?>
BERITA TERKINIDAERAHHEADLINE

Kisah Bu Indah Keluar dari Impitan Ekonomi, Ubah Tiap Jengkal Lahan Jadi Cuan dari Praktik Organik

×

Kisah Bu Indah Keluar dari Impitan Ekonomi, Ubah Tiap Jengkal Lahan Jadi Cuan dari Praktik Organik

Sebarkan artikel ini
Padi organik dengan label Beras Anoa dikembangkan lewat metode SRI merupakan bagian program pembinaan PT Vale Indonesia IGP Pomalaa dengan petani Kolaka. Brand padi organik tersebut dijajakan selama Gebyar UMKM HIPMI Acceleration 2025 di kawasan Eks MTQ Kendari.

LAJUR.CO, KOLAKA – Dulu, halaman rumah Bu Indah Susanti di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), hanya dipenuhi rumput. Sawah seluas 30 are milik keluarganya pun belum memberikan hasil yang berarti.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas berubah drastis sejak Bu Indah masuk dalam kelompok ekosistem pemberdayaan PT Vale Indonesia IGP Pomalaa. Ibu rumah tangga 43 tahun itu tak lagi harus memutar otak sekadar untuk memenuhi kebutuhan dapur harian. Di tangannya, tiap jengkal lahan jadi cuan.

Dari halaman rumah, Bu Indah dan suami bisa memanen cuan dari tanaman herbal kemasan, menjual sayuran pekarangan hingga mengolah sampah organik menjadi kompos. Dapur keluarga pun kian mengepul dari hasil budidaya padi organik.

Diakui Bu Indah, sawah padi organik menjadi tumpuan utama karena memberikan pemasukan dengan nominal paling besar. Dari lahan yang sama, padi organik yang ditanamnya bisa menghasilkan sekitar Rp12 juta untuk satu kali musim tanam. Padahal sebelumnya, ia hanya mampu meraup Rp4,5 juta-Rp5 juta dari produksi padi konvensional.

“Kalau dikonversi, 30 are itu hanya mendapat cuan sekitar Rp4,5 juta atau Rp5 juta. Sementara kalau saya nanam varietas Arumba Merah, itu bisa sekitar Rp12 juta,” ujar Bu Indah, Selasa (29/9/2026).

Perubahan tersebut tidak datang dalam semalam. Bu Indah merupakan salah satu petani binaan PT Vale Indonesia di wilayah Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa yang mendapatkan pendampingan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Salah satu program yang ia ikuti adalah Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB). Bersama Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok), ia mulai akrab dengan pertanian padi organik yang mengadopsi pendekatan System of Rice Intensification (SRI).

Program pertanian padi organik di Kolaka mulai dikembangkan PT Vale sejak akhir 2021. Melalui program tersebut, petani tidak hanya diajarkan cara menanam dan memanen, tetapi juga memahami tanah, air, serangga, pupuk hingga keseimbangan ekosistem. Pada 2023, tercatat 16 petani aktif di Kecamatan Baula mengikuti program Padi SRI Organik dengan luasan mencapai 5,49 hektare.

Sebelum mengikuti program tersebut, Bu Indah mengaku tak begitu akrab dengan Menthik Susu, Arumba Merah maupun Jeliteng Hitam, tiga varietas padi yang dibudidaya secara organik. Ia juga terbiasa mengandalkan pupuk kimia dan obat pembasmi hama yang dibeli dari toko.

“Dulu kami bergantung penuh di toko. Pokoknya ada lubang sedikit, kami ke toko cari racun. Kalau sekarang kami mengamati dulu, ini lubang karena apa. Ibarat kata, kita diajar hidup berdampingan dengan alam,” katanya.

Baca Juga :  Jeux Funbet Faites Vos Paris Amusants

Di Vale, ia mulai belajar memahami hubungan antara tanaman, serangga, tanah dan ekosistem. Ketika menemukan tanaman berlubang, tidak serta-merta dibasmi dengan pestisida. Ada teknik aman melawan serangan hama.

“Kami jadi peneliti di kebun (sawah, red) kami, kami jadi peneliti di tanah kami. Dulu sedikti-sedikit ke toko, beli racun. Padahal hama tertentu kalau dibiarkan sebetulnya masih aman,” kenangnya.

Dengan pendekatan tersebut, Bu Indah bersama suaminya mengembangkan tiga varietas padi organik, yakni Menthik Susu, Arumba Merah dan Jeliteng Hitam. Harga jual Menthik Susu saat ini sekitar Rp24 ribu per kilogram, sedangkan Arumba Merah dan Jeliteng Hitam sekitar Rp35 ribu per kilogram.

Biaya produksi pun ikut ditekan. Bu Indah dan kelompoknya dilatih membuat pupuk padat serta pupuk organik cair menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai bahan kompos, sedangkan starter dibuat sendiri melalui fermentasi nasi menjadi mikroorganisme lokal atau MOL.

Menurut Bu Indah, ketergantungannya terhadap produk pertanian dari toko kini tinggal sekitar 20 persen. Perubahan itu membuat biaya yang sebelumnya banyak tersedot untuk membeli pupuk dan pembasmi hama bisa ditekan.

Hasil panen padi organik tersebut kini juga telah memiliki pasar sendiri. Bu Indah tidak lagi hanya menjual beras ketika panen tiba, tetapi sudah mempunyai pelanggan tetap yang rutin memesan. Dalam sebulan, penjualan bisa mencapai sekitar 1 ton.

Mayoritas pelanggan berasal dari Kolaka dan sekitarnya. Sesekali beras tersebut dikirim ke luar daerah, seperti Toraja hingga Kalimantan. Beras organik diproduksi petani secara kolektif dibawa ke workshop dekat rumah Bu Indah. Beras selanjutnya disortir, dikemas, lalu dipasarkan melalui jaringan pelanggan dan status WhatsApp.

Salah satu kelompok pelanggan tetapnya berasal dari keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Bu Indah kini memasok beras kepada sekitar 20 anak dari Yayasan Kasih Bunda. Menurut Bu Indah, para orang tua tersebut memilih beras organik karena ingin menyediakan pangan yang proses budidayanya mereka ketahui, termasuk beras yang dihasilkan melalui proses pertanian organik tanpa penggunaan bahan kimia.

Karena kebutuhan tersebut berlangsung rutin, Bu Indah selalu menyisihkan stok agar pasokan tidak terputus. Bagi pelanggan yang telah mengandalkan beras tersebut untuk kebutuhan konsumsi keluarganya, ketersediaan menjadi hal yang ia jaga.

“Kalau sekarang stok untuk anak-anak itu sudah harus ada,” katanya.

Perjalanan menuju pertanian organik tidak selalu mulus. Pada masa awal beralih dari sistem konvensional, Bu Indah sempat merasa gagal lantaran hasil pertanian organik bergerak lambat. Ia bahkan pernah menangis di sawah lantaran beban moril mempertahankan pola pertanian baru di tengah kelompok masyarakat yang terbiasa menanam padi konvensional.

Baca Juga :  Berkaca dari Petaka di Sultra, KAHMI Desak Larangan Tambang di Pulau Kecil Masuk RUU Kepulauan

“Saya menangis sambil memperbaiki tanaman saya. Saya katakan, ‘Oh, ternyata anggota saya ini yang dirasakan.’ Tapi saya sudah bilang suara saya paling kencang, masa saya mundur gara-gara satu hantaman,” tuturnya.

Ia memilih bertahan. Menurut Bu Indah, salah satu alasan yang membuatnya mampu melewati masa sulit tersebut adalah pendampingan intensif dari tim PT Vale. Pendamping tidak sekadar datang melihat perkembangan program atau mengambil dokumentasi, tetapi ikut bekerja bersama petani.

“Kami di sawah, mereka juga ke sawah. Kami kepanasan, mereka kepanasan. Mereka kehujanan, kami juga kehujanan. Jadi susah senang bersama,” katanya.

Setelah sawah menjadi sumber penghasilan utama, cerita Bu Indah berlanjut ke halaman rumah. Jauh sebelum mengenal pertanian organik, ia sebenarnya sudah gemar bercocok tanam. Namun, aktivitas tersebut sebatas hobi tanpa tahu bagaimana mengubah hasilnya menjadi pemasukan.

“Awalnya saya memang hobi menanam, tapi menanam asal-asalan, ibarat kata yang tidak begitu menghasilkan,” katanya.

Pada 2022, Bu Indah bersama ibu-ibu lainnya mulai mendapatkan edukasi mengenai tanaman herbal dari PT Vale. Mereka diperkenalkan berbagai jenis tanaman herbal. Banyak yang tidak familiar, bahkan ada yang lumrah dianggap rumput.

Pendampingan tidak berhenti pada cara menanam. Mereka juga belajar memanen, mengeringkan, meracik, mengemas hingga memberi label pada produk herbal.

“Sebelumnya saya tidak mengerti tentang obat-obatan selain kunyit. Kalau kunyit dulu kita cuma pakai untuk obat maag karena suami saya konsumsi itu. Setelah datang Vale, kami diedukasi dan diajarkan berbagai macam tanaman herbal,” tuturnya.

Ibu Indah Susanti, warga Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, menunjukkan produk jamu herbal dari tanaman pekarangan rumah yang kini menjadi sumber cuan bagi keluarganya. Ia tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) dan menjadi penerima manfaat Program Pemberdayaan Masyarakat PT Vale Indonesia IGP Pomalaa.
Ibu Indah Susanti, warga Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, menunjukkan produk jamu herbal dari tanaman pekarangan rumah yang kini menjadi sumber cuan bagi keluarganya. Ia tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) dan menjadi penerima manfaat Program Pemberdayaan Masyarakat PT Vale Indonesia IGP Pomalaa.

 

Kini, Bu Indah dan kelompoknya memproduksi sekitar 10 jenis produk herbal. Di antaranya herbal untuk asam urat, diabetes, hipertensi, asam lambung, batu saluran kencing, ambeien, nyeri lutut, gula darah, kolesterol, serta teh relaksasi.

Produk tersebut dijual sekitar Rp20 ribu-Rp25 ribu per kemasan. Menurut Bu Indah, pesanan paling banyak datang untuk produk herbal asam urat.

Pemasarannya masih dilakukan secara sederhana. “Biasanya saya posting saja di status WhatsApp,” ujar Bu Indah.

Pelanggan datang dari berbagai wilayah, termasuk Pomalaa dan Kolaka. Di Desa Puuroda sendiri, sekitar tiga perempuan terlibat dalam aktivitas herbal, mulai dari produksi hingga pemasaran. Sementara ibu-ibu lainnya tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT).

Meski memberikan tambahan pemasukan, Bu Indah tidak menempatkan herbal sebagai sumber pendapatan terbesar. Sawah tetap menjadi penopang ekonomi utama karena menghasilkan nominal paling besar setiap musim panen. Sebaliknya, tanaman pekarangan, herbal dan sayuran membantu menghadirkan income rutin harian.

Baca Juga :  7 Minuman Pembersih Ginjal, Yuk Jaga Organ Vital

Pada musim kemarau, ia menyesuaikan tanaman yang dibudidayakan. Seledri menjadi salah satu pilihan karena dinilai lebih mampu bertahan dalam kondisi panas. Ketika produksi berjalan normal, Bu Indah mengaku bisa memperoleh sedikitnya Rp100 ribu per hari dari penjualan tanaman pekarangan, termasuk seledri. Satu pot tanaman herbal bisa dihargai mulai Rp5 ribu hingga Rp20 ribu.

“Pekarangan semua kami tanamkan herbal dan sayur-sayur. Kalau musim kemarau ini banyak yang kering tanaman. Jadi ke seledri dulu. Dari tanaman herbal dan sayur di polibag, sampai kebun, rumah kompos saya, terus sawah saya, itu menghasilkan cuan. Jadi ibarat kata, dari pekarangan aroma cuan itu sudah tercium,” ujarnya sambil tertawa.

Rumah kompos menjadi sumber pemasukan berikutnya. Kompos yang dibuat untuk kebutuhan pertanian sendiri sebagian dijual kepada warga sekitar dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram. Pembayarannya pun fleksibel, ada yang tunai dan ada pula yang mencicil.

Dengan demikian, hasil dari pekarangan bukan hanya memberi uang tunai untuk kebutuhan harian, tetapi juga membantu menekan biaya produksi pertanian. Bahan kompos berasal dari sampah organik rumah tangga, sementara kebutuhan pupuk untuk sawah, kebun dan tanaman pekarangan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada produk dari toko.

Dampak perubahan tersebut dirasakan langsung dalam kehidupan keluarga. Bu Indah mengaku telah membeli dua unit sepeda motor dan mampu membiayai pendidikan anak hingga selesai kuliah.

“Dulu jangankan meminjamkan ke tetangga, untuk hidup kami sendiri saja belum tentu. Sekarang kalau tetangga butuh, sudah bisa keluar dari kantong,” ujarnya.

Sekitar 27 tahun menetap di kawasan lingkar tambang, Bu Indah mengakui program pemberdayaan masyarakat PT Vale memberi perubahan berarti dalam kehidupan masyarakat sekitar sana. Ia bukan hanya memperoleh tambahan penghasilan, tetapi juga pengetahuan yang membuatnya lebih mandiri mengelola lahan.

“Bagi saya, peningkatan ekonomi saya itu naik 100 persen. Dari awal saya tidak tahu apa-apa,” katanya.

Pengetahuan tersebut kemudian ia teruskan kepada warga lain. Di desanya, Bu Indah menjadi salah satu penggerak pertanian organik sekaligus ikut menyemangati para ibu rumah tangga memanfaatkan pekarangan agar menghasilkan.

Kini, sumber cuan itu datang dari berbagai arah. Sawah menjadi penopang utama dengan hasil terbesar. Pekarangan menghasilkan sayuran dan tanaman herbal untuk pemasukan harian. Rumah kompos memberikan tambahan pendapatan sekaligus menekan biaya produksi. Semuanya bermula dari lahan yang sebelumnya nyaris tak menghasilkan apa-apa.

“Karena Vale, kami bisa menopang hidup kami tanpa harus menunggu bantuan-bantuan,” ujar Bu Indah.

 

Laporan: Siti Marlina

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>