LAJUR.CO, KENDARI – Bertahun-tahun bertahan di hunian yang kondisinya jauh dari layak, Abd. Rahman Yongi akhirnya mendapat kesempatan untuk memiliki rumah yang lebih aman dan nyaman. Ketua RT 9, Kelurahan Mokoau, Kota Kendari, itu menjadi salah satu penerima bantuan Program Gotong Royong Bedah Rumah yang digagas Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara (Kejati Sultra).
Rumah yang selama ini ditempati Rahman memiliki luas sekitar 47,36 meter persegi. Kondisinya membutuhkan perbaikan cukup serius.
Hasil verifikasi menemukan sejumlah bagian konstruksi rumah tidak tersedia. Kolom dan ring balok, misalnya, tidak ada. Sebagian rangka atap juga sudah rapuh.
Tak hanya itu, tembok rumah mengalami retak dan tidak kedap air.
Atas kondisi tersebut, rumah Rahman mendapat alokasi anggaran Rp50 juta untuk pembangunan kembali.
Pelaksanaan pembangunan dijadwalkan setelah penetapan penerima bantuan pada 18 September 2026. Pengerjaannya ditargetkan rampung 100 persen pada 31 Desember 2026.
Bantuan tersebut menjadi kabar yang berarti bagi Rahman. Sebab, di tengah kondisi rumah yang membutuhkan perbaikan, ia juga sedang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Rahman mengaku kini sudah tidak mampu bekerja karena kondisi kesehatan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan beras dari kelurahan.
“Kalau sekarang tidak ada, karena dalam kondisi sakit seperti ini saya tidak bisa kerja. Untung saja ada bantuan dari kelurahan, itu yang kita makan,” ujar Rahman kepada awak media usai menerima bantuan bedah rumah, Rabu (30/9/2026).
Sebagai Ketua RT 9, Rahman selama ini justru kerap mengusulkan agar warga kurang mampu di wilayahnya mendapat bantuan perbaikan rumah.
Ia beberapa kali menyampaikan kondisi warga yang membutuhkan. Namun, tak disangka, rumahnya sendiri akhirnya masuk dalam daftar penerima bantuan.
Rahman mengatakan, awalnya ia tidak mengetahui rumahnya akan mendapatkan bantuan.
Proses tersebut bermula ketika tim datang melakukan pendataan sekaligus melihat langsung kondisi rumahnya.
“Ada tim datang tanya-tanya, bilang tanya nama saya, saya bilang iya. Kebetulan mereka bilang foto-foto rumah itu. Sudah bilang ini Bapak ini layak dapat bantuan, saya bilang ya Alhamdulillah,” tuturnya.
Program Gotong Royong Bedah Rumah yang diterima Rahman merupakan program yang digagas Kejati Sultra untuk membantu masyarakat mendapatkan hunian yang lebih layak.
Kepala Kejati Sultra, Sugeng Riyanta, mengatakan program tersebut dibangun dengan semangat gotong royong melalui kolaborasi berbagai pihak.
Menurutnya, upaya memperbaiki rumah masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber pembiayaan. Karena itu, program tersebut melibatkan kementerian, lembaga pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha hingga masyarakat.
Kejati Sultra menggandeng Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk membantu pemberian sertifikat.
Sementara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman didorong untuk membantu mempercepat penyelesaian program bedah rumah.
Sugeng mengatakan, program tersebut juga diarahkan untuk melengkapi keterbatasan anggaran Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Menurut dia, bantuan BSPS sebesar Rp20 juta belum tentu cukup untuk menyelesaikan pembangunan rumah secara keseluruhan, terutama bagi hunian yang mengalami kerusakan cukup berat.
“Kalau dari bantuan BSPS itu kan hanya Rp20 juta. Kalau rumah seperti ini, misalnya, nggak jadi. Nggak sesuai dengan tujuan. Tapi maklum karena anggarannya terbatas,” kata Sugeng.
Untuk menutup kebutuhan tersebut, Kejati Sultra menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sultra.
Baznas menjadi lembaga yang menampung dan mengelola donasi maupun dukungan corporate social responsibility (CSR) perusahaan yang dihimpun melalui program tersebut.
Kejati Sultra bersama Pemerintah Provinsi Sultra dan para bupati/wali kota juga mendorong perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Sultra untuk ikut berkontribusi.
“Sultra kan luar biasa, perusahaannya gede-gede, SDA-nya kaya. Ini kita bangkitkan untuk semangat bersama membangun Sultra dengan bersama-sama program Gotong Royong Bedah Rumah,” jelas Sugeng.
Sejak diluncurkan, dana yang terkumpul dalam program tersebut disebut telah mencapai hampir Rp10 miliar.
Jumlah tersebut bahkan telah melampaui target awal sebanyak 200 unit rumah.
Dengan kebutuhan tambahan sekitar Rp30 juta per rumah, dana yang terkumpul diperkirakan dapat membantu sekitar 305 unit rumah.
“Padahal yang kita programkan awal targetnya pada saat peluncuran hanya 200. Tapi ini kami berharap terus berkembang,” kata Sugeng.
Ia berharap program Gotong Royong Bedah Rumah dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.
Termasuk masyarakat yang sebelumnya telah menerima bantuan BSPS, tetapi masih membutuhkan dukungan tambahan agar pembangunan rumah mereka dapat diselesaikan.
Sugeng mengajak masyarakat untuk ikut bergotong royong sesuai kemampuan masing-masing.
Menurutnya, kontribusi masyarakat tidak harus dalam jumlah besar.
“Siapapun kami undang untuk bergotong royong, Rp5 ribu, Rp10 ribu, Rp1 ribu, berapapun. Yang penting kita niati ini sebagai bakti kita, ibadah kita dan gotong royong kita untuk sesama,” tuturnya.
Ketua Baznas Sultra, Punardin, mengatakan Baznas akan menampung sekaligus mengelola dana yang terkumpul dari program tersebut.
Ia menyebut target awal yang dibahas bersama Kajati Sultra adalah 200 unit rumah. Namun, target tersebut berpotensi bertambah seiring dengan terus masuknya donasi.
“Setelah berjalan pengumpulan ternyata melebihi. Tadi ini kan masuk lagi Rp400 juta. Itu kalau kita bagi kurang lebih 13 unit lagi,” kata Punardin.
Baznas Sultra selanjutnya akan berkoordinasi dengan Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Sulawesi III untuk memperoleh data masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Program tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Sultra yang telah merencanakan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) secara bertahap di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.
Pada 2026, Pemprov Sultra menargetkan rehabilitasi berat sebanyak 602 unit rumah dengan alokasi anggaran mencapai Rp39 miliar. Program tersebut ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Bagi Rahman, bantuan itu bukan sekadar soal memperbaiki rumah yang retak atau mengganti bagian bangunan yang rapuh.
Di tengah kondisi kesehatan yang membuatnya tak lagi mampu bekerja dan keterbatasan ekonomi yang dihadapinya, rumah yang lebih layak menjadi harapan baru bagi Ketua RT 9 Mokoau tersebut untuk menjalani hari-hari ke depan.
Laporan: Ika Astuti



