LAJUR.CO, KENDARI – Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, memimpin langsung kick off pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) tingkat nasional yang dipusatkan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (15/6). Dari Bumi Anoa, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 resmi dimulai secara serentak di seluruh Indonesia menerjunkan lebih dari 251 ribu petugas lapangan melakukan tugas pendataan hingga 31 Agustus 2026.
Di Sultra sendiri, lebih dari 2.600 petugas diterjunkan mendata usaha dan aktivitas ekonomi keluarga di seluruh kabupaten dan kota. Sultra dipilih sebagai lokasi pencanangan nasional karena dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar, variasi sektor usaha yang terus berkembang, serta menjadi salah satu daerah yang mencerminkan arah pembangunan ekonomi Indonesia ke depan.
Pencanangan yang berlangsung di Lapangan Kantor Gubernur Sultra itu dihadiri Wakil Gubernur Sultra Dr. Hugua, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Penjabat Sekretaris Daerah Sultra Muh Fadlansyah, Wakil Wali Kota Kendari Sudirman, Kepala BPS Sultra Hadi Susanto, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra Bismi Maulana, pimpinan instansi vertikal, BUMN/BUMD, asosiasi pelaku usaha, media massa, serta jajaran BPS.
“Ya, Sulawesi Tenggara ini salah satu provinsi yang memang punya potensi sangat baik. Terus kemudian juga variasi dari aktivitas sektornya mulai berkembang. Kita tahu hilirisasi juga di sini berkembang, salah satu prioritas dari Presiden,” ujar Sonny.
Menurutnya, perkembangan sektor hilirisasi yang semakin kuat serta dukungan penuh Pemerintah Provinsi Sultra menjadi pertimbangan penting dalam penetapan daerah tersebut sebagai tuan rumah pencanangan nasional SE2026.
“Dan kemudian juga Sulawesi Tenggara bisa menjadi gambaran Indonesia ke depan, kemajuan Indonesia. Dan memang dukungan dari pemerintah provinsi juga luar biasa,” lanjutnya.
Sebagai simbol dimulainya pendataan lapangan, Sonny memasangkan rompi dan tanda pengenal kepada perwakilan petugas Sensus Ekonomi 2026. Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Sultra membacakan deklarasi dukungan dan menandatangani komitmen bersama untuk menyukseskan pelaksanaan sensus.
Sonny mengaku salut, meski apel pencanangan Sensus Ekonomi diwarnai hujan tak menyurutkan semangat jajaran Pemprov Sultra menyukseskan program nasional tersebut. Ia menyampaikan apresiasi atas support penuh pelaksanaan SE2026. Menurutnya, dukungan tersebut menunjukkan komitmen bersama pembangunan yang tepat sasaran harus dimulai dari data yang berkualitas.
Sonny menyampaikan rasa bangga dapat menyaksikan langsung hari pertama pendataan SE2026 di Sultra. Menurutnya, 15 Juni 2026 menjadi momentum penting karena menandai dimulainya pendataan lapangan secara serentak di seluruh Indonesia.
“Jadi, Sensus Ekonomi 2026 merupakan hajatan kerja besar 10 tahun sekali, ya. Kerja besar bangsa Indonesia 10 tahun sekali yang memang diamanatkan kepada Badan Pusat Statistik,” katanya.
Ia menjelaskan pelaksanaan SE2026 berlangsung selama dua setengah bulan dengan dukungan pemerintah pusat maupun daerah di seluruh Indonesia.
“Sensus Ekonomi 2026 kali ini dilaksanakan selama 2,5 bulan, dari 15 Juni per hari ini sampai 31 Agustus 2026, melibatkan 251.000 lebih petugas lapangan. Dan kami juga didukung oleh seluruh pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, kabupaten, kota,” ujarnya.
Sonny menjelaskan terdapat sejumlah perbedaan dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dibanding sensus sebelumnya. Salah satunya adalah durasi pendataan yang lebih panjang.
“Nah, jadi tadi ada tiga hal. Yang pertama, periode waktunya lebih panjang. Karena biasanya hanya 1 bulan, ini dilaksanakan 2,5 bulan dengan harapan waktu yang lebih lama ini bisa mencakup semua pelaku usaha di Indonesia,” jelasnya.
Perbedaan lainnya adalah perluasan cakupan pendataan yang kini mencakup sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
“Terus yang kedua, Sensus Ekonomi ini mencakup aktivitas ekonomi di bidang pertanian. Karena biasanya sensus ekonomi di luar pertanian, sebab ada sensus pertanian sendiri,” katanya.
Mekanisme pendataan sensus kali ini selangkah lebih maju dan modern lantaran menerapkan pendekatan dan teknologi Artificial Intelligence (AI).
“Dan kemudian yang ketiga, kami juga melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 ini dengan metode yang baru, pendekatan yang baru. Termasuk door-to-door ke rumah masyarakat, terus kami menggunakan Artificial Intelligence atau AI, kemudian kami sudah berbasis digital juga. Jadi, memang ada perbedaan dibanding dengan pelaksanaan sensus ekonomi sebelumnya,” ungkapnya.
Untuk menyukseskan pendataan, Sonny mengajak seluruh masyarakat berpartisipasi melalui gerakan TIR yang menjadi slogan utama SE2026.
“TIR itu tolong disosialisasikan kepada masyarakat.”
TIR merupakan singkatan dari Terima kedatangan petugas sensus, Isi data dengan benar, dan Rahasia data terjaga.
Menurut Sonny, perluasan cakupan sensus hingga menyentuh sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta aktivitas ekonomi keluarga secara door-to-door akan menghasilkan gambaran yang lebih lengkap mengenai struktur ekonomi nasional maupun daerah. Karena itu, ia mengajak seluruh pelaku usaha, UMKM, akademisi, media, pemerintah daerah, hingga masyarakat untuk ikut menyukseskan pendataan.
Usai pencanangan di Kantor Gubernur Sultra, Wakil Kepala BPS RI bersama Wakil Gubernur Sultra melakukan pendataan perdana sebagai penanda dimulainya pelaksanaan lapangan Sensus Ekonomi 2026.
Menutup amanatnya, Sonny menegaskan bahwa keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya menjadi tanggung jawab BPS, melainkan seluruh elemen bangsa.
“Oleh karena itu, saya mengajak seluruh pemerintah daerah, mulai dari tingkat bupati, wali kota hingga kepala desa, untuk turut berpartisipasi aktif menyukseskan pelaksanaan SE2026. Karena Sensus Ekonomi bukan milik BPS, melainkan milik bangsa Indonesia,” pungkasnya. Adm




