LAJUR.CO, KENDARI – Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat sejarah dalam pengelolaan kawasan pesisir dan konservasi laut. Provinsi yang digawangi duet Andi Sumangerukka – Ir Hugua itu menjadi daerah pertama di Indonesia bahkan di tingkat global yang menerapkan skema pembiayaan inovatif Impact Bond untuk mendukung keberlanjutan program konservasi berbasis masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Vice President Rare Indonesia, Hari Kushardanto, saat menghadiri Lokakarya Harmonisasi Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Pesisir dan Laut untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Ekonomi Biru Berkelanjutan dalam Perencanaan Pembangunan Daerah Sultra di Kendari, Selasa (21/7/2026).
Menurut Hari, Sultra menjadi daerah strategis karena mampu menunjukkan dampak nyata dalam upaya konservasi laut melalui program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP). Keberhasilan tersebut kemudian menjadi dasar penerapan pembiayaan berkelanjutan melalui skema Impact Bond.
“Sultra menjadi sangat penting karena menjadi model yang berdampak pada konservasi sehingga mendapat pendanaan berkelanjutan lewat program Impact Bond,” ujarnya.
Pendanaan inovatif tersebut telah diterapkan pada tiga kabupaten, yakni Buton Tengah, Buton Utara, dan Buton, untuk mendukung pembentukan tiga kawasan PAAP baru.
Hari menjelaskan, Impact Bond memiliki pendekatan berbeda dibandingkan pola pendanaan konvensional. Jika sebelumnya lembaga nonpemerintah banyak bergantung pada dukungan yayasan atau foundation, skema ini membuka ruang keterlibatan lebih luas, termasuk pihak swasta, dengan orientasi pada capaian hasil.
“Ini pendanaan yang sebetulnya bukan konvensional. Kami mengundang pihak lain untuk terlibat, termasuk sektor swasta, sehingga program dapat berjalan lebih kuat dan menghasilkan dampak yang terukur,” katanya.
Ia menegaskan, Sultra menjadi pionir penerapan pembiayaan berbasis kinerja atau performance-based payment dan outcome-based payment. Tidak hanya pertama di Indonesia, tetapi juga menjadi model pertama yang diterapkan secara global.
“Ini bukan cuma pertama di Indonesia, tetapi pertama secara internasional. Model ini kemudian menjadi contoh untuk diterapkan di negara lain. Sultra sungguh membanggakan karena setelah sekian tahun membangun komitmen bersama pemerintah daerah dan masyarakat, pembiayaan inovatif ini akhirnya bisa diterapkan,” ungkapnya.
Perjalanan program PAAP Rare Indonesia di Sultra dimulai sejak 2018. Dalam kurun waktu delapan tahun, program tersebut berkembang hingga membentuk 33 kawasan PAAP. Dengan tambahan tiga kawasan baru melalui pendanaan Impact Bond, total terdapat 36 kawasan PAAP di Sultra.
Program tersebut telah berjalan di 10 kabupaten pesisir, mencakup 188 desa dengan melibatkan sekitar 28.327 nelayan dan menjangkau lebih dari 155.903 masyarakat pesisir.
Hari mengatakan, keberadaan Rare di Sultra tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai program pendukung, mulai dari tata ruang laut, kelompok simpan pinjam, kelompok perempuan, pengembangan bisnis mikro, hingga pengawasan berbasis masyarakat.
“Masyarakat diberikan pelatihan untuk melakukan pengawasan mandiri. Mereka dilengkapi dengan kemampuan dan peralatan pendukung agar dapat menjaga wilayah lautnya sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengelolaan ekosistem laut adalah membangun sinergi lintas sektor. Laut tidak dapat dikelola hanya oleh sektor kelautan dan perikanan, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai organisasi perangkat daerah.
“Kalau berbicara ketahanan pangan di daerah kelautan, maka kita harus melindungi lautnya. Tidak bisa hanya menggantungkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan saja, tetapi harus melibatkan sektor lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat,” kata Hari.
Dampak paling signifikan dari keberadaan program PAAP terlihat dari perubahan perilaku masyarakat pesisir. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga laut dan keberlanjutan perikanan semakin meningkat.
“Masyarakat yang kami dampingi sebagian besar sudah mulai meninggalkan praktik menangkap ikan yang merusak seperti penggunaan bom dan racun. Walaupun masih ada ancaman dari nelayan luar yang masuk menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan, tetapi di masyarakat sendiri praktik tersebut sudah mulai berkurang,” ujarnya.
Selain konservasi, Rare ikut mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat pesisir melalui kelompok menabung. Menurut Hari, kebiasaan menabung menjadi perubahan penting dalam meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga nelayan.
“Dulu menabung dilakukan dari uang yang tersisa, tetapi sekarang masyarakat mulai memahami bahwa menabung harus disisihkan terlebih dahulu dari pendapatan. Misalnya dari pendapatan satu juta rupiah, mereka menyepakati menyimpan 10 persen untuk tabungan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sultra Ir Hugua dan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra Muh Fadlansyah mengapresiasi program-program yang dilaksanakan Rare Indonesia karena dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya nelayan di Sultra.
“Kita ketahui bersama bahwa dua per tiga wilayah Sultra adalah laut. Karena itu, pemerintah terus mendorong kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat melalui sektor kelautan,” ujarnya.
Sebagai informasi, Lokakarya Rare Indonesia ikut menghadirkan Wakil Gubernur Sultra Ir. Hugua sebagai salah satu pembicara. Mantan Bupati Wakatobi itu membahas sinkronisasi Tri Cita Sultra dengan kebijakan pengelolaan ekosistem pesisir dan laut dalam perencanaan pembangunan daerah yang mendukung ketahanan pangan serta ekonomi biru berkelanjutan. Adm



