?>
BERITA TERKINIEKOBISHEADLINE

Terniat! Dosen dan Dua Mahasiswa UHO Kompak Borong Penghargaan Forkestra BI Sultra 2026

×

Terniat! Dosen dan Dua Mahasiswa UHO Kompak Borong Penghargaan Forkestra BI Sultra 2026

Sebarkan artikel ini

LAJUR.CO, KENDARI – Pepatah “usaha tak mengkhianati hasil” tepat menggambarkan capaian dosen dan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari dalam ajang Forum Ekonomi Sulawesi Tenggara (Forkestra) 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Sultra.

Bukan sekadar membawa nama almamater, ketiganya sukses memborong sejumlah penghargaan dalam kompetisi gagasan ekonomi yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sultra.

Mereka yakni Rizal Adi Saputra, dosen Fakultas Teknik UHO, serta dua mahasiswa semester tujuh, Zaid Alkhairin Tri Putra dari Jurusan Teknik Informatika dan Aulia Muchsira dari Jurusan Akuntansi.

Zaid Alkhairin Tri Putra dan Aulia Muchsira berhasil meraih juara 1 pada Lomba Opini dan Karya Ilmiah melalui gagasan berjudul “SOLARVISION: Model Tata Kelola Energi Adaptif Berbasis Digitalisasi untuk Akselerasi PLTS Atap di Kawasan Industri Morosi”. Karya tersebut berhasil memenangi kategori Inovasi Sains dan Teknologi serta Tata Kelola Pemerintahan Adaptif. Keduanya sekaligus mengantarkan UHO meraih predikat juara umum kategori mahasiswa Forkestra 2026.

Sementara Rizal selaku dosen pembimbing mendapat penghargaan sebagai Dosen Terinspiratif. Fakultas Teknik UHO ikut dinobatkan sebagai Fakultas Terinovatif oleh BI Sultra.

Penghargaan tersebut diumumkan pada puncak Forkestra 2026 bertajuk ‘Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sultra yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global”, Senin (5/10/2026). Event digagas BI Sultra diisi seminar nasional, pengumuman pemenang opini ilmiah, showcase UMKM unggulan, serta edukasi interaktif.

Baca Juga :  Tampil di Urban Climate Forum UCLG ASPAC, Wagub Hugua Dorong Adopsi Kota Ramah Lingkungan

Rizal mengatakan pencapaian tersebut tidak diraih secara instan. Persiapan telah dilakukan sejak April, bahkan sebelum rangkaian Forkestra 2026 resmi dibuka.

“Ini sudah ketiga kalinya kami ikut, tapi baru kali ini memang kita lebih fokus dan lebih niat. Kami sudah mempersiapkan dari sekitar bulan April, bahkan saat Forkestra belum dibuka,” kata Rizal.

Menurut dia, Forkestra menjadi ruang positif bagi mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan kapasitas di luar aktivitas akademik. Peserta tidak hanya dituntut menghasilkan karya, tetapi juga dilatih membaca persoalan sosial dan ekonomi yang berkembang di lingkungan sekitar.

“Ini adalah wadah yang bagus buat mahasiswa dan juga dosen untuk berkegiatan di luar kampus. Mahasiswa jadi terbiasa berpikir kritis, melatih kepekaan terhadap isu-isu sosial di sekitarnya, serta bagaimana berkolaborasi antara akademisi dengan stakeholder,” ujarnya.

Zaid mengaku antusias dapat ambil bagian dalam Forkestra 2026. Mahasiswa Teknik Informatika UHO tersebut mengatakan karya yang mereka usung berangkat dari isu inovasi sains dan teknologi.

“Saya sangat excited terhadap kegiatan Forkestra ini, di mana Forkestra banyak menggaungkan ekonomi dari Sultra itu sendiri,” kata Zaid.

Aulia juga mengaku bahagia atas capaian yang diraih bersama rekannya. Sejak awal, keduanya telah memasang target cukup tinggi dalam mengikuti kompetisi tersebut.

“Experience saya selama mengikuti Forkestra ini tentunya sangat baik sekali, sangat bahagia. Dari awal kami memang membuat ekspektasi yang lumayan tinggi untuk ini,” ujar Aulia.

Baca Juga :  Mahasiswa Asal Pakistan Cerita Culture Shock Kuliah di UIN, Sekarang Jago ‘Mi’ Logat Kendari

Prestasi UHO tersebut menjadi bagian dari semarak Forkestra 2026 yang melibatkan sembilan perguruan tinggi di Sultra.

Tahun ini, sebanyak 964 peserta mendaftar dalam rangkaian Forkestra, dengan 405 opini berhasil dihimpun. Jumlah tersebut meningkat 33,2 persen dibandingkan 2025 yang mencatat 304 opini.

Kepala Perwakilan BI Sultra Edwin Permadi mengatakan peningkatan partisipasi tersebut menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan mengenai arah perekonomian Sultra.

“Forkestra itu sebenarnya sudah enam kali, ini tahun keenam. Kita selalu mencari masukan dari teman-teman mahasiswa, masyarakat umum, akademisi, dan sebagainya, termasuk dari pemerintah daerah,” kata Edwin saat Bincang Bareng Media, Selasa (29/9/2026) malam.

Lima fokus utama menjadi perhatian dalam Forkestra tahun ini, yakni hilirisasi dan ketahanan pangan, konektivitas wilayah, inovasi dan tata kelola, ekonomi inklusif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Edwin menilai berbagai isu tersebut penting untuk membantu pemerintah melihat peluang sekaligus tantangan pembangunan ekonomi di daerah.

Salah satunya menyangkut hilirisasi pangan yang berkaitan erat dengan peningkatan nilai tambah komoditas lokal, penguatan pasokan, sekaligus upaya menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.

“Mana yang kira-kira bisa mendukung perekonomian kita, mendukung misalnya dari hilirisasi pangan supaya inflasi ke depan juga bisa kita tekan,” ujarnya.

Selain sektor pangan, ekonomi biru turut menjadi salah satu gagasan yang muncul dalam Forkestra 2026. Edwin mencontohkan karya ilmiah yang mengangkat potensi ekonomi biru di Wakatobi.

Baca Juga :  Melawan Stigma Profesi Jurnalis, Aqua Dwipayana Motivasi Wartawan Jadi 'Londo Ireng' yang Baik

Menurutnya, gagasan tersebut dapat diteruskan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis karakteristik wilayah.

“Nah, itu yang akan kita sampaikan. Kalau memang kita bisa ikut masuk, kita insyaallah juga bisa bantu,” katanya.

Forkestra 2026 tidak diarahkan sekadar menjadi kompetisi untuk mencari karya terbaik. BI Sultra berharap gagasan yang lahir dari mahasiswa, akademisi, masyarakat, maupun pemerintah dapat berkembang menjadi rekomendasi dan inovasi yang mendukung pembangunan daerah.

Pembukaan Forkestra 2026 turut dihadiri Wakil Gubernur Sultra Ir Hugua dan dibuka Kepala Perwakilan BI Sultra Edwin Permadi.

Bagi Rizal, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa persiapan matang dan kerja keras dapat menghasilkan capaian yang membanggakan. Ia berharap Forkestra pada penyelenggaraan berikutnya dapat membuka lebih banyak kategori peserta agar ruang kompetisi semakin luas.

“Kalau selama ini hanya membuka kategori umum dan mahasiswa, mungkin bisa diekspansi ke kategori lain, contohnya kategori pelajar. Yang umum juga boleh dipisahkan antara akademisi dan praktisi sehingga persaingannya lebih kompetitif,” tuturnya.

Sementara Edwin menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pers dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra.

“Tadi luar biasa ya, sudah ada masukan-masukan itu. Ada gagasan yang lebih bagus, kenapa tidak didukung,” pungkasnya. Adm

?>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

?>
?>