BERITA TERKINIHEADLINE

BWS & Pemkot Kendari Wanti-wanti Pemprov Sejak 2025, Kasus Pencurian Klep Tanggul Kali Wanggu Picu Banjir Besar

×

BWS & Pemkot Kendari Wanti-wanti Pemprov Sejak 2025, Kasus Pencurian Klep Tanggul Kali Wanggu Picu Banjir Besar

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Banjir kembali merendam kawasan Kali Wanggu, Kota Kendari. Hasil pantauan Wali Kota Kendari Siska Karina Imran, Minggu (10/5/2026), banjir di kawasan padat penduduk itu kian parah.

Hasil penelusuran Siska saat menyusuri bantaran sungai bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Kendari menemukan indikasi klep alias pentu air tanggul yang hilang. Hal itu mengakibatkan luapan air meluber ke pemukiman warga.

Sejatinya, ancaman banjir akibat pencurian pintu klep atau pintu air tanggul di kawasan Sungai Wanggu sudah diwanti-wanti oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari bersama Pemerintah Kota Kendari sejak tahun 2025 ke Pemprov Sultra.

Bahkan, Kepala BWS Sulawesi IV Kendari Andi Adi Umar Dani bersama Wakil Wali Kota Kendari Sudirman, periode Juli 2025, sempat turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik tanggul Kali Wanggu yang mengalami kerusakan akibat pencurian pintu air.

BWS menemukan tiga unit pintu air tanggul milik Pemerintah Provinsi Sultra hilang dicuri. Kerusakan itu dinilai memperparah risiko banjir di kawasan permukiman warga sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Wanggu.

“Hasil peninjauan kami, ada tiga pintu tanggul yang rusak. Provinsi punya. Dicuri,” kata Andi Adi Umar Dani.

Baca Juga :  Atlet Muda Konawe Ukir Prestasi, Rahmat Lagaligo Bawa Pulang Perak dari Jepang

BWS menegaskan, keberadaan pintu klep sangat penting untuk menahan luapan air sungai agar tidak masuk ke kawasan pemukiman saat debit Sungai Wanggu meningkat

Persoalan itu kembali menjadi perhatian saat Wali Kota Kendari Siska Karina Imran turun langsung meninjau lokasi banjir di Kali Wanggu, Kecamatan Baruga, Minggu (10/5/2026). Dalam kunjungan itu, Siska didampingi Wakil Wali Kota Kendari Sudirman, BPBD Kota Kendari, Dinas Sosial, serta tim Balai Wilayah Sungai IV Sultra

Saat meninjau kondisi sungai dan tanggul yang meluap, Siska mengungkapkan jika pemerintah bersama BWS kini tengah menyiapkan pemasangan kembali pintu klep sebagai langkah cepat mengurangi dampak banjir.

“Dan kami sudah berkoordinasi dengan Balai, karena mengingat sungai ini adalah wewenang dari provinsi dan Balai,” kata Siska saat meninjau lokasi banjir.

“Tadi kita sudah berkonsultasi, berkoordinasi dengan Balai BWS, hadir juga bersama kita Balai BWS di belakang. Dan saat ini sudah dalam pemesanan ya Pak? Pemesanan untuk pintu air di sekeliling… pintu apa namanya? Pintu klep,” ujar Siska.

Baca Juga :  Budget HUT Kena Efisiensi, Dispar 'Siasati' Gaet Empat Lembaga Sukseskan Harmoni Sultra

Menurut dia, pintu air tersebut nantinya berfungsi menahan luapan air Sungai Wanggu agar tidak masuk ke kawasan rumah warga.

“Jadi pintu air penahan air, sehingga airnya itu tidak masuk ke sekitaran warga,” lanjutnya.

Selain persoalan pintu klep, BWS Sulawesi IV juga menyoroti sedimentasi parah di muara Sungai Wanggu yang mempersempit aliran sungai dan memperburuk banjir saat musim hujan.

Kepala BWS Sulawesi IV Kendari Andi Adi Umar Dani mengatakan hasil pengukuran batimetri menunjukkan kondisi sedimentasi di muara sungai sudah sangat memprihatinkan.

“Kita sudah lakukan batimetrik (ukur sedimentasi), memang sedimen di muara sangat memprihatinkan. Pada saat surut atau air laut surut, air susah ditahan. Setiap sungai harusnya ada palung, di Wanggu justru rata karena terlalu banyak sedimen,” terang Andi Umar Dani.

Ia membantah isu yang menyebut Kolam Retensi Boulevard tidak berfungsi optimal. Menurutnya, infrastruktur pengendali banjir tersebut masih bekerja baik untuk mengurangi limpasan air di kawasan Sungai Wanggu.

“Elevasi di kolam 1,95. Di Sungai Wanggu 1,00. Kolam retensi ini sifatnya hanya parkir sementara air,” jelas Umar Dani.

Baca Juga :  Gandeng KONI Sultra, Pertamina Dorong Digitalisasi Energi di Baubau Lewat Sultra Enduro Rally 2026

BWS menilai penanganan banjir Kali Wanggu tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Persoalan banjir disebut sangat kompleks, mulai dari sedimentasi sungai, pembangunan permukiman yang tidak sesuai tata ruang, kondisi hulu sungai di Konawe Selatan, hingga pencurian infrastruktur pengendali banjir seperti pintu klep.

“Untuk sedimen, jalannya harus normalisasi, ini butuh biaya besar. Mesti dijaga agar sedimentasi tidak tambah. Wanggu ini kita tidak bisa hanya satu pihak. Harus semua kolaborasi. Di Wanggu tidak bisa masuk intervensi karena bukan kewenangan BWS,” jelasnya.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah juga tengah membahas pembangunan embung baru di kawasan Nanga-nanga untuk membantu mengurangi debit air saat musim hujan

“Daya tampungnya yang di Nanga-nanga 1,5 juta meter kubik, luasan sekitar 50-an hektar. Kalau di retensi maksimal hanya 445.000 meter kubik,” pungkasnya.

Pantauan di lokasi, banjir di kawasan Kali Wanggu menyebabkan sebagian besar permukiman warga terendam. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke tenda darurat di pinggir jalan.

Kawasan Kali Wanggu sendiri sudah lama menjadi langganan banjir setiap musim penghujan akibat luapan sungai yang merendam rumah-rumah warga di bantaran sungai. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x