BERITA TERKINIHEADLINE

Mahasiswi UIN Kendari Raih Top 2 Best Speaker di Konferensi Internasional, Bawa Isu Generasi Muda Muslim & Teknologi

×

Mahasiswi UIN Kendari Raih Top 2 Best Speaker di Konferensi Internasional, Bawa Isu Generasi Muda Muslim & Teknologi

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi muda Muslim. Di tengah kemudahan akses informasi dan komunikasi, kemampuan mengendalikan diri menjadi penting agar teknologi tidak mengikis nilai agama, karakter, dan kebiasaan positif.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Risdawati, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari, saat mengikuti Konferensi Internasional Santri Mendunia.

Tampil di forum internasional tersebut, Risdawati membawakan paper berjudul “Transforming Digital Addiction Through Education Disciplinary Character in Islamic Boarding Schools”. Paper itu mengangkat gagasan mengenai peran pendidikan karakter disiplin di pondok pesantren dalam menghadapi persoalan kecanduan digital pada generasi muda.

Menurut Risdawati, generasi muda tidak harus menjauhi teknologi untuk menjaga nilai-nilai keislaman. Justru, hal yang lebih penting adalah membangun kemampuan mengendalikan diri sehingga teknologi dapat digunakan secara bijak dan produktif.

Baca Juga :  622 Peserta Lulus UM-PTKIN di IAIN Kendari, Sisa Kuota Dialihkan ke Seleksi Mandiri

“Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana kita memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menggunakannya,” kata Risdawati kepada awak Lajur.co, Selasa (11/8/2026).

Ia menilai nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan pesantren, seperti kedisiplinan, pengaturan waktu, tanggung jawab, pembiasaan ibadah, dan pengendalian diri, masih sangat relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, dapat menjadi fondasi dalam membentuk generasi muda yang mampu memanfaatkan teknologi untuk berbagai kebutuhan positif tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai keislaman.

“Menjaga keimanan bukan berarti harus anti terhadap teknologi, tetapi bagaimana kita memiliki karakter dan nilai yang cukup kuat sehingga teknologi berada di bawah kendali kita, bukan justru kita yang dikendalikan oleh teknologi,” ujarnya.

Gagasan tersebut disampaikan Risdawati dalam Konferensi Internasional Santri Mendunia yang mengusung tema “Disconnected Generation: Faith, Technology and the Crisis of Modern Muslim Youth”.

Baca Juga :  Bupati Pertama LM Rajiun Tumada Hadir di HUT Muna Barat, Duduk di Kursi VIP Bareng Gubernur ASR

Konferensi internasional itu digelar di sejumlah negara Asia, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand, pada 6 hingga 11 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari berbagai negara dan perguruan tinggi di Asia.

Selama mengikuti kegiatan, Risdawati terlibat dalam sejumlah rangkaian acara, mulai dari debat, Focus Group Discussion (FGD), hingga presentasi paper.

Dari berbagai rangkaian tersebut, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Kendari itu berhasil meraih penghargaan Top 2 Best Speaker.

Risdawati mengaku bersyukur atas capaian yang diraihnya. Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian, melainkan pengalaman berharga yang menjadi bagian dari proses pengembangan diri.

Ia juga menjadikan capaian tersebut sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan berbicara, berpikir kritis, berdiskusi, sekaligus menyampaikan gagasan di berbagai ruang akademik.

Baca Juga :  Warga Kendari, Buruan Berburu Promo Kemerdekaan, Ada Kesempatan Bawa Pulang EV Car

“Saya melihat penghargaan ini bukan sebagai titik akhir, tetapi sebagai awal untuk terus berproses dan berani mengambil kesempatan-kesempatan yang lebih besar ke depannya,” jelasnya.

Risdawati berharap pencapaiannya dapat memotivasi mahasiswa dan santri Indonesia agar lebih berani mengambil kesempatan untuk tampil dan menyampaikan gagasan di berbagai forum, baik nasional maupun internasional.

Menurutnya, santri dan generasi muda Muslim Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan yang muncul di tengah perubahan zaman.

“Santri Indonesia tidak hanya harus siap menghadapi dunia, tetapi juga harus siap memberikan warna dan kontribusi bagi dunia,” tuturnya.

Laporan: Ika Astuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *