LAJUR.CO, KENDARI – Pengakuan terhadap temuan lukisan cadas berusia 67.800 tahun di Gua Metanduno, Kabupaten Muna, terus bertambah. Setelah mendapat pengakuan internasional sebagai lukisan cadas nonfiguratif tertua di dunia, kini giliran Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada tim peneliti yang mengungkap temuan bersejarah tersebut.
Piagam Rekor MURI diserahkan kepada Ketua Tim Peneliti, Adhi Agus Oktaviana, pada Kamis (16/7/2026) di Museum Rekor MURI Indonesia, Gedung Suprana Institut, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menerima Piagam Rekor MURI Nomor 0045/M./KEBUDAYAAN/V/2026 dalam kategori Tim Peneliti Lukisan Cadas atas Mahakarya Kebudayaan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, berkat keberhasilan mengungkap lukisan cadas tertua di dunia di Gua Metanduno, Kabupaten Muna, yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun.
Nama Adhi Agus Oktaviana bersama sejumlah peneliti lain yang terlibat dalam riset tercantum dalam piagam sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja ilmiah kolaboratif yang berhasil mengungkap salah satu temuan arkeologi paling penting dalam sejarah peradaban manusia.
Adhi Agus Oktaviana mengaku bersyukur atas penghargaan yang diberikan MURI. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi pelengkap atas berbagai bentuk pengakuan yang telah diterima hasil riset seni cadas Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami bersyukur dan berterima kasih atas penganugerahan ini. Rekor MURI ini melengkapi apresiasi dari bangsa kita terhadap hasil-hasil riset gambar cadas di Indonesia,” ujar Adhi usai menerima penghargaan.
Temuan lukisan cadas di Gua Metanduno sebelumnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi “Nature” pada Januari 2026. Penelitian tersebut menetapkan cap tangan manusia di Gua Metanduno sebagai lukisan cadas nonfiguratif tertua di dunia dengan usia sekitar 67.800 tahun.
Publikasi itu merupakan hasil riset kolaborasi yang solid antara BRIN, Griffith University, Kementerian Kebudayaan, BPK Sulawesi Selatan, Universitas Hasanuddin, dan Pemerintah Kabupaten Muna.
Pengakuan ilmiah itu kemudian diperkuat oleh Guinness World Records yang menetapkan lukisan cadas cap tangan di Gua Metanduno sebagai seni lukis nonfiguratif tertua di dunia. Pengakuan tersebut turut mengangkat nama Kabupaten Muna ke panggung internasional sebagai salah satu pusat penting jejak peradaban manusia purba.
Dampaknya pun mulai dirasakan di sektor pariwisata. Sejak hasil riset dipublikasikan dan Guinness World Records mengumumkan pengakuannya, kunjungan wisatawan ke kawasan prasejarah Liangkobhori–Metanduno meningkat signifikan.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna, L. M. Masrul, mengatakan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan prasejarah Liangkobhori–Metanduno selama semester pertama 2026 mencapai 4.415 orang.
Ribuan wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang untuk menyaksikan langsung situs yang kini dikenal sebagai rumah bagi lukisan cadas nonfiguratif tertua di dunia.
“Kunjungan wisatawan semester pertama 2026 mencapai 4.415 orang. Yang paling banyak dari negara Prancis,” kata L.M Masrul, Senin (22/6/2026).
Dengan sejumlah penghargaan yang diterima, perjalanan pengakuan terhadap Gua Metanduno semakin lengkap. Setelah memperoleh pengakuan dari komunitas ilmiah dunia melalui publikasi di jurnal Nature dan penetapan Guinness World Records, kini temuan tersebut juga mendapat apresiasi dari MURI.
Penghargaan MURI itu menjadi pengakuan atas kerja kolaboratif para peneliti dalam mengungkap warisan budaya di Pulau Muna yang mengangkat nama Indonesia di panggung dunia. Red



