LAJUR.CO, KENDARI – Gagasan tentang masa depan ekonomi Sulawesi Tenggara terus mengalir. Sebanyak 405 opini masuk dalam Forum Ekonomi Sulawesi Tenggara (FORKESTRA) 2026. Jumlah itu berasal dari total 964 pendaftar yang mengikuti rangkaian kegiatan yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Dibandingkan 2025, jumlah opini yang masuk meningkat 33,2 persen, dari 304 opini menjadi 405 opini pada 2026.
Kenaikan ini menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyuarakan gagasan, menawarkan inovasi, sekaligus membaca persoalan ekonomi Sultra dari beragam sudut pandang.
Memasuki tahun keenam, FORKESTRA tidak hanya menjadi forum penyampaian hasil riset. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mendiseminasikan penelitian, membahas isu strategis, serta merumuskan rekomendasi kebijakan bersama para pemangku kepentingan.
Arah besarnya jelas: mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional yang berkualitas, inklusif, serta berkelanjutan.
Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, mengatakan FORKESTRA telah enam kali dilaksanakan. Forum tersebut konsisten membuka ruang bagi mahasiswa, akademisi, masyarakat umum hingga pemerintah daerah untuk menyampaikan pemikiran melalui karya tulis maupun karya ilmiah.
“FORKESTRA itu sebenarnya sudah enam kali, ini tahun keenam. Kita selalu mencari masukan dari teman-teman mahasiswa, masyarakat umum, akademisi, dan sebagainya, termasuk dari pemerintah daerah,” kata Edwin saat Bincang Bareng Media, Selasa (29/9/2026) malam.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya gagasan dihimpun dalam berbagai bentuk karya, FORKESTRA 2026 semakin diarahkan untuk menjawab persoalan yang dekat dengan kebutuhan pembangunan Sultra.
Tema besar yang diusung tahun ini adalah “Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sultra yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global.”
Tema tersebut diterjemahkan ke dalam lima fokus utama, yakni hilirisasi dan ketahanan pangan, konektivitas wilayah, inovasi dan tata kelola, ekonomi inklusif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kelima isu itu merepresentasikan tantangan sekaligus potensi ekonomi Sultra. Hilirisasi dan ketahanan pangan, misalnya, berkaitan dengan upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya daerah, memperkuat ketersediaan pangan, sekaligus membantu mengendalikan inflasi.
Edwin mencontohkan pentingnya gagasan terkait hilirisasi pangan karena sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan upaya menjaga pasokan dan menekan tekanan inflasi ke depan.
“Mana yang kira-kira bisa mendukung perekonomian kita, mendukung misalnya dari hilirisasi pangan supaya inflasi ke depan juga bisa kita tekan,” ujarnya.
Selain itu, isu ekonomi biru turut menjadi bagian dari gagasan yang berkembang dalam FORKESTRA. Edwin mencontohkan karya ilmiah yang mengangkat perekonomian biru di Wakatobi.
Gagasan semacam itu dapat disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan ekonomi berbasis karakteristik wilayah.
“Nah, itu yang akan kita sampaikan. Kalau memang kita bisa ikut masuk, kita insyaallah juga bisa bantu,” kata Edwin.
Di titik inilah FORKESTRA 2026 berupaya membawa riset lebih dekat dengan kebutuhan pembangunan.
Gagasan yang lahir dari mahasiswa dan masyarakat tidak diharapkan berhenti sebagai karya yang selesai setelah dinilai atau dipresentasikan. Lebih jauh, ide-ide tersebut diharapkan menjadi masukan bagi Pemerintah Provinsi Sultra maupun pemerintah kabupaten dan kota dalam merumuskan program pembangunan.
Rekomendasi yang dihasilkan juga diharapkan membuka ruang kolaborasi riset dan inovasi. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya mengejar angka, tetapi juga berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan.
Masuknya 405 opini tahun ini sekaligus memperlihatkan semakin besarnya ruang partisipasi publik dalam membicarakan arah ekonomi daerah.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak Juni 2026 melalui tahapan pendaftaran. Proses submit dan penjurian berlangsung hingga Agustus. Finalis kemudian diumumkan pada 18 September 2026.
Para finalis selanjutnya mempresentasikan gagasannya pada 24 September 2026. Namun, perjalanan FORKESTRA 2026 belum berakhir.
Puncak kegiatan akan berlangsung melalui seminar nasional pada 5 Oktober 2026. Agenda tersebut menghadirkan Xaviera Putri, figur Gen Z dan influencer, serta Irman Faiz, ekonom nasional.
Seminar itu sekaligus menjadi panggung terakhir sebelum pengumuman pemenang lomba opini FORKESTRA 2026.
Bagi BI Sultra, puncak acara bukan sekadar seremoni. Ada harapan agar gagasan yang telah terkumpul terus bergerak dan memberi dampak setelah forum berakhir.
Edwin menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia akademik, masyarakat, dan pers untuk bersama-sama memperkuat perekonomian Sulawesi Tenggara.
“Kita sama-sama untuk mendukung perekonomian. Kita dari pemerintah daerah, teman-teman pers,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai masukan yang muncul sepanjang rangkaian kegiatan. Menurutnya, gagasan yang memiliki potensi untuk dikembangkan patut mendapat dukungan.
“Tadi luar biasa ya, sudah ada masukan-masukan itu. Ada gagasan yang lebih bagus, kenapa tidak didukung,” lanjutnya. Adm



