LAJUR.CO, KENDARI – Kualitas udara Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengalami penurunan dalam hitungan pekan. Setelah sempat berada di level hijau dengan indeks kualitas udara 30 pada Agustus 2026, Kendari kini mencatat indeks 98 pada Oktober. Perubahan ini menandakan meningkatnya polusi udara di Ibu Kota Sultra.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada Jumat (9/10/2026) pukul 17.00 Wita, Kendari menempati posisi kedua sebagai kota dengan indeks kualitas udara tertinggi di Sulawesi. Posisinya hanya berada di bawah Makassar, Sulawesi Selatan, yang mencatat indeks 117 AQI⁺.
Kenaikan indeks tersebut terjadi di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan Kendari pada Jumat sore. Kabut bahkan dilaporkan mengganggu jarak pandang warga.
Data IQAir menunjukkan indeks kualitas udara Kendari mencapai 98 AQI⁺, masuk kategori sedang. Angka ini terpaut tipis dari Parepare yang mencatat indeks 97 AQI⁺. Sementara itu, Palopo berada di angka 79, Gorontalo 74, Tomohon dan Bitung masing-masing 71, serta Palu 67 AQI⁺.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan data pada 28 Agustus 2026. Saat itu, IQAir mencatat indeks kualitas udara Kendari sebesar 30 US AQI⁺ atau masuk kategori Good (baik). Berdasarkan data yang dirilis Celebest.id, Kendari menempati posisi kedua sebagai kota dengan kualitas udara terbaik di Sulawesi, setelah Tomohon yang mencatat indeks 18.
Pada periode yang sama, Gorontalo mencatat indeks 34, Parepare 42, Palu 47, Bitung 48, Palopo 49, Makassar 69, dan Manado 70.
Perbandingan data tersebut memperlihatkan indeks kualitas udara Kendari meningkat dari 30 menjadi 98 dalam rentang sekitar enam pekan. Meski demikian, perubahan angka ini belum cukup untuk memastikan penyebab kenaikan polusi maupun menyimpulkan tren kualitas udara dalam jangka panjang.
Selain indeks AQI⁺, konsentrasi partikel halus PM2.5 di Kendari tercatat mencapai 34,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut lebih dari dua kali lipat pedoman paparan harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 15 µg/m³.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel ini berisiko memengaruhi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Meski indeks 98 masih berada dalam kategori sedang, kondisi kabut asap yang mengganggu jarak pandang tetap perlu menjadi perhatian. Indeks kualitas udara dan kondisi visual di lapangan merupakan dua indikator berbeda sehingga perlu dipahami secara bersamaan.
Masyarakat, khususnya kelompok sensitif, disarankan memperhatikan kondisi udara dan mengurangi paparan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
Sebagai informasi, IQAir merupakan perusahaan teknologi asal Swiss yang menyediakan pemantauan kualitas udara secara real-time. Indeks AQI⁺ digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara. Semakin tinggi angkanya, semakin buruk kualitas udara yang tercatat. Adm