LAJUR.CO, KENDARI – Perjuangan tenaga pendidik di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) menjadi gambaran nyata tantangan dunia pendidikan di daerah pesisir Sulawesi Tenggara (Sultra). Baik guru maupun siswa harus melewati jalan rusak demi memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan.
Hal itu dirasakan Ibu Salma, S.Pd, seorang kepala sekolah di Wawonii Barat. Baginya, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari pengabdian yang penuh tantangan.
Setiap pagi, Ibu Salma harus menempuh perjalanan sekitar 3,5 kilometer dari rumah ke SMP Negeri 4 Wawonii Barat, tempat ia mengabdi. Ritme perjalanan ini telah ia jalani selama tujuh tahun, sejak awal bertugas di daerah tersebut.
Kondisi jalan yang dilalui masih berupa pengerasan tanah dan batu kerikil yang sudah terlepas, berlubang, serta kerap tergenang air saat hujan. Risiko tergelincir atau terjebak dalam genangan air pun bisa terjadi sewaktu-waktu.
Dalam kondisi normal, perjalanan itu ditempuh sekitar 25 menit. Namun saat hujan turun, waktu tempuh bisa lebih lama karena jalan berubah menjadi lumpur yang licin dan sulit dilalui.
“Jalan menuju sekolah masih belum diaspal, sekitar tiga kilometer. Kalau musim hujan, air meluap dan jalan jadi sangat licin. Itu membuat kami tidak tepat waktu datang ke sekolah,” ujar Salma, Selasa (5/5/2026).
Di sepanjang perjalanan, Salma kerap berpapasan dengan siswa yang berjalan kaki atau diantar keluarga menggunakan kendaraan sederhana.
Namun di balik semua itu, Salma mengaku ada satu hal yang paling membekas selama menjadi pendidik di wilayah terpencil. Ia merasakan makna pengabdian yang jauh lebih dalam, terutama ketika melihat langsung peran guru membentuk karakter dan masa depan siswanya.
“Hal paling berkesan yaitu saya merasa senang karena bisa mengetahui betapa besarnya arti pengabdian sebagai guru di kepulauan. Walaupun banyak keterbatasan, kehadiran kami sangat berarti bagi masa depan anak-anak,” tuturnya.
Ia menambahkan, tugas guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar berakhlak dan beradab. Proses itu, menurutnya, membutuhkan kolaborasi antara sekolah, pemerintah, keluarga, dan masyarakat.
Selain itu, Salma juga menilai adanya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru. Salah satunya melalui pembayaran tunjangan profesi guru (TPG) yang dinilai sangat membantu para pendidik.
Tantangan lain yang dihadapi tidak hanya soal akses jalan. Keterbatasan jaringan internet juga menjadi kendala serius di Wawonii Barat.
Sekolah itu bahkan pernah tidak dapat melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) karena jaringan tidak memadai. Sehingga kegiatan TKA harus dipindahkan ke Langara, ibu kota kabupaten yang berjarak sekitar 3 kilometer dari sekolah.
“Karena jaringan internet kurang memadai, kami tidak bisa melaksanakan TKA di sekolah. Jadi kami pindah ke Langara,” ungkapnya.
Dari sisi fasilitas, SMP Negeri 4 Wawonii Barat juga belum memiliki gedung perpustakaan. Untuk sementara, ruang kantor lama dialihfungsikan sebagai ruang baca bagi siswa.
Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan setiap hari. Suasana kelas tetap hidup oleh semangat siswa yang datang untuk belajar dan mengukir prestasi.
Sejumlah capaian berhasil diraih di tingkat kabupaten, mulai dari juara 1 lomba baca puisi, juara 1 futsal, juara 1 menyanyi solo, juara 2 sholawat, juara 2 bola gotong, juara 3 inovasi male, hingga juara harapan 1 gerak jalan.
“Anak-anak di sini punya potensi yang sama dengan daerah lain. Tinggal bagaimana kami sebagai guru terus membimbing mereka,” kata Salma.
Capaian itu juga didukung proses belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan kreatif diterapkan guru melalui Kurikulum Merdeka sejak beberapa tahun terakhir.
Selain itu, bantuan fasilitas seperti papan interaktif digital (PID), laptop, dan hardisk yang diterima pada 2026 turut membantu proses pembelajaran berbasis digital. Kehadiran perangkat tersebut membuat siswa lebih antusias mengikuti pelajaran di kelas.
Salma berharap ke depan ada perhatian lebih besar terhadap infrastruktur pendidikan di wilayah kepulauan. Terutama akses jalan dan jaringan internet agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih aman dan optimal.
“Harapan terbesar saya, jalan bisa diaspal dan jaringan internet bisa lebih baik agar kegiatan belajar di sekolah bisa maksimal,” ujarnya.
Meskipun begitu, semangat mereka tetap menjadi penggerak utama agar sekolah tetap hidup, dan harapan masa depan tetap menyala setiap hari. Red





