LAJUR.CO, KENDARI – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) sekaligus Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Sultra, Ir. Hugua, membuka Kejuaraan Nasional Chess Open UHO Cup 2026 di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Jumat (25/9/2026).
Kejuaraan yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis UHO ke-45 itu diikuti 340 pecatur dari berbagai kalangan. Mereka akan bersaing selama tiga hari, 25-27 September 2026, untuk memperebutkan total hadiah Rp81,75 juta.
Ratusan peserta tersebut terbagi dalam dua kategori, yakni umum serta mahasiswa, pelajar, dan putri. Sebanyak 218 pecatur turun di kategori umum, sementara 122 peserta lainnya bersaing pada kategori mahasiswa, pelajar, dan putri.
Besarnya hadiah menjadi salah satu daya tarik turnamen ini. Pada kategori umum, juara pertama berhak membawa pulang Rp15 juta, juara kedua Rp10 juta, juara ketiga Rp7 juta, juara keempat Rp5 juta, dan juara kelima Rp3 juta.
Hadiah juga disiapkan bagi peringkat berikutnya. Peringkat 6 dan 7 masing-masing memperoleh Rp2 juta, peringkat 8-10 Rp1,5 juta, peringkat 11-15 Rp1 juta, serta peringkat 16-20 masing-masing Rp750 ribu.
Sementara itu, kategori mahasiswa, pelajar, dan putri menyediakan hadiah Rp7,5 juta bagi juara pertama, Rp5 juta untuk juara kedua, Rp2,5 juta juara ketiga, Rp1,5 juta juara keempat, dan Rp1 juta bagi juara kelima.
Peringkat 6-10 masing-masing mendapat Rp750 ribu, peringkat 11-15 Rp400 ribu, dan peringkat 16-20 memperoleh Rp250 ribu.
Dalam sambutannya, Hugua mengapresiasi pelaksanaan Chess Open UHO Cup 2026. Menurutnya, catur tidak sekadar mengandalkan kemampuan berpikir, tetapi juga melatih ketenangan, kesabaran, strategi, serta ketepatan dalam mengambil keputusan.
“Catur pasti berpikir sebelum melangkah. Pada saat ditekan oleh lawan, kita harus sabar,” ungkap Hugua.
Ia mengatakan, setiap langkah dalam permainan catur memiliki konsekuensi sehingga pemain dituntut mampu membaca situasi dan menentukan keputusan secara matang.
Menurut Hugua, papan catur juga mengajarkan sejumlah nilai, seperti strategi, pengorbanan, sportivitas, kejujuran, keadilan, dan objektivitas.
Meski berhadapan sebagai lawan selama pertandingan, ia berharap turnamen tersebut tetap menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antarpeserta.
Hugua juga berharap Chess Open UHO Cup 2026 dapat menjadi salah satu wadah untuk menemukan pecatur potensial yang kelak mampu bersaing dan mengharumkan nama Sultra di tingkat nasional.
“Kita berharap setelah ini lahir atlet-atlet yang bisa menggetarkan Indonesia dan membawa sesuatu yang sangat berarti bagi Sultra yang kita cintai bersama,” katanya.
Sementara itu, Plt Rektor UHO Prof. Khairul Munadi mengatakan kejuaraan catur tersebut bukan sekadar agenda perebutan gelar juara dan hadiah. Turnamen ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis UHO ke-45 yang dirancang untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan manusia.
Menurut Khairul, rangkaian Dies Natalis UHO tidak hanya menghadirkan kegiatan yang berkaitan dengan fisik dan seni, tetapi juga aktivitas yang mengasah kemampuan berpikir.
“Yang tidak kalah penting adalah pikiran atau otak. Karena itu kita juga menghadirkan catur sehingga semua aspek dari diri manusia bisa kita sentuh,” ujarnya.
Dari sisi teknis, Chess Open UHO Cup 2026 menggunakan sistem Swiss sebanyak sembilan babak. Setiap pertandingan berlangsung selama 30 menit dengan tambahan waktu 30 detik atau increment.
Dua babak dimainkan pada hari pertama, empat babak pada hari kedua, dan tiga babak pada hari terakhir.
Setiap kemenangan bernilai satu poin, hasil remis 0,5 poin, sedangkan kekalahan tidak memperoleh poin. Jika terdapat peserta dengan perolehan angka yang sama, penentuan peringkat dilakukan melalui sistem tie-break.
Para peserta juga diwajibkan mengenakan pakaian rapi dan sepatu. Pertandingan menerapkan larangan merokok di dalam ruangan serta aturan touch move, yakni buah catur yang sudah disentuh pemain wajib dimainkan.
Ketentuan tersebut membuat setiap pecatur harus berhitung matang sebelum menyentuh buah catur. Satu langkah yang terburu-buru dapat mengubah jalannya pertandingan.
Khairul mengatakan durasi permainan yang diterapkan memberikan ruang bagi peserta untuk menyusun strategi dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum menentukan langkah.
Ia juga membandingkannya dengan permainan catur berdurasi sangat singkat yang lebih menitikberatkan kecepatan mengambil keputusan dan refleks pemain.
“Jadi jangan kita sangka bermain catur itu hanya sekadar menghabiskan waktu. Manfaatnya luar biasa. Ada catatannya, permainannya harus betul-betul sesuai,” katanya.
Lebih jauh, Khairul ingin membawa pengembangan olahraga catur di Sultra ke pendekatan berbasis sains. UHO mulai melihat permainan tersebut dari perspektif neuroscience, terutama kaitannya dengan kemampuan otak dan fungsi kognitif.
Ia berharap kampus dapat menjadi salah satu pionir dalam pengembangan catur berbasis sains di Sultra.
Khairul juga menyebut turnamen ini dapat menjadi momentum bagi para atlet Pengprov Percasi Sultra untuk mematangkan persiapan menghadapi Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Banten pada 3 Oktober mendatang.
“Selamat bertanding kepada semua peserta, mudah-mudahan kejuaraan ini juga bisa menjadi ajang persiapan bagi para atlet Pengprov Percasi Sultra untuk menghadapi Kejurnas di Banten pada 3 Oktober mendatang,” tuturnya.
Laporan: Ika Astuti



