LAJUR.CO, KENDARI – Kondisi Pasar Sentral Wua-Wua Kendari yang bertahun-tahun sepi dari aktivitas jual beli mulai dibenahi. Di bawah pengelolaan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Kota Kendari, sejumlah langkah dilakukan menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di pasar yang sebelumnya lazim disebut Pasar Baru tersebut.
Direktur Utama Perumda Pasar Kota Kendari, Asnar, mengatakan salah satu kebijakan yang diterapkan sejak awal 2026 adalah menggratiskan sewa seluruh unit yang masih kosong. Pedagang yang serius dan bersedia berjualan diberi kesempatan menempati loads kosong tanpa biaya sewa. Biaya parkir bagi pedagang maupun pengunjung juga dibebaskan agar masyarakat tertarik datang.
Para pedagang yang menempati loads kosong hanya menanggung biaya listrik sesuai pemakaian dan retribusi K3 untuk kebersihan.
“Pedagang hanya dikenakan biaya listrik yang terpakai. Ada tokennya masing-masing. Bayarnya sesuai dengan yang mereka pakai saja. Parkir juga kita gratiskan. Kecuali K3 memang ada retribusi untuk kebersihan,” ujar Asnar, Kamis (20/8/2026).
Asnar mengklaim kebijakan tersebut perlahan mulai membuahkan hasil. Saat pengelolaan Pasar Sentral Wua-Wua diserahterimakan kepada Perumda pada 1 Januari 2026, hanya sekitar 30 pedagang yang masih beraktivitas. Kini, Perumda mengklaim terdapat 107 pedagang aktif dengan 272 unit loads telah terisi.
“Kita serah terima 1 Januari 2026. Waktu itu hanya ada 30 pedagang. Sekarang sudah ratusan,” kata Asnar.
Pasar Sentral Wua-Wua diketahui memiliki total 1.014 unit loads yang tersebar di dua lantai. Dari jumlah tersebut, baru 272 unit atau sekitar 27 persen telah terisi hingga Agustus 2026. Artinya, masih ada lebih dari 700 loads yang belum dimanfaatkan.
kata Asnar, dari 272 unit yang terisi, mayoritas berada di lantai I. Rinciannya, Blok A sebanyak 18 unit, Blok B 12 unit, Blok C 225 unit dan Blok D 6 unit. Sementara di lantai II, terdapat 8 unit aktif di Blok A dan 3 unit di Blok B, sedangkan Blok C masih kosong.
Jumlah loads yang terisi lebih banyak dibandingkan jumlah pedagang karena sebagian pedagang menempati lebih dari satu unit.
“Kadang satu orang menempati dua kios,” ujar Asnar.
Selain mengisi unit kosong, Perumda mengembangkan konsep pasar tematik untuk menarik pedagang sekaligus pembeli. Konsep Pasar Sentral Wua-wua direbranding sebagai pasar trifting alias RB.
Asnar menyebut lebih dari 200 unit kini telah dimanfaatkan pedagang RB.
“Alhamdulillah, saat ini sudah ada sekitar 200 lebih kios yang terpakai untuk pedagang RB tersebut,” katanya.
Pembenahan ikut menyasar kondisi lingkungan pasar. Asnar mengatakan saat pertama kali menerima pengelolaan, kawasan tersebut masih dipenuhi tumpukan sampah. Perumda kemudian melakukan penataan dan pengangkutan sampah secara rutin agar lingkungan pasar lebih layak bagi pedagang maupun pengunjung.
“Jadi, sejak pengalihan dan penyerahan pengelolaan dari Disperindag Kota Kendari ke Perumda Pasar Kendari, langkah awal yang kami lakukan adalah menata dan menghidupkan kembali aktivitas pasar,” katanya.
Asnar mengatakan sebagian besar unit di Pasar Sentral Wua-Wua memiliki masa kontrak yang rata-rata akan berakhir pada 2027. Karena itu, Perumda memilih memanfaatkan ruang yang tersedia lebih dahulu dengan membuka loads kosong bagi pedagang baru daripada membiarkannya tetap tidak terpakai.
Upaya tersebut dilakukan setelah Pasar Sentral Wua-Wua lama menghadapi persoalan mati suri. Padahal pasar yang sebelumnya dikenal sebagai Pasar Baru itu memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kawasan perdagangan paling ramai di Kota Kendari.
Sebagai informasi, Pasar Sentral Wua Wua turun pamor pasca revitalisasi. Program rehab besar-besaran kala itu dicanangkan era Wali Kota Kendari Ir Asrun. Total anggaran digelontorkan Pemkot Kendari sekitar Rp67 miliar. Selama proses revitalisasi berlangsung, para pedagang direlokasi sementara ke Pasar Panjang.
Setelah proses rehabilitasi rampung, bangunan pasar yang terdiri dari dua lantai itu diresmikan pada 1 November 2016 oleh Wali Kota Asrun. Revitalisasi tersebut diharapkan menjadikan Pasar Sentral Wua-Wua sebagai pusat perdagangan yang lebih representatif bagi masyarakat.
Sayang, hampir satu dekade setelah peresmian, kondisi pasar justru memprihatinkan. Aktivitas jual beli redup. Banyak unit tidak lagi dimanfaatkan. Pedagang yang terlanjur menyewa loads puluhan juta merugi karena sepi pembeli
Pantauan Lajur.co pada 13 Agustus 2026 menunjukkan sejumlah lapak, terutama di lantai II, masih kosong dan minim aktivitas perdagangan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam upaya mengembalikan fungsi pasar sebagai pusat perdagangan yang ramai.
Sebagai salah satu upaya mengatasi kondisi tersebut, kekinian Perumda mengembangkan Pasar Sentral Wua-Wua sebagai pasar tematik khusus pakaian bekas atau pusat RB sejak Februari 2026. Konsep thrift tersebut diharapkan menjadi pemantik untuk mendatangkan lebih banyak pedagang sekaligus menarik kembali pembeli.
Tujuh bulan setelah pengelolaan dialihkan, Perumda mengklaim geliat pasar mulai tumbuh. Dari sekitar 30 pedagang pada awal serah terima, jumlahnya meningkat menjadi 107 pedagang aktif dengan 272 unit loads terisi.
Namun, dengan tingkat isian baru sekitar 27 persen dari total 1.014 unit, upaya menghidupkan kembali Pasar Sentral Wua-Wua masih menjadi pekerjaan rumah berat. Bagi Perumda, mengisi loads merupakan langkah awal untuk memulihkan pasar yang lama mati suri. Tantangan berikutnya adalah memastikan pedagang bertahan, pembeli kembali berdatangan dan aktivitas perdagangan tidak kembali meredup.
“Kebijakan yang kita buat adalah isi dulu kios yang ada, yang penting serius dan mau berdagang, kita kasih gratis,” pungkas Asnar.
Laporan: Ika Astuti



