LAJUR.CO, KENDARI – Sulawesi Tenggara (Sultra) dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor komoditas perikanan tuna, cakalang, dan tongkol (TCT) ke pasar global. Peluang tersebut semakin terbuka jika didukung penerapan praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Sultra menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan sistem perikanan berkelanjutan, khususnya melalui metode pole and line dan handline. Kedua teknik ini dinilai mampu menjaga kelestarian sumber daya laut sekaligus meningkatkan nilai jual produk di pasar internasional.
Pole and line (pancing huhate) dan handline (pancing ulur) merupakan metode penangkapan ikan yang selektif dan minim dampak terhadap ekosistem. Sistem tersebut banyak diadopsi nelayan lokal untuk menangkap ikan pelagis seperti tuna dan cakalang dengan cara yang lebih terkontrol dibanding alat tangkap massal.
Isu tersebut mengemuka dalam Pertemuan Reguler Komite Pengelolaan Bersama Perikanan (KPBP) TCT Sultra yang dibuka Wakil Gubernur Sultra, Dr Hugua di Kendari, Kamis (21/5/2026).
Pada forum tersebut, Pemprov Sultra menekankan pentingnya penguatan rantai pasok dan peningkatan kualitas hasil tangkapan agar mampu bersaing di pasar global. Upaya itu mencakup pembenahan infrastruktur seperti pelabuhan perikanan, cold storage, hingga sistem pemantauan kapal melalui Vessel Monitoring System (VMS).
Nilai tambah komoditas TCT Sultra tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh standar keberlanjutan serta ketertelusuran produk (traceability). Faktor ini menjadi syarat penting dalam memenuhi permintaan pasar ekspor yang semakin ketat.
Goverment Affairs and Policy Lead Yayasan International Pole and Line Foundation Indonesia (IPNLF), Nilma Wati, menegaskan bahwa produk perikanan yang ditangkap dengan metode ramah lingkungan memiliki daya saing tinggi di pasar global.
Hasil tangkapan pole and line memang tidak sebesar alat tangkap masif seperti pukat. Tapi nilai ekonominya justru lebih tinggi karena memenuhi standar keberlanjutan internasional.
“Yakinlah bahwa produk-produk itu pasarnya di luar sana banyak. Potensi ekonominya jauh lebih tinggi daripada alat tangkap yang instan begitu,” ujar Nilma Wati.
Ia menekankan pentingnya konsistensi nelayan menjaga praktik perikanan berkelanjutan demi memastikan keberlanjutan ekosistem laut bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Hugua menilai Sultra memiliki posisi strategis sebagai wilayah pemijahan dan pembesaran ikan tuna, cakalang, dan tongkol di Indonesia.
Menurutnya, keberlanjutan sektor perikanan harus dijaga melalui kebijakan yang mendukung praktik penangkapan ramah lingkungan serta pengawasan ketat terhadap alat tangkap yang merusak ekosistem.
Ia menyoroti perlunya efisiensi rantai distribusi hasil perikanan agar kualitas produk tetap terjaga hingga ke pasar ekspor. Selama ini, sebagian nelayan masih menjual hasil tangkapan melalui jalur panjang ke Makassar dan Surabaya, yang berdampak pada penurunan mutu.
“Kalau sudah busuk, enggak ada arti,” tegasnya.
Hugua mengatakan, jumlah produksi komoditas TCT di Sultra cukup besar pada 2025. Tongkol tercatat mencapai 23.733 ton, cakalang 20.152 ton, dan tuna 16.463 ton.
Penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan tersebut menjadi bagian dari agenda Pertemuan KPBP V yang membahas konsolidasi data, skema ekspor satu pintu, serta evaluasi kebijakan seperti VMS, rumpon, dan kuota penangkapan di daerah. Adm





