BERITA TERKINIHEADLINE

Karhutla Mengintai! Hampir Seluruh Sultra Masuk Zona Sangat Mudah Terbakar, 117 Titik Api Terdeteksi

×

Karhutla Mengintai! Hampir Seluruh Sultra Masuk Zona Sangat Mudah Terbakar, 117 Titik Api Terdeteksi

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membayangi Sulawesi Tenggara (Sultra) memasuki September 2026. Hampir seluruh wilayah di Bumi Anoa dipetakan berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, sementara 117 titik panas terpantau dalam sehari.

Pemetaan tersebut berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk kondisi pada 1 September 2026. Dalam peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC), sebagian besar wilayah Sultra memiliki nilai di atas 82 yang masuk kategori sangat mudah terbakar.

Kondisi itu menunjukkan bahan-bahan ringan di permukaan tanah, seperti alang-alang, dedaunan kering, humus, dan material organik lainnya, berada dalam kondisi sangat kering sehingga lebih mudah tersulut dan terbakar.

FFMC merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kekeringan bahan bakar ringan di lapisan atas permukaan tanah. Semakin tinggi nilainya, semakin besar pula tingkat kemudahan bahan tersebut terbakar.

Baca Juga :  Diskon Tambah Daya PLN Juli 2026 hingga 50%, Berlaku sampai 27 Juli

Dalam klasifikasi FFMC, nilai 78–82 berada pada kategori mudah terbakar. Nilai 73–77 tergolong cukup sulit terbakar, sedangkan nilai 0–72 masuk kategori sulit terbakar. Adapun nilai di atas 82 menunjukkan kondisi sangat mudah terbakar.

Dari peta BMKG yang berlaku pada 1 September 2026, hampir seluruh wilayah Sultra berada pada kategori tersebut. Sebagian wilayah Kolaka dan Kolaka Utara menjadi area yang memiliki tingkat kemudahan terbakar lebih rendah dibandingkan daerah lainnya.

Potensi karhutla juga tergambar dari banyaknya titik panas yang muncul di sejumlah wilayah Sultra. BMKG mencatat 117 hotspot pada 30 Agustus 2026 dalam pemantauan pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.

Baca Juga :  Dari PMM hingga Duta Bahasa, Perjalanan Nur Hikmah Jadi Wisudawan Terbaik UHO

Dari total tersebut, 105 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 10 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, dan dua titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Konawe menjadi daerah dengan jumlah hotspot paling banyak, yakni 42 titik. Selanjutnya Bombana dengan 31 titik dan Muna sebanyak 12 titik.

Sebaran titik panas lainnya berada di Konawe Selatan dan Konawe Utara yang masing-masing mencatat 10 titik. Kemudian Kolaka Timur empat titik, Kolaka tiga titik, Buton Selatan dan Buton Utara masing-masing dua titik, serta Muna Barat satu titik.

Sementara itu, tidak ada hotspot yang tercatat dalam pemantauan di Kota Kendari, Baubau, Buton, Buton Tengah, Konawe Kepulauan, Kolaka Utara, dan Wakatobi.

Baca Juga :  Telkomsel Operasikan BTS Baru di Site PT Tiran Indonesia Konut Tepat di Momen HUT ke-81 RI

BMKG menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit untuk memantau anomali suhu permukaan yang menjadi indikasi adanya titik panas.

Meski begitu, data hotspot bukan berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran. Pemantauan satelit juga memiliki keterbatasan karena titik panas bisa tidak terbaca ketika wilayah tertutup awan atau berada di area blank zone.

Dengan sebagian besar wilayah Sultra berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama pembakaran sampah dan pembersihan lahan dengan cara dibakar, sebaiknya dihindari. Vegetasi yang kering membuat api lebih mudah menyala dan berpotensi cepat meluas.

Laporan: Ika Astuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *