LAJUR.CO, KENDARI — Kekeringan melanda 320 hektare lahan persawahan di kawasan Amohalo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada produktivitas padi yang tahun ini diprediksi turun dibandingkan hasil panen sebelumnya.
Data dari Dinas Pertanian Kota Kendari, akibat elnino, sekitar 330 hektare kawasan persawahan di Amohalo sebagian besar lahan mengalami kekurangan air dengan tingkat keparahan yang berbeda. Sebanyak 200 hektare mengalami kekeringan ringan, 70 hektare terdampak sedang, dan 32 hektare masuk kategori berat. Sementara sekitar 10 hektare lainnya berada dalam kondisi khusus.
Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail, mengatakan meski kekeringan melanda hampir seluruh kawasan persawahan tersebut, sebagian besar lahan masih dapat diselamatkan. Hingga saat ini, sekitar 310 hektare sawah telah berhasil dipanen.
“Alhamdulillah walaupun dengan kondisi cuaca di kemarau ini, El Nino ini, untuk Kota Kendari dari luasan yang saya sebut tadi 330 hektare, kita bisa memanen kurang lebih 310 hektare,” kata Imran kepada awak media, Senin (28/9/2026).
Namun, keterbatasan pasokan air selama masa pertumbuhan tanaman membuat hasil panen diperkirakan tidak maksimal. Menurut Imran, tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup pada fase pertumbuhan, sementara kondisi di lapangan justru mengalami kekurangan air.
Upaya pengairan menggunakan pompa telah dilakukan untuk menjaga tanaman tetap tumbuh. Hanya saja, distribusi air melalui pompa belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh areal persawahan yang terdampak.
“Secara ini pasti menurun karena pada saat pertumbuhan tanaman padi yang membutuhkan air, airnya kurang tersedia. Hanya melalui pompa-pompa itu tidak maksimal,” ujarnya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi perkiraan produksi gabah. Berdasarkan informasi dari petani, hasil panen tahun ini diperkirakan hanya berada di kisaran rata-rata 3 hingga 4 ton.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan produksi pada tahun sebelumnya yang masih mampu mencapai sekitar 5,5 hingga 7 ton perhektar.
“Info dari petani perkiraan panen sekarang 3–4 ton, tahun kemarin bisa mencapai 5,5 sampai 7 ton,” kata Imran.
Untuk menekan dampak kekeringan, Pemkot Kendari tidak bergerak sendiri. Penanganan dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), serta Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara.
Sejumlah instansi tersebut bahu-membahu mempertahankan lahan yang masih dapat diselamatkan, termasuk sawah yang mengalami kekeringan kategori berat.
“Masih bisa diselamatkan berkat bantuan dari beberapa instansi, itu kami membahu untuk bagaimana keluasan sawah itu bisa kita tekan,” tutur Imran.
Dari total sekitar 330 hektare kawasan persawahan di Amohalo, kurang lebih 310 hektare telah dipanen. Sementara itu, jumlah produksi gabah kering secara pasti masih menunggu hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS).
Laporan: Ika Astuti



