?>
BERITA TERKINIHEADLINE

Spicy Foam, Inovasi Mahasiswa UHO Ubah Limbah Kulit Jeruk Jadi Peluruh Styrofoam

×

Spicy Foam, Inovasi Mahasiswa UHO Ubah Limbah Kulit Jeruk Jadi Peluruh Styrofoam

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI — Bagaimana jika limbah kulit jeruk digunakan untuk meluruhkan styrofoam yang sulit terurai? Ide tak biasa itu diwujudkan mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) melalui Spicy Foam, inovasi berbahan limbah kulit jeruk yang berhasil meraih Bronze Medal dalam Nusantara Creative Competition 4 (NCC 4) di Universitas Udayana, Bali.

Kompetisi tingkat nasional yang diikuti pelajar dan mahasiswa tersebut berlangsung pada 19-20 September 2026. Tim Kampus Hijau UHO membawa Spicy Foam dalam kategori subtema lingkungan dan berhasil mencuri perhatian lewat gagasan yang mempertemukan dua persoalan sampah sekaligus.

Ketua tim, Roni Febryan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UHO, menjelaskan Spicy Foam dirancang dengan memanfaatkan kulit jeruk sebagai bahan utama untuk membantu meluruhkan styrofoam.

Menurutnya, konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru dimanfaatkan untuk menangani jenis sampah lain yang dikenal sulit terurai.

Baca Juga :  Mahasiswi UIN Kendari Raih Top 2 Best Speaker di Konferensi Internasional, Bawa Isu Generasi Muda Muslim & Teknologi

“Spicy Foam ini adalah inovasi paling out of the box karena sangat unik, di mana sebuah limbah dapat mengatasi limbah yang sangat sulit diuraikan, yaitu styrofoam, dengan mengandalkan limbah kulit jeruk yang banyak ditemukan sehari-hari,” kata Roni, Sabtu (26/9/2026).

Ia menerangkan, kulit jeruk mengandung minyak atsiri. Melalui proses kimia, kandungan tersebut menghasilkan limonen yang dapat mengganggu struktur rantai kimia pada styrofoam.

Dari sana, tim mengembangkan formula yang awalnya berbentuk larutan. Setelah melewati sejumlah tahapan pengembangan, mereka mengubahnya menjadi produk spray agar lebih praktis saat diaplikasikan.

“Jadi kami ingin mengembangkan inovasi dengan membuat sebuah produk yang praktis dan efektif untuk digunakan yaitu dengan membuat spray peluruh styrofoam,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bikin Bangga! Enam Mahasiswa UHO Antar Sultra Tembus Tiga Besar Peksiminas XVIII

Roni mengatakan produk tersebut juga telah melalui pengujian. Dalam eksperimen yang dilakukan tim, cairan hasil proses kimia tersebut mampu meluruhkan cacahan styrofoam dalam waktu relatif singkat, bahkan dalam hitungan detik hingga menit.

Bagi tim, proses menuju kompetisi di Bali menjadi pengalaman tersendiri. Mereka harus mengembangkan inovasi sekaligus membagi waktu dengan berbagai kewajiban akademik.

Roni mengungkapkan, beberapa anggota tim sedang menjalani kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), magang hingga menghadapi ujian ketika persiapan lomba berlangsung. Kondisi itu membuat koordinasi dan pembagian waktu menjadi tantangan.

“Kami kesulitan saat pra-lomba karena ada yang KKN, ada yang magang dan ujian. Akhirnya waktu susah untuk kami sesuaikan, sehingga kami tidak terlalu betul-betul fokus 100 persen menyiapkan segala hal,” ujarnya.

Tim Kampus Hijau UHO terdiri dari Roni Febryan dari FISIP Jurusan Ilmu Komunikasi, Verawaty Nur Agista dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Jurusan Sastra Inggris, Dillah Aprilia dari Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran, serta Azzahra Asmaya dari Fakultas Farmasi Jurusan Farmasi.

Baca Juga :  PT Vale Sponsori Patonro Run 2026: Diramaikan Forkopimda Sulsel-Sultra, Kenalkan Identitas Bugis-Makassar

Medali perunggu yang diraih di NCC 4 menjadi pijakan bagi mereka untuk membawa Spicy Foam ke tahap pengembangan berikutnya. Tim berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi dapat terus disempurnakan hingga memiliki manfaat yang lebih luas.

“Kami ingin lebih memantapkan lagi ide dan inovasi ini agar lebih maksimal, sehingga ke depannya bisa membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah, utamanya styrofoam,” tutur Roni.

Bagi mahasiswa UHO tersebut, Spicy Foam bukan sekadar eksperimen memanfaatkan kulit jeruk. Inovasi itu menjadi upaya mengubah sesuatu yang kerap berakhir sebagai sampah menjadi solusi untuk menghadapi persoalan lingkungan lainnya.

Laporan: Ika Astuti

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>