?>
BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Tak Perlu Impor, Sultra Bisa Produksi Karbon Aktif Berbahan Arang Tempurung Untuk Industri Nikel

×

Tak Perlu Impor, Sultra Bisa Produksi Karbon Aktif Berbahan Arang Tempurung Untuk Industri Nikel

Sebarkan artikel ini
Wakil Gubernur Sultra Dr Hugua mempertemukan stakeholder terkait membahas strategi memacu ekspor non tambang dan pengembangan komoditas unggulan Sultra, Selasa (6/10/2026)

LAJUR.CO, KENDARI – Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki peluang besar mengembangkan industri karbon aktif berbahan arang tempurung kelapa untuk memenuhi kebutuhan industri nikel di Bumi Anoa.

Inovasi tersebut bisa memangkas ketergantungan industri smelter terhadap karbon aktif dari luar negeri. Termasuk menciptakan nilai tambah bagi komoditas kelapa yang selama ini banyak dikirim ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah.

Eksportir arang tempurung kelapa Sultra, Ebenhyser Polo, mengatakan karbon aktif berbahan tempurung kelapa lazim digunakan sebagai material pada proses pemurnian logam, termasuk industri nikel. Sultra berpeluang memproduksi sendiri karbon aktif berbahan arang tempurung kelapa. Terlebih bahan dasar ini sangat melimpah. Hasil produksinya dapat diserap industri nikel lokal, bahkan berpotensi dipasarkan ke luar daerah.

“Sultra itu menarik karena di sini ada industri nikel. Pemurnian tingkat akhir nikel membutuhkan karbon aktif,” kata Ebenhyser dalam pertemuan bersama Wakil Gubernur Sultra Hugua di ruang kerja gubernur, Selasa (6/10/2026).

Pertemuan lintas stakeholder digagas Hugua tersebut menjadi bagian dari konsolidasi dan kolaborasi pengembangan ekspor non-tambang di Sultra. Hadir di antaranya pelaku usaha non-tambang dari Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Sultra, industri tepung tapioka, Kadin Sultra, HIPMI Sultra, Bank Indonesia (BI) Sultra, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra, Pelindo, dan Bea Cukai Kendari.

Hugua yang kini menjabat Ketua Tim Percepatan Ekspor Sultra mendorong diversifikasi komoditas ekspor. Kata dia, perekonomian daerah tidak mesti bertumpu pada sektor pertambangan. Sektor non-tambang seperti pengolahan batok kelapa menjadi karbon aktif serta industri tepung tapioka mengandalkan komoditas pangan ubi kayu dapat turut menggerakkan ekonomi Sultra.

Baca Juga :  Beliebte Sportarten und Tipps für Wetten ohne OASIS in Deutschland

Seperti diungkap Ebenhyser, karbon aktif menyupali kebutuhan pemurnian logam berkualitas tinggi umumnya menggunakan bahan baku tempurung kelapa. Bahan tersebut sudah lama dikenal pada proses pemurnian logam mulia seperti emas dan perak.

“Karbon aktif bisa dibuat dari arang kayu atau cangkang sawit. Tetapi untuk pemurnian logam tingkat tinggi, khususnya untuk kepentingan katodik, karbon aktifnya disyaratkan dari tempurung kelapa,” ujarnya.

Ironisnya, kata Ebenhyser, rantai pasok komoditas tersebut justru membuat Sultra mengirim bahan baku ke luar negeri untuk diproses.

Ia mencontohkan, arang tempurung kelapa dari tingkat petani dapat diekspor ke China. Di negara tersebut, arang kemudian diproses melalui pembakaran atau aktivasi pada suhu sekitar 1.000 derajat Celsius hingga menjadi karbon aktif. Setelah menjadi karbon aktif, produk tersebut kembali masuk ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri, termasuk smelter nikel.

Wakil Gubernur Sultra Hugua menilai kondisi tersebut menunjukkan besarnya nilai tambah yang justru dinikmati di luar negeri.

“Di petani dibakar tingkat awal, lalu di China dibakar lagi sampai 1.000 derajat menjadi karbon aktif. Setelah jadi karbon aktif, dibawa lagi ke smelter kita di Indonesia,” kata Hugua.

Baca Juga :  Hugua Soroti Bagi Hasil Tambang di Sultra: Pusat Untung Rp188 Triliun, Daerah Hanya Keciprat Rp207 Miliar

Menurutnya, perbedaan harga sebelum dan setelah proses aktivasi menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang bisa diambil Sultra.

Arang tempurung kelapa dari petani yang nilainya sekitar 1.000 dolar AS per ton dapat meningkat menjadi sekitar 3.500 dolar AS per ton setelah diproses menjadi karbon aktif.

“Coba bayangkan harganya berapa. Kalau sebelum dibakar harganya sekitar 1.000 dolar, setelah dibakar 1.000 derajat menjadi karbon aktif harganya naik menjadi 3.500 dolar per ton,” ujarnya.

Karena itu, Hugua mendorong agar proses aktivasi karbon tersebut mulai dikembangkan di Sultra.

“Pemerintah harus mendorong agar proses pembakaran hingga 1.000 derajat itu dilakukan di Kendari. Sehingga smelter-smelter yang ada bisa membeli langsung hasil pembakaran dari kita,” katanya.

Dengan pengolahan di dalam daerah, nilai tambah hingga sekitar 2.500 dolar AS per ton tersebut berpeluang tetap berputar di Sultra. Industri nikel juga bisa memperoleh bahan baku karbon aktif dari produsen dalam negeri.

Namun, pengembangan industri karbon aktif tidak hanya membutuhkan fasilitas pengolahan. Konsistensi pasokan dan kualitas bahan baku juga menjadi persoalan yang harus dibenahi.

Ebenhyser mengatakan arang tempurung kelapa saat ini diproduksi oleh banyak petani dengan standar yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat bahan baku tidak bisa langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri dengan spesifikasi tertentu.

“Kalau ada 10 petani, pasti ada 10 standar kualitas yang berbeda. Begitu pula kalau ada 20 petani, ada 20 kualitas,” jelasnya.

Baca Juga :  Różnorodne nagrody w promocjach Mostbet zwiększają emocje w grze

Karena itu, eksportir selama ini berperan sebagai konsolidator. Mereka mengumpulkan arang dari sejumlah petani, kemudian melakukan pengolahan dan pencampuran atau blending agar kualitasnya memenuhi standar.

Menurut Ebenhyser, pola konsolidasi tersebut perlu diperkuat jika Sultra ingin membangun industri karbon aktif untuk kebutuhan smelter.

“Dibutuhkan konsolidator untuk mengumpulkan seluruh pemain arang ini ke dalam satu perusahaan. Jadi, berapa pun kebutuhan pasokannya tidak akan putus. Masalahnya sekarang, hari ini ada arangnya, besok tidak ada,” katanya.

Pengembangan industri karbon aktif dapat memperluas manfaat ekonomi komoditas kelapa. Petani tidak hanya menjual tempurung sebagai bahan baku, tetapi juga berpeluang terhubung dengan rantai industri yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Komoditas arang tempurung kelapa menjadi salah satu potensi yang mulai mendapat perhatian karena memiliki keterkaitan langsung dengan industri hilir, khususnya kebutuhan pemurnian logam.

Konsolidasi lintas sektor diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan ekosistem arang tempurung kelapa dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, Sultra tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi berpeluang menghasilkan karbon aktif untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Dengan ketersediaan bahan baku dan keberadaan industri nikel, pengolahan tempurung kelapa dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor pertambangan. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>