (2/6).
Dengan masuknya nama Dr. Muliddin dalam kontestasi tersebut, jumlah bakal calon rektor UHO kini bertambah menjadi sembilan orang. Sebelumnya, sejumlah figur akademik telah lebih dahulu mendaftarkan diri, di antaranya Prof. Ruslin, Prof. Takdir Saili, Assoc. Prof. Baru Sadarun, Prof. Azhar Bagadal, Prof. Edy Karno, Prof. Santiaji, Prof. Ida Usman, serta Prof. Ma’ruf Kasim.
Mantan Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITK) UHO itu menegaskan kesiapannya untuk bersaing dalam pemilihan pimpinan perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara tersebut.
Sebagai akademisi yang menekuni bidang oseanografi fisik dan geologi kelautan, Dr. Muliddin optimistis mampu membawa UHO semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional. Optimisme itu didukung pengalaman panjangnya di berbagai posisi strategis dalam tata kelola kampus.
Di hadapan awak media, ia mengungkapkan telah meniti karier manajerial sejak 2003. Pengalaman tersebut dimulai dari tingkat jurusan dan laboratorium, kemudian berlanjut sebagai Wakil Dekan, Dekan, hingga dipercaya memimpin sejumlah tugas strategis di lingkungan kampus, termasuk di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UHO.
“Jadi saya pikir, dengan semua pengalaman itu, insya Allah saya tahu apa yang menjadi masalah kita dan apa yang mesti kita lakukan untuk UHO ke depannya,” ujar Muliddin.
Menurutnya, keputusan maju sebagai bakal calon rektor didorong oleh semangat pengabdian sekaligus komitmen untuk mengawal pencapaian visi besar UHO sebagai universitas kelas dunia dalam pengelolaan wilayah pesisir, kelautan, dan pedesaan pada tahun 2045.
Pada kontestasi pemilihan rektor kali ini, ia mengusung visi “Inovasi dan Akselerasi Berkelanjutan UHO Menuju Perguruan Tinggi Kelas Dunia”.
Visi tersebut dirancang dengan mengacu pada visi institusi, Rencana Strategis (Renstra) UHO 2025-2029, Rencana Induk Pengembangan (RIP), serta Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dr. Muliddin menilai target menjadikan UHO sebagai perguruan tinggi berkelas dunia pada 2045 membutuhkan langkah-langkah inovatif dan percepatan yang konsisten. Menurutnya, rentang waktu yang tersisa menuju target tersebut tidaklah panjang jika dibandingkan dengan besarnya tantangan yang harus dihadapi.
“Mungkin ada yang menganggap waktu itu masih lama, tetapi bagi saya itu sangat singkat. Karena itu diperlukan inovasi dan percepatan-percepatan yang berkelanjutan agar target tersebut dapat tercapai,” katanya.
Melalui visi yang diusung, Dr. Muliddin berharap dapat memperkuat daya saing UHO, meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi, memperluas jejaring internasional, serta mendorong percepatan transformasi kampus menuju standar perguruan tinggi kelas dunia.
Laporan: Ika Astuti




