LAJUR.CO, KENDARI — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari menyiapkan langkah cepat penanganan banjir di kawasan Kali Wanggu, Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. Salah satu upaya utama yang akan dilakukan yakni pembangunan tanggul setinggi tiga meter dengan panjang sekitar 700 meter di sepanjang aliran Sungai Wanggu.
Pembangunan tanggul tersebut diproyeksikan menekan luapan air yang selama ini merendam kawasan permukiman warga di sekitar Sungai Wanggu dan wilayah Bypass Lepo-Lepo. Dua kawasan tersebut diketahui masuk salah satu daerah terparah diterjang banjir selang musim hujan berintensitas tinggi terjadi di Kota Kendari.
Kepala BWS Sulawesi IV Kendari Muhammad Harliansyah mengatakan, sebelum konstruksi dimulai, sejumlah warga yang rumahnya terdampak proyek akan direlokasi terlebih dahulu.
“Yang pasti titik konsentrasi BWS bangun tanggul di Kali Wanggu yang ada di posko sekarang itu di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga. Nah, itu kita berharap semua bisa ada proses relokasi dulu untuk rumah-rumah itu,” ujar Harliansyah, Rabu (20/5/2026).
Ia menyebutkan, total panjang tanggul yang akan dibangun mencapai sekitar 700 meter dan tersebar di dua titik utama.
“Kurang lebih sekitar 700-an meter. Tapi itu tersebar ya titiknya. Ada dua titik konsentrasi kita, di muara Sungai Lepo-Lepo dan di kanan Sungai Wanggu yang dekat jembatan itu,” katanya.
Berdasarkan pendataan awal, sekitar 10 rumah warga diperkirakan terdampak pembangunan tanggul dan membutuhkan relokasi. BWS menegaskan pihaknya hanya berfokus pada pekerjaan konstruksi. Sementara urusan relokasi dan ganti rugi menjadi kewenangan pemerintah daerah.
“Itu tadi di awal kami menyebutkan, kami hanya di konstruksinya saja. Berarti untuk yang lain, relokasi dan itu, bisa dikoordinasikan selanjutnya ke teman-teman Pemda,” jelasnya.
Harliansyah menerangkan, tanggul yang dibangun sepanjang ratusan meter menyerupai huruf L dan menghubungkan beberapa titik yang selama ini belum tersambung.
“Dia berbelok ke muara Lepo-Lepo sampai nanti ke jembatan yang Lepo-Lepo itu. Nanti nutupnya di situ si tanggul ini. Dia berbelok seperti huruf L begitu,” katanya.
Selain pembangunan tanggul, BWS turut melakukan evaluasi terhadap pintu klep pengendali air yang berada di sekitar kawasan banjir. Sejumlah pintu klep dilaporkan mengalami kerusakan dan akan segera diperbaiki.
“Untuk pintu klep memang ada yang rusak. Ada yang berfungsi, ada yang rusak. Nah, yang rusak ini nanti akan kita perbaiki,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian pintu klep merupakan aset milik pemerintah provinsi dan sebagian lainnya milik BWS.
“Yang rusak itu berdasarkan informasi punya provinsi, itu yang prioritas mungkin akan ditangani oleh provinsi. Tapi kami juga akan evaluasi yang milik BWS, kalau memang ada kerusakan kita juga akan perbaiki,” katanya.
Terkait penyebab banjir di kawasan Wanggu, Harliansyah menilai kondisi topografi menjadi salah satu faktor utama. Sungai Wanggu disebut terhubung langsung dengan Teluk Kendari sehingga debit air mudah meningkat saat hujan deras dan pasang air laut terjadi bersamaan.
“Sungai Wanggu ini terhubung langsung ke Teluk Kendari. Ketika terjadi pasang surut, muka air Wanggu bisa naik apabila ada inflow dari Wanggu sendiri,” jelasnya.
Ia membantah anggapan jika banjir terjadi karena kolam retensi tidak berfungsi. Kolam Retensi Boulevard yang berhadapan langsung dengan kawasan Kali Wanggu diklaim masih bekerja normal. Hanya saja kapasitasnya tak lagi mampu menampung debit air hujan yang terlalu besar.
“Kalau kolam retensi pasti berfungsi ya. Hanya memang debit hujan yang datang itu besar sekali sehingga daya retensi masih belum cukup,” katanya.
Karena itu, BWS menilai Kota Kendari membutuhkan kolam retensi tambahan dengan kapasitas lebih besar. Salah satunya Kolam Retensi Nanga-Nanga yang kini tengah digadang-gadang memulai fase konstruksi dalam waktu dekat.
Di sisi lain, penanganan banjir menyeluruh dilakukan lewat pembenahan sistem drainase dan konektivitas saluran air di sejumlah titik di Kota Kendari.
“Nah, ini kita mencoba untuk menata jaringan drainase ini, kita coba buat konektivitas karena memang ada yang tidak terhubung satu sama lain,” ujarnya.
Menurut Harliansyah, terdapat sejumlah saluran air yang menyempit. Bahkan ada yang buntu sehingga air meluber ke kawasan pemukiman saat curah hujan tinggi.
“Ada juga yang buntu karena dia tidak diteruskan terkoneksi dengan saluran yang lain. Nah, upaya kita bersama sekarang dengan pemerintah kota dan provinsi, kita sudah melaksanakan konektivitas itu dengan melakukan normalisasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan tanggul di kawasan Lepo-Lepo yang belum sepenuhnya rampung karena terkendala pembebasan lahan turut memberi andil bencana banjir yang terjadi. Saat hujan, air otomatis mengalir menggenangi kawasan Bypass dan permukiman warga.
“Nah, dari situlah banjir ini kemudian menggenangi kawasan yang ada di Bypass,” tutur Harliansyah.
BWS memastikan pembangunan tanggul di Kali Wanggu ditargetkan tuntas tahun ini. Namun, proyek tersebut membutuhkan dukungan pemerintah daerah, khususnya terkait pembebasan lahan.
“Hanya memang ini butuh kolaborasi dari pemerintah pusat dan daerah, terutama mengenai lahan. Harapannya nanti bisa disiapkan oleh pemerintah daerah sehingga kami akan melaksanakan konstruksinya saja,” pungkasnya. Adm





