BERITA TERKINIHEADLINE

1.228 Dulang Makanan Tradisional Pecahkan Rekor MURI, Ini Sajian Khas Suku Muna yang Wajib Ada di Haroa

×

1.228 Dulang Makanan Tradisional Pecahkan Rekor MURI, Ini Sajian Khas Suku Muna yang Wajib Ada di Haroa

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Sebanyak 1.228 dulang berisi makanan tradisional khas Suku Muna berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada pesta budaya yang digelar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sultra di Kendari. Ribuan dulang tersebut tidak hanya menjadi simbol keberhasilan memecahkan rekor, tetapi juga menampilkan kekayaan kuliner yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Haroa, yakni ritual doa dan syukuran yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Muna.

Dalam tradisi Haroa, dulang bukan sekadar wadah untuk menyajikan makanan. Setiap dulang wajib berisi aneka hidangan yang disantap bersama sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong. Selain lauk-pauk, terdapat lima kue tradisional yang hampir selalu hadir dalam setiap Haroa.

Kelima sajian tersebut yakni cucur, kue yang dibuat dari tepung beras, gula merah, dan santan dengan cita rasa manis dan tekstur renyah di bagian pinggir. Kemudian waje, penganan berbahan dasar beras ketan yang dimasak bersama gula merah hingga menghasilkan tekstur kenyal.

Baca Juga :  Edukasi Limbah dan Agrikultur, GenBI STIE 66 Kendari Ajak Warga Kendalikan Inflasi dari Rumah

Selanjutnya ngkea-ngkea, kue tradisional yang dibuat dari pisang yang dihaluskan lalu dicampur tepung terigu dan gula merah sebelum digoreng. Ada pula srikaya, kue lembut berbahan utama telur dan gula merah yang memiliki tekstur menyerupai puding serta biasanya disajikan dalam cangkir kecil.

Sementara sanggara merupakan pisang goreng khas Muna yang diolah tanpa balutan tepung, sehingga menghasilkan cita rasa alami pisang yang lebih dominan. Kelima penganan tersebut menjadi ciri khas Haroa sekaligus melambangkan penghormatan kepada tamu, rasa syukur, dan eratnya ikatan kekeluargaan masyarakat Muna.

Baca Juga :  GenBI UHO Bina Desa 2026 di Ambalodangge, Dorong Digitalisasi UMKM & Pertanian Berkelanjutan

Senior Manager MURI, Triyono, mengatakan penghargaan diberikan kepada KKMM Sultra karena berhasil menggelar pesta budaya kategori Ritual Haroa dengan Sajian Makanan Menggunakan Dulang Terbanyak.

“Dari laporan panitia disebutkan ada 1.200 dulang, namun setelah kami verifikasi ada 1.228 sehingga tercatat sebagai rekor karena melebihi target,” ujarnya.

Menurut Triyono, tradisi Haroa menunjukkan bahwa dulang memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar tempat menyajikan makanan.

Di tengah perkembangan era digital yang dinilai mulai mengurangi interaksi sosial, tradisi tersebut justru memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan dan persaudaraan yang masih dijaga masyarakat Muna.

“Bahwa dulang bukan hanya sekadar wadah makanan, tetapi menjadi simbol kebersamaan, wadah doa, dan rasa syukur bagi kita semua,” katanya.

Baca Juga :  Lelang Aset 'Randis' Pemprov Sultra: Motor Yamaha Fiz R Dibuka Rp110 Ribu, Jeep Cherokee Eks Ketua DPRD Rp84 Juta

Ia berharap tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu terus dilestarikan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Sementara itu, Ketua KKMM Sultra, La Ode Darwin, mengatakan filosofi dulang tidak hanya melekat pada upacara adat maupun syukuran masyarakat Muna, tetapi juga menjadi simbol pemersatu masyarakat Muna di mana pun berada.

Menurutnya, setiap dulang dapat dinikmati bersama oleh sekitar 10 hingga 20 orang, bahkan lebih, bergantung pada ukuran dulang yang digunakan. Tradisi makan bersama tersebut menjadi wujud kebersamaan yang menghapus sekat perbedaan di tengah masyarakat.

“Sehingga dulang ini menjadi simbol persatuan kita masyarakat suku Muna di manapun mereka berada,” ucap Darwin. Adm

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x